JAWABLAH
SEMUA SOAL DI BAWAH DAN GUNAKAN KERTAS JAWABAN YANG BERBEDA UNTUK TIAP NOMOR
SOAL. DALAM MENGALOKASIKAN WAKTU SAUDARA, MAKA
PERHATIKANLAH NILAI/POIN TIAP SOAL
(TOTAL NILAI ADALAH 100 POIN)
Soal 27 September Tahun
2004
1) Buatlah
analisis grafis dan ekonomis, dengan menggunakan peralatan teori ekonomi makro,
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas kebijaksanaan fiskal dan
kebijakan moneter. Sebelum analisis dibuat, kemukakan terlebih dahulu ukuran
efektivitas dari kebijaksanaan fiskal dan moneter itu. (nilai 10 poin)
2) Apabila
Bank Indonesia memberlakukan kebijakan uang ketat dalam rangka mengurangi
jumlah uang yang beredar, Ceteris paribus (hal-hal lain dianggap tetap), maka
buatlah analisis ekonomi makro (Melalui analisis kurva IS dan LM) dampak
kebijakan pemerintah ini! Apa akibatnya bagi kinerja bisnis (15 poin)
3) Jelaskan
gagasan-gagasan utama (Main idea)
dari berbagai pemikiran ekonomi makro terutama dari aliran Keynesian, aliran Moneteris, aliran
makro ekonomi klassik baru (New Classical
Macroeconomics), serta aliran
makroekonomi Keynesian baru (New
Keynesianism) mengenai issue-issue pokok ekonomi makro berikut:
a)
Pandangan tentang ekonomi pasar (market economy). (nilai 5 poin)
b)
Penyebab ketidakstabilan dalam perekonomian
makro. (nilai 5 poin)
c)
Kebijaksanaan makroekonomi yang tepat (appropriate) (nilai
5 poin)
d)
Pengaruh kebijaksanaan moneter (money supply) terhadap perekonomian. (nilai 5 poin)
e)
Pandangan tentang velositas uang (velocity of money) (nilai 5 poin)
f)
Pengaruh kebijaksanaan fiscal terhadap
perekonomian (nilai 5 poin)
g)
Pandangan tentang cost push and demand full inflation. (nilai 5 poin)
(total nilai 35 poin)
4) Tulis
pula esey secara sistematik dan kaitkan dengan
perkembangan school of thoughts teori ekonomi (historical) tentang hal-hal
berikut:
a. Isu kelemahan
fondasi mikro dalam teori
ekonomi makro dewasa ini,
sehingga jelas pengamatan Saudara tentang posisi Keynesian dan new Keynesian
terutama ketika berhadapan dengan klasik
(monetarist) dan new classical
macroeconomics. (nilai 5 POINT)
b. Aggregate
supply function: neoclassical synthesis (New classical) vs Keynsian (New
Keynesian), sehingga jelas pengamatan Saudara tentang
kesalahan perspektif fondasi mikroekonomi untuk makroekonomi tentang derivasi
Kurva AS tersebut (15 POINT)
5) Dalam
analisis perekonomian terbuka (open
macroeconomic analysis), evaluasi asumsi, mekanisme dan efektivitas dampak
kebijaksanaan ekspansi moneter dalam regim
flexible (managed floating) exchange
rate. Kemudian,
tunjukkanlah argumentasi Saudara baik dengan
menggunakan framework analisis IS-LM
maupun Monetary Approach serta
Assets Approach sehingga jelas
perbedaan esensial tentang asumsi dan prosedur analisis antara pendekatan
tersebut dalam menjelaskan suatu fenomena yang sesungguhnya serupa yaitu terjadinya
potensi krisis BOP dan depresiasi exchange
rate. Lalu “Jika Saudara pengambil keputusan pada akhir bulan September ini
(paling tidak pertengahan Oktober keputusan benar-benar harus dibuat), yang
berhadapan dengan kondisi krisis neraca pembayaran (BOP) dengan cadanga devisa
yang sulit untuk membiayai tiga bulan impor
ke depan, maka keputusan apa saja yang Saudara harus buat, bagaimana
perkiraan Saudara tentang reaksi dunia bisnis, lembaga legislatif dan bahkan
eksekutif baru atas keputusan Saudara, Jelaskan! (nilai
20 POINT)
JAWABAN
1) Buatlah
analisis grafis dan ekonomis, dengan menggunakan peralatan teori ekonomi makro,
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas kebijaksanaan fiskal dan
kebijakan moneter. Sebelum analisis dibuat, kemukakan terlebih dahulu ukuran
efektivitas dari kebijaksanaan fiskal dan moneter itu. (nilai 10 poin)
Jawaban : Muana Nanga hal 189-194
Kebijakan fiskal
adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah melalui instrumen fiskal
seperti pengeluaran pemerintah, pembayaran transfer dan struktur pajak yang
ditujukan untuk mempengaruhi tingkat permintaan agregat (AD) dalam
perekonomian, terbagi atas atas 2, yaitu:
-
Kebijakan fiskal
diskresioner yaitu kebijakan pemerintah yang melakukan perubahan tingkat pajak
dan pengeluaran pemerintah. Dalam hal ini dapat bersifat ekspansif ataupun
kontraktif.
-
Kebijakan fiskal
mendiskresioner yaitu kebijakan yang menurunkan marginal propensity to spend
dari pendapatan nasional, sehingga mengurangi besarnya pengganda (multiplier)
Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan oleh
pemerintah atau otoritas moneter dengan menggunakan peubah jumlah uang yang
beredar (money supply) dan tingkat bunga untuk mempengaruhi AD dan mengurangi
ketidakstabilan perekonomian.
Dalam implementasinya kebijakan moneter juga dapat
bersifat ekspansioner (peningkatan money suply dan penurunan tingkat bunga)
atau kontraksioner (pengurangan money supply dan peningkatkan tingkat bunga).
Dampak kebijakan makroekonomi terhadap pendapatan atau
output nasional dapat digunakan Model IS dan LM dan Model Agregat Demand dan
Agregat Supply; AD dan AS.
a. Dampak kebijakan fiskal dengan asumsi ekspansif ataupun
kontraktif dapat dilihat pada gambar berikut:





LM
LM
E0
(a)
(b)
Keterangan:
a) Naiknya pengelauaran pemerintah mendorong kurva IS ke
kanan, yang berakibat terhadap naiknya pendapatan dari Y0 ke Y1 dan naiknya
tingkat bunga dari i0 ke i1 (Disebut kebijakan ekspansif).
b) Sebaliknya, penurunan pengeluaran pemerintah menggeser
kurva IS ke kiri, yang berakibat turunnya pendapatan dari Y0 ke Y1 dan turunnya
tingkat bunga dari i0 ke i1 (kebijakan kontraktif).
Kebijakan
fiskal ekspansif dan kontraktif dalam model AD - AS





AS AS
AD0
(a)
(b)
a) Meningkatnya pengeluaran pemerintah menyebabkan
permintaan agregat naik bergeser ke kanan dari AD0 ke Ad1 yang menyebabkan
pendapatn naik dari Y0 ke Y1 dan price / tingkat harga naik dari P0 ke P1.
b) Menurunnya pengeluaran pemerintah menyebabkan Agregat
Demand bergeser ke kiri, sehingga harga turun dari P0 ke P1 dan pendapatan
turun dari Y0 ke Y1.
B. Dampak Kebijakan Moneter
Ø Kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif



LM0
LM1 
I0 i1
i1
i0
(a)
(b)
a) Naiknya jumlah uang beredar menyebabkan AD naik. Kenaikan
dalam AD menggeser LM0 ke LM1 yang mengakibatkan tingkat bunga turun dari i0 ke
i1 dan pendapatan naik dari Y0 ke Y1.
b) Jumlah uang beredar menurun menyebabkan AD bergeser ke
kiri, akibatnya tingkat bunga naik dan pendapatan turun.
Kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif dalam model AD
– AS.
2) Apabila
Bank Indonesia memberlakukan kebijakan uang ketat dalam rangka mengurangi
jumlah uang yang beredar, Ceteris paribus (hal-hal lain dianggap tetap), maka
buatlah analisis ekonomi makro (Melalui analisis kurva IS dan LM) dampak
kebijakan pemerintah ini! Apa akibatnya bagi kinerja bisnis (15 poin)
Jawab:
Dalam
analisis keseimbangan di
pasar uang digunakan suatu kurva yang disebut
kurva LM. Kurva LM adalah tempat kedudukan
titik-titik
yang menghubungkan tingkat bunga
(i) dan pendapatan nasional (Y), dimana pasar uang dalam keadaan seimbang. (Suprayitno, 2005).
Sebagaimana kita ketahui
bahwa penawaran akan uang (Ms) adalah ditentukan
oleh pemerintah
atau dinyatakan tetap.
Menurut Mankiw perubahan
pendapatan akan mempengaruhi permintaan akan uang. Apabila
pendapatan naik, maka expenditure akan mengalami kenaikan,sehingga masyarakat banyak melakukan transaksi yang menggunakan
uang. Sehingga, kenaikan pendapatan
akan
mengakibatkan kenaikan permintaan akan uang. Hal ini dapat ditunjukkan
secara matematis sebagai berikut : (M/P)d = L
(r,Y).
Permintaan akan uang memiliki hubungan
negatif dengan tingkat
bunga dan memiliki
hubungan positif
dengan
pendapatan.
Menurut
Mankiw
penurunan
kurva LM dapat ditunjukkan pada gambar
3 berikut ini.

Dari gambar 3 dapat kita lihat pada grafik a yang menunjukkan perubahan keseimbangan
pada pasar uang, dimana ketika pendapatan
mengalami kenaikan sebesar Y1 ke Y2, maka akan
mengakibatkan kenaikan permintan uang, sehingga kurva Md bergerak
ke kanan. Hal ini juga mengakibatkan kenaikan tingkat bunga dari r1 ke r2. Perubahan
pada tingkat bunga tersebut
menunjukkan kurva lm yang ditunjukkan pada grafik b.hubungan antara tingkat bunga dengan pendapatan, ketika
pendapatan
mengalami kenaikan,
maka mengakibatkan
kenaikan tingkat bunga.
Menurut Mankiw untuk memahami bagaimana kebijakan moneter dapat mempengaruhi
pergerakan kurva LM digunakanlah teori liquidity preference.
3) Jelaskan
gagasan-gagasan utama (Main idea)
dari berbagai pemikiran ekonomi makro terutama dari aliran Keynesian, aliran Moneteris, aliran
makro ekonomi klassik baru (New Classical
Macroeconomics), serta aliran
makroekonomi Keynesian baru (New
Keynesianism) mengenai issue-issue pokok ekonomi makro berikut:
a.
Pandangan tentang ekonomi pasar (market economy). (nilai 5 poin)
b.
Penyebab ketidakstabilan dalam perekonomian
makro. (nilai 5 poin)
c.
Kebijaksanaan makroekonomi yang tepat (appropriate) (nilai
5 poin)
d.
Pengaruh kebijaksanaan moneter (money supply) terhadap perekonomian. (nilai 5 poin)
e.
Pandangan tentang velositas uang (velocity of money) (nilai 5 poin)
f.
Pengaruh kebijaksanaan fiscal terhadap
perekonomian (nilai 5 poin)
g.
Pandangan tentang cost push and demand full inflation. (nilai 5 poin)
(total nilai 35 poin)
Jawaban
(Muana Naga Hal 63 / buat dalam bentuk tabel) & LIHAT JAWABAN 25 JAN 2006
4) Tulis
pula esey secara sistematik dan kaitkan dengan
perkembangan school of thoughts teori ekonomi (historical) tentang hal-hal
berikut:
a. Isu kelemahan
fondasi mikro dalam teori
ekonomi makro dewasa ini,
sehingga jelas pengamatan Saudara tentang posisi Keynesian dan new Keynesian
terutama ketika berhadapan dengan klasik
(monetarist) dan new classical
macroeconomics. (nilai 5 POINT)
Jawab
: (Muana Nanga hal 41)
Isu
beberapa kelemahan (weaknesses) dari pandangan kaum klasik dengan mengatakan
bahwa (1). Penurunan di dalam tingkat bunga tidak akan secara otomatis
mendorong investasi bisnis secara memadai untuk mewujudkan kesempatan kerja
penuh (full employment). Keynes mengatakan bahwa rencana investasi oleh sektor
bisnis itu selain ditentukan oleh tingkat suku bunga , juga dipengaruhi atau
ditentukan oleh ekspektasi mengenai masa yang akan datang. (2) penurunan upah
uang (nominal) juga tidak memadai sebagai mekanisme koreksi terhadap masalah
pengangguran yang ada. Hal ini disebabkan karena penurunan upah nominal akan
ditentang keras oleh kaum buruh, yang memiliki posisi cukup kuat bersama
serikat buruhnya.
b. Aggregate
supply function: neoclassical synthesis (New classical) vs Keynsian (New
Keynesian), sehingga jelas pengamatan Saudara tentang
kesalahan perspektif fondasi mikroekonomi untuk makroekonomi tentang derivasi
Kurva AS tersebut (15 POINT)
Jawab :
Muana Nanga Hal 44
5) Dalam
analisis perekonomian terbuka (open
macroeconomic analysis), evaluasi asumsi, mekanisme dan efektivitas dampak
kebijaksanaan ekspansi moneter dalam regim
flexible (managed floating) exchange
rate. Kemudian,
tunjukkanlah argumentasi Saudara baik
dengan menggunakan framework analisis IS-LM maupun Monetary
Approach serta Assets Approach
sehingga jelas perbedaan esensial tentang asumsi dan prosedur analisis antara
pendekatan tersebut dalam menjelaskan suatu fenomena yang sesungguhnya serupa
yaitu terjadinya potensi krisis BOP dan depresiasi exchange rate. Lalu “Jika Saudara pengambil keputusan pada akhir
bulan September ini (paling tidak pertengahan Oktober keputusan benar-benar
harus dibuat), yang berhadapan dengan kondisi krisis neraca pembayaran (BOP)
dengan cadanga devisa yang sulit untuk membiayai tiga bulan impor ke depan, maka keputusan apa saja yang
Saudara harus buat, bagaimana perkiraan Saudara tentang reaksi dunia bisnis,
lembaga legislatif dan bahkan eksekutif baru atas keputusan Saudara,
Jelaskan! (nilai 20 POINT)
Jawab:
Kebijakan makro ekonomi dalam konteks perekonomian
terbuka, khususnya dalam kaitan dengan upaya mengoreksi ketidakseimbangan dalam
neraca pembayaran dibedakan kedalam dua jenis atau macam, yaitu:
(1) expenditure changing policies
adalah kebijakan yang mencakup kebijakan fiskal dan
moneter yang bertujuan untuk mempengaruhi tingkat permintaan (Aggregate Demand)
atau absorpsi dalam negeri yang terdiri dari pengeluaran konsumsi (C),
pengeluaran Investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G) di dalam perekonomian.
(2) expenditure switching policies
adalah kebijakan yang mencakup devaluasi yang ditujukan
untuk mengalihkan pengeluaran dari suatu negara dari barang luar negeri ke
barang dalam negeri atau dari barang dalam negeri ke barang luar negeri.
Modell
Mundell – Fleming merupakan versi model IS – LM untuk perekonomian terbuka yang
memasukkan pergerakan modal antar negara (international capital movement) ke
dalam model makro ekonomi formal. Model ini menunjukkan bahwa efek dari hampir
setiap kebijakan ekonomi (economic policy) pada sebuah “small open economy”
bergantung pada regim atau sistem nilai tukar (exchange rates) yang dianut oleh
suatu perekonomian yang terdiri dari regim nilai tukar tetap (fixed exchange
rate regim) dan regim nilai tukar fleksibel (flexible exchange rate
regim) atau dapat dikatakan bahwa keefektifan dari kebijakan fiskal dan
moneter dalam mempengaruhi pendapatan agregat bergantung pada regim nilai
tukar. Di bawah regim nilai tukar mengambang atau fleksibel (floating or
flexible exchange rate regim) hanya kebijakan moneter yang efektif, dalam arti yang
dapat mempengaruhi pendapatan. Sebaliknya, dibawah sistem atau regim nilai
tukar tetap (fixed exchange rate regim) hanya kebijakan fiskal yang
dapat mempengaruhi pendapatan.
Secara umum, sistem atau regim nilai tukar dapat
dibedakan atas dua ekstrim sistem, yaitu:
1) sistem nilai tukar fleksibel atau mengambang (flexible or floating
exchange rate system) yaitu suatu sistem dimana penentuan nilai tukar atau
kurs diserahkan kepada mekanisme pasar, yaitu oleh kekuatan penawaran dan
permintaan di dalam pasar valuta asing (foreign exchange market). Kalau
penentuan kurs atau nilai tukar mata uang itu sama sekali tanpa campur tangan
pemerintah atau dengan kata lain benar-benar mengambang secara bebas (freely
floating), maka sistem nilai tukar itu dinamakan “clean float system”.
Tetapi kalau penentuan nilai tukar atau kurs di bawah regim nilai tukar
fleksibel terdapat campur tangan pemerintah, maka sistem nilai tukar yang
demikian dinamakan “Dirty float system” dan inilah yang sering disebut
sebagai sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating exchange
rate system).
2) Sistem nilai tukar tetap (fixed excfhange rate system) yaitu suatu
sistem dimana kurs atau nilai tukar mata uang itu ditetapkan oleh Bank Sentral
dan pemerintah sebagai otoritas moneter di dalam suatu negara, sehingga
kadang-kadang sistem nilai tukar yang demikian juga sering disebut dengan
istilah “pegged exchange rate system”
Berdasarkan pada sistem atau regim nilai tukar yang telah dijelaskan di
atas, maka untuk menganalisis dampak dari kebijakan “makro ekonomi” di dalam
perekonomian terbuka akan digunakan model Mundell – Fleming (Mundell –
Fleming model) sebagai kerangka analisis, dimana perekonomian yang ditelaah
diasumsikan sebagai “small open economy”. Untuk melihat lebih jelas, bagaimana
dampak kebijakan ekonomi, yakni kebijakan fiskal, moneter dan kebijakan
devaluasi dibawah regim nilai tukar tetap, maka berikut ini akan dijelaskan
satu persatu:
Diasumsikan
otoritas moneter menerapkan / menjalankan suatu kebijakan moneter yang ekspansif,
yakni dengan menambah jumlah uang beredar (Ms) dari Ms0 ke Ms1, maka
menyebabkan kurva LM bergeser ke kanan dari LM0 ke LM1, begitu pula titik
keseimbangan akan berpindah dari E0 ke E1 dan bersamaan dengan itu tingkat
bunga akan turun dari L0 ke L1 dan pendapatan akan naik dari Y0 ke Y1.
Selanjutnya oleh karena titik keseimbangan Ei berada disebelah kanan dari kurva
BOP, maka sebagai akibat dari kenaikan jumlah uang beredar telah menyebabkan
perekonomian sekarang berada dalam sitausi defisit. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa walaupun kebijakan moneter ekspansif mampu membawa kenaikan
didalam pendapatan, namun sebagai akibat dari penurunan tingkat bunga yang
mendorong terjadinya aliran kapital keluar (capital outflow). Secara
besar-besaran, maka sebagai dampak akhirnya perekonomian akan masuk kedalam,
suatu defisit neraca pembayaran.
Gambar
berikut dan kesimpulan yang dapat ditarik bahwa kebijakan moneter dibawah
sistem nilai tukar tetap dengan mobilitas kapital yang sempurna adalah tidak
efektif (in effective).
(i)
LM0 (MS0)
LM1 (Ms1)
E0
IS
Selanjutnya
akan dijelaskan dampak kebijakan moneter dibawah regim nilai tukar tetap untuk
kasus No Capital Mobility (tidak ada mobilitas kapital).
Bahwa dalam regim nilai tukar tetap dimana tidak
terdapat mobilitas kapital, kebijakan moneter ekspansif menyebabkan kurva LM
bergeser ke kanan, yang mengakibatkan tingkat bunga turun dan pendapatan naik.
Dalam kondisi seperti ini, perekonomian mengalami neraca pembayaran yang
semakin memburuk. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut, dimana dapat
dilihat bahwa posisi mula-mula dari perekonomian berada di titik E kemudian
dengan adanya kebijakan moneter yang ekspansif, perekonomian bergerak ke titik
M. Dengan pendapatan yang lebih tinggi, maka berarti BOP juga semakin besar dan
trade defisit juga akhirnya akan menjadi semakin besar pula. (Keterangan gambar
dapat dilihat pada halaman berikut).
Apa yang telah dijelaskan diatas merupakan dampak
kebijakan moneter dibawah regim nilai tukar tetap dengan kasus imperfect
capital mobility, perfect capital mobility dan kasus no capital mobility. Untuk
melihat efektivitas kebijakan-kebijakan yang diambil atau dijalankan oleh pemerintah
terkait dengan regim nilai tukar dan kasus sebagaimana yang telah dijelaskan di
atas, maka berikut ini akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal dibawah regim
nilai tukar tetap berdasarkan pendekatan ketiga kasus di atas, sebagai
perbandingan yang dapat dijadikan dasar untuk melihat mana dari kedua kebijakan
pemerintah yang paling efektif atau efektif dijalankan.
Yang pertama akan dijelaskan atau digambarkan dampak
kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar tetap atau digambarkan dampak
kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar tetap untuk kasus imperpect capital
mobility, bahwa diandaikan (diasumsikan) pemerintah menerapkan suatu kebijakan
fiskal yang ekspansif, misalnya dengan menigkatkan pengeluarannya (G) dari Go
ke G1, maka akan menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan dari Lso (Go) ke LS1
(G1). Hal ini mengakibatkan tingkat bunga naik dari Lo ke L1 dan pendapatan
juga naik dari Yo ke Y1. Tetapi akibat dari naiknya tingkat bunga tersebut,
akan terjadi aliran modal masuk (capital inflow) secara besar-besaran yang pada
gilirannya akan menyebabkan neraca pembayaran (BOP) mengalami surplus.
Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa kebijakan
fiskal ekspansif akan mendorong pendapatan dan tingkat bunga naik, tetapi dalam
kondisi dimana BOP lebih landai dari kurva LM, maka kebijakan fiskal ekspansif
tersebut akan mendorong neraca pembayaran (BOP) itu mengalami surplus, hal ini
dapat dilihat pada gambar berikut. Sebaliknya, kalau kurva LM lebih landai dari
kurva BOP akan mengalami defisit, hal ini dapat pula dilihat pada gambar
selanjutnya:
Tingkat bunga


BOP
LM![]() |
LM 
IS1
IS1
ISo
ISo
Kesimpulannya,
bahwa dampak kebijakan fiskal yang ekspansif terhadap BOP apakah akan surplus
atau defisit, sangat tergantung pada posisi relatif dari kedua kurva itu
ditentukan oleh elastisitas kedua kurva itu terhadap tingkat bunga.
Berikutnya
akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar tetap untuk
kasus perfect capital mobility, bahwa diasumsikan pemerintah melakukan
kebijakan fiskal ekspansif dibawah sistem nilai tukar tetap dengan mobilitas
kapital yang sempurna, misalnya dengan menaikkan pengeluaran pemerintah dari Go
menjadi G1, maka akan menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan dari ISo (Go)
menjadi IS1 (G1). Akibatnya, tingkat bunga dalam negeri naik diatas tingkat
bunga luar negeri dan pendapatan juga naik dari Yo ke Y1 . naiknya tingkat
bunga dalam negeri mendorong terjadinya capital inflow secara besar-besaran.
Untuk
menjaga agar nilai tukar tidak berubah, maka Bank Sentral melakukan intervensi
dengan jauh membeli valuta asing. Sehingga menyebabkan jumlah uang beredar di
dalam negeri bertambah dan selanjutnya akan menggeser didalam negeri bertambah
dan selanjutnya akan menggeser kurva LM ke kanan dari Lmo (MSo) ke LM1 (MS1).
Akibat selanjutnya adalah tingkat bunga dalam negeri akan kembali sama dengan
tingkat bunga luar negeri dan pendapatan akan naik dari Y1 ke Y2, sebagaimana
dapat dilihat pada gambar berikut:

(i)
LMo
LM1
io E1
i = io Eo E2
IS1
ISo
0 Yo Y1
Y2
output (Y)
Selanjutnya akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal
dibawah regim nilai tukar. Kasus no capital mobility, bahwa kebijakan fiskal
yang ekspansif akan menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan yang diikuti pula
oleh naiknya tingkat bunga dan pendapatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar dibawah.
Tingkat bunga
BOP 
LM
IS1
ISo
0
Pendapatan (Y)
Posisi mula-mula sebelum terjadi ekspansi fiskal adalah
titik E, kemudian setelah pemerintah melakukan suatu kebijakan fiskal
ekspansif, misalnya melalui peningkatan pengeluaran (G), maka kurva IS akan
bergeser ke kanan dan meotong kurva LM pada titik F dan pada titik ini karena
pendapatan menjadi lebih besar dan akibatnya neraca pembayaran (BOP) akan
mengalami defisit yang semakin besar. Jadi kebijakan fiskal disini hanya
berpengaruh terhadap BOP melalui impor dan defisit neraca perdagangan.
Sebagai pelengkap dalam menganalisis efektivitas kebijakan
ekspansi moneter dan perbandingannya dengan efek kebijakan fiskal, baik dalam
regim fixed maupun regim fleksibel exchange rate, maka alangkah baiknya sebelum
kita lanjut melihat efektivitas kedua kebijakan pemerintah tersebut pada regim
nilai tukar fleksibel untuk ketiga kasus capital mobility, terlebih dahulu
melihat bagaiman dampak kebijakan devaluasi untuk kasus perfect capital
mobility.
Dampak dari kebijakan devaluasi untuk kasus tersebut
dapat dijelaskan bahwa dibawah sistem nilai tukar tetap, nilai tukar (exchange
rate) itu sendiri merupakan peubah kebijakan (policy variable) yang ditentukan
oleh atau berada dibawah kontrol langsung otoritas moneter, karena harga dalam
negeri tidak respon terhadap devaluasi, maka baik nilai tukar riil (real exchange
rates) maupun nominal (nominal exchange rates) akan mengalami depresiasi.
Ekspor dari home country akan menjadi lebih kompetitif dipasar dunia, sementara
impor akan menjadi lebih mahal didalam negeri dan oleh karena itu permintaan
agregat (AD) akan naik, hal ini akan mendorong kurva IS bergeser ke kanan dari
ISo ke IS1.
Oleh karena tingkat bunga ditentukan oleh tingkat bunga
dunia, maka kenaikan dalam tingkat bunga
dalam negeri akan mendorong terjadinya capital inflow. Selanjutnya, untuk menjaga
agar kurs tidak berubah maka bank sentral akan melakukan intervensi di pasar
valuta asing dengan membeli valuta asing dan hal ini selanjutnay akan
meningkatkan jumlah uang beredar di dalam negeri. Hal ini lebih jauh akan
mendorong kurva LM bergeser ke kanan dari LM ke LM1 dan akibatnya tingkat bunga
dalam negeri akan kembali sama dengan tingkat bunga dunia atau luar negeri dan
tingkat pendapatan naik dari Yo ke Y1, hal ini lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar berikut:

(i)
LMo
LM1
i = io Eo E1
IS1
ISo
Selanjutnya
akan dijelaskan dampak kebijakan makro ekonomi dibawah regim nilai tukar
fleksibel untuk ketiga kasus, yakni : kasus imperfect capital mobility, kasus
perfect capital mobility dan kasus no capital mobility.
Pertama,
akan dijelaskan dampak kebijakan moneter dibawah regim nilai tukar fleksibel
untuk kasus imperfect capital mobility yang mana diasumsikan otoritas moneter
(bank sentral) menerapkan jumlah uang beredar (Ms) dinaikkan dari Mso menjadi
MS1, maka akan menyebabkan kurva LM bergeser ke kanan dari Lmo ke LM1 dan
mengakibatkan titik keseimbangan akan bergeser Eo ke E1. Oleh karena titik
keseimbangan baru (E1) ini berada dibawah kurva BOP yang mula-mula yaitu BOP,
maka itu berarti neraca pembayaran (BOP) berada dalam keadaan defisit yang mana
didalam sistem nilai tukar fleksibel, hal ini akan mendorong nilai tukar atau
kurs mengalami depresiasi (artinya mata uang dalam negeri akan melemah terhadap
mata uang asing), dan hal ini akan menyebabkan kurva BOP bergeser ke kanan dari
ISo ke IS1. Akhirnya keseimbangan akan terjadi pada titik E2 dimana tingkat
pendapatan yang baru akan menjadi Y2 dan berada diatas Y1 yang merupakan titik
keseimbangan baru pada kasus sistem nilai tukar tetap untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada gambar berikut:
(i)
LMo LM1
BOP
io Eo
BOP
IS1
ISo
Berikutnya akan
dijelaskan dampak kebijakan moneter dibawah regim nilai tukar fleksibel untuk
kasus perfect capital mobility. Diasumsikan pemerintah atau otoritas moneter
menerapkan suatu kebiajkan moneter ekspansif, misalnya melali peningaktan dalam
jumlah uang beredar, maka sebagai akibatnya akan menyebabkan kurva LM bergeser
ke kanan dari LMo ke LM1. Hal ini akan mendorong tingkat bunga dalam negeri
turun dibawah tingkat bunga luar negeri dan turunnya tingkat bunga dalam negeri
pada gilirannya akan mendorong terjadinya capital outflow secara besar-besaran.
Adanya capital outflow secara besar-besaran akan menyebabkan nilai tukar atau
kurs mata uang dalam negeri mengalami depresiasi atau melemah terhadap mata
uang asing, dan melemahnya mata uang dalam negeri akan mendorong kurva IS bergeser
ke kanan, yaitu dari ISo ke IS1. Akibat selanjutnya adalah tingkat bunga dalam
negeri akan turun dan kembali sama dengan tingkat bunga luar negeri dan tingkat
pendapatan akan naik dari Y0 ke Y1, hal ini dapat dilihat pada gambar berikut:

(i)
LMo
LM1
io= i1 Eo E1
i1
IS1
ISo
Dan
selanjutnya akan dijelaskan dampak kebijaan moneter dibawah regim nilai tukar
fleksibel untuk kasus no capital mobility yakni apabila pemerintah atau
otoritas moneter melakukan suatu ekspansi moneter akan menyebabkan kurva LM
bergeser ke kanan, dan akibatnya tingkat bunga turun serta pendapatan naik.
Turunnya tingkat bunga dalam negeri akan menyebabkan defisit neraca perdagangan
di dalam perekonomian. Hal ini pada akhirnya akan mendorong depresiasi mata
uang dalam negeri yang selanjutnya akan kembali meningkatkan pendapatan (Y).
Tingkat bunga

(i) BOPo BOP1 LMo
LM1
io E B
IS1
ISo
0
output (Y)
Pada
gambar di atas dapat dilihat bahwa posisi mula-mula dari perekonomian adalah
dititik E, namun setelah dilakukan kebijakan moneter ekspansif, posisi
keseimbangan berpindah ke titik B yang merupakan titik keseimbangan akhir dari
perekonomian tersebut.
Untuk
melihat atau mengetahui kebijakan pemerintah yang mana yang lebih efektif atau
paling efektif dijalankan terkait dengan regim nilai tukar untuk ketiga kasus
di atas, maka berikut ini akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal dibawah regim
nilai bukan fleksibel yang dapat dijadikan perbandingan kedua kebijakan makro
ekonomi tersebut.
Berikut
ini akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar fleksibel
untuk kasus imperfect capital mobility. Diasumsikan pemerintah menjalankan
suatu kebijakan fiskal yang ekspansif, yaitu melalui peningkatan dalam
pengeluaran pemerintah (G) misalnya dari Go ke G1, maka akan menyebabkan kurva
IS bergeser dari ISo ke IS1, begitu pula titik keseimbangan akan bergeser dari
titik Eo ke E1. Dengan kurva BOP yang lebih landai daripada kurva LM, maka
titik E1 akan terletak diatas kurva BOP mula-mula yaitu BOPo, hal ini berarti
pada titik E1 tersebut, BOP akan berada dalam keadaan surplus. Kondisi ini akan
mendorong mata uang dalam negeri mengalami operasi (menuat), yang selanjutnya
akan menyebabkan kurva BO bergeser ke kiri dari BOPo ke BOP1 dan kurva IS
bergeser ke kiri dari ISo ke IS1.
Keseimbangan
akhir akan terjadi pada titik E2 dimana tingkat bunga dan pendapatan
masing-masing adalah I2 dan Y2, hal ini dapat dilihat pada gambat berikut.
Selanjutnya dapat pula dilihat bahwa kebijakan fiskal ekspansif dibawah sistem
nilai tukar feksibel khususnya bila kurva LM-nya lebih landai daripada BOP
sebagaimana dapat dilihat pada gambar selanjutnya, lebih efektif daraipada
dibawah sistem nilai tukar tetap, dimana kenaikan pendapatan ke Y2 adalah lebih
besar daripada Y1.
Selanjutnya akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal
dibawah regim nilai tukar fleksibel untuk kasus perfect capital mobility dimana
diasumsikan bahwa dengan adanya kenaikan pengeluaran pemerintah (G) maka
menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan dari ISo ke IS1. Akibatnya tingkat bunga
dalam negeri akan naik diatas tingkat bunga luar negeri yaitu ia ke ii, dan hal
ini mendorong terjadinya capital inflow akan menyebabkan nilai tukar mata uang
dalam negeri mengalami depresiasi (menguat) dan selanjutnya akan mendorong
kurva IS1 ke IS2, akibatnya tingkat bunga
domestik akan kembali sama dnegan tingkat bunga luar negeri dan
pendapatan tetap tidak mengalami perubahan yaitu Yo.
Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
kebijakan fiskal ekspansif didalam sistem nilai tukar fleksibel dengan
mobilitas kapital yang sempurna jelas adalah tidak efektif. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

(i) LM
io= i1 Eo
IS1
ISo = IS2
0 Yo output (Y)
Yang
terakhir, dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar fleksibel untuk
kasus no capital mobility. Dibawah regim nilai tukar fleksibel dimana tidak
terdapat mobilitas kapital (no capital mobility) kebijakan fiskal yang ekspansif
akan menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan dan akibatnya tingkat bunga dan
pendapatan akan mengalami kenaikan. Tanpa mobilitas kapital, akan menyebabkan
defisit perdagangan dititik A1, hal ini akan mendorong depresiasi mata uang
dalam negeri yang selanjutnya akan merangsang depresiasi mata uang dalam negeri
yang selanjutnya akan merangsang ekspor dan kenaikan pendapatan lebih lanjut
hingga mencapai titik B, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut
ini:
![]() |

(i) BOPo BOP1
E
IS1 IS2
ISo
0
output (Y)
Untuk
lebih jelasnya, secara singkat kaitan antara sistem nilai tukar (exchange rates
system), mobilitas kapital (capital mobility) dan keefektifan kebijakan fiskal
dan moneter dapat digambarkan bahwa kebijakan (instrumen) moneter pada kasus
mobilitas kapital sempurna untuk nilai tukar tetap adalah tidak efektif dan
untuk nilai tukar fleksibel adalah efektif, sementara pada kasus mobilitas
kapital tak sempurnua untuk nilai tukar tetap adalah efektif dan untuk nilai
tukar fleksibel adalah semakin efektif.
Pada kebijakan (instrumen) fiskal pada kasus mobilitas
kapital sempurna untuk nilai tukar tetap adalah efektif dan untuk nilai tukar
fleksibel adalah tidak efektif, sementara pada kasus mobilitas kapital tak
sempurna untuk nilai tetap adalah efektif dan untuk nilai tukar fleksibel
adalah semakin efektif.
Dari gambaran tersebut dalam memilih kombinasi
kebijakan makro ekonomi yang akan dijalankan didalam memecahkan masalah makro
yang ada, Robert Mundell mengemukakan apa yang dewasa ini dikenal secara luar
dengan Mundell-assignment solution, yang mengatakan bahwa kebijaksanaan fiskal
ditetapkan untuk mencapai keseimbangan internal (internal balance),
sementara kebijakan moneter ditetapkan untuk mencapai keseimbangan eksternal (eksternal
balance).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar