Kamis, 12 November 2015

PRELIUM-6

JAWABLAH SEMUA SOAL DI BAWAH DAN GUNAKAN KERTAS JAWABAN YANG BERBEDA UNTUK TIAP NOMOR SOAL. DALAM MENGALOKASIKAN WAKTU SAUDARA, MAKA PERHATIKANLAH NILAI/POIN TIAP  SOAL (TOTAL  NILAI ADALAH 100 POIN)
Soal 27 September Tahun 2004
1)    Buatlah analisis grafis dan ekonomis, dengan menggunakan peralatan teori ekonomi makro, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas kebijaksanaan fiskal dan kebijakan moneter. Sebelum analisis dibuat, kemukakan terlebih dahulu ukuran efektivitas dari kebijaksanaan fiskal dan moneter itu. (nilai 10 poin)
2)    Apabila Bank Indonesia memberlakukan kebijakan uang ketat dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar, Ceteris paribus (hal-hal lain dianggap tetap), maka buatlah analisis ekonomi makro (Melalui analisis kurva IS dan LM) dampak kebijakan pemerintah ini! Apa akibatnya bagi kinerja bisnis (15 poin)
3)    Jelaskan gagasan-gagasan utama (Main idea) dari berbagai pemikiran ekonomi makro terutama dari  aliran Keynesian, aliran Moneteris, aliran makro ekonomi klassik baru (New Classical Macroeconomics),  serta aliran makroekonomi Keynesian baru (New Keynesianism) mengenai issue-issue pokok ekonomi makro berikut:
a)    Pandangan tentang ekonomi pasar (market economy). (nilai 5 poin)
b)   Penyebab ketidakstabilan dalam perekonomian makro. (nilai 5 poin)
c)    Kebijaksanaan makroekonomi yang tepat (appropriate(nilai 5 poin)
d)   Pengaruh kebijaksanaan moneter (money supply) terhadap perekonomian. (nilai 5 poin)
e)    Pandangan tentang velositas uang (velocity of money) (nilai 5 poin)
f)     Pengaruh kebijaksanaan fiscal terhadap perekonomian (nilai 5 poin)
g)   Pandangan tentang cost push and demand full inflation. (nilai 5 poin)
(total nilai 35 poin)

4)    Tulis pula esey secara sistematik dan kaitkan dengan  perkembangan  school of thoughts teori ekonomi (historical)  tentang hal-hal berikut:
a.    Isu  kelemahan  fondasi mikro dalam teori  ekonomi  makro dewasa ini, sehingga jelas pengamatan Saudara tentang posisi Keynesian dan new Keynesian terutama ketika berhadapan dengan klasik  (monetarist) dan new classical macroeconomics. (nilai 5 POINT)
b.    Aggregate supply function: neoclassical synthesis (New classical) vs Keynsian (New Keynesian), sehingga jelas pengamatan Saudara tentang kesalahan perspektif fondasi mikroekonomi untuk makroekonomi tentang derivasi Kurva AS  tersebut (15 POINT)
5)    Dalam analisis perekonomian terbuka (open macroeconomic analysis), evaluasi asumsi, mekanisme dan efektivitas dampak kebijaksanaan  ekspansi moneter dalam  regim flexible (managed  floating)  exchange  rate. Kemudian, tunjukkanlah   argumentasi Saudara  baik  dengan menggunakan  framework analisis IS-LM  maupun Monetary Approach serta Assets Approach sehingga jelas perbedaan esensial tentang asumsi dan prosedur analisis antara pendekatan tersebut dalam menjelaskan suatu fenomena yang sesungguhnya serupa yaitu terjadinya potensi krisis BOP dan depresiasi exchange rate. Lalu “Jika Saudara pengambil keputusan pada akhir bulan September ini (paling tidak pertengahan Oktober keputusan benar-benar harus dibuat), yang berhadapan dengan kondisi krisis neraca pembayaran (BOP) dengan cadanga devisa yang sulit untuk membiayai tiga bulan impor  ke depan, maka keputusan apa saja yang Saudara harus buat, bagaimana perkiraan Saudara tentang reaksi dunia bisnis, lembaga legislatif dan bahkan eksekutif baru atas keputusan Saudara, Jelaskan!  (nilai 20 POINT)
JAWABAN
1)    Buatlah analisis grafis dan ekonomis, dengan menggunakan peralatan teori ekonomi makro, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas kebijaksanaan fiskal dan kebijakan moneter. Sebelum analisis dibuat, kemukakan terlebih dahulu ukuran efektivitas dari kebijaksanaan fiskal dan moneter itu. (nilai 10 poin)
Jawaban : Muana Nanga hal 189-194
Kebijakan  fiskal adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah melalui instrumen fiskal seperti pengeluaran pemerintah, pembayaran transfer dan struktur pajak yang ditujukan untuk mempengaruhi tingkat permintaan agregat (AD) dalam perekonomian, terbagi atas atas 2, yaitu:
-          Kebijakan fiskal diskresioner yaitu kebijakan pemerintah yang melakukan perubahan tingkat pajak dan pengeluaran pemerintah. Dalam hal ini dapat bersifat ekspansif ataupun kontraktif.
-          Kebijakan fiskal mendiskresioner yaitu kebijakan yang menurunkan marginal propensity to spend dari pendapatan nasional, sehingga mengurangi besarnya pengganda (multiplier)
Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas moneter dengan menggunakan peubah jumlah uang yang beredar (money supply) dan tingkat bunga untuk mempengaruhi AD dan mengurangi ketidakstabilan perekonomian.
Dalam implementasinya kebijakan moneter juga dapat bersifat ekspansioner (peningkatan money suply dan penurunan tingkat bunga) atau kontraksioner (pengurangan money supply dan peningkatkan tingkat bunga).
Dampak kebijakan makroekonomi terhadap pendapatan atau output nasional dapat digunakan Model IS dan LM dan Model Agregat Demand dan Agregat Supply; AD dan AS.
a.     Dampak kebijakan fiskal dengan asumsi ekspansif ataupun kontraktif dapat dilihat pada gambar berikut:
Tingkat bunga (i)                                        Tingkat bunga (i)
                                              LM                                                         LM                   
       i1                                                     i0
        i0                                                    i1  
                                                                                                        E0                
                                    E0      E1                                          E1       
                          Yo        Y1     Y (Pendapatan)             Y1      Y0               Y                            
(a)                                                        (b)
Keterangan:
a)    Naiknya pengelauaran pemerintah mendorong kurva IS ke kanan, yang berakibat terhadap naiknya pendapatan dari Y0 ke Y1 dan naiknya tingkat bunga dari i0 ke i1 (Disebut kebijakan ekspansif).
b)    Sebaliknya, penurunan pengeluaran pemerintah menggeser kurva IS ke kiri, yang berakibat turunnya pendapatan dari Y0 ke Y1 dan turunnya tingkat bunga dari i0 ke i1 (kebijakan kontraktif).
Kebijakan fiskal ekspansif dan kontraktif dalam model AD - AS
Tingkat bunga (i)                                        Tingkat bunga (i)
                                              AS                                                         AS                   
       i1                                                     i0
        i0                                                    i1  
                                                                                                        AD0                
                                    AD0      AD1                                          AD1       
                          Yo        Y1     Y (Pendapatan)             Y1      Y0               Y                            
(a)                                                        (b)
a)    Meningkatnya pengeluaran pemerintah menyebabkan permintaan agregat naik bergeser ke kanan dari AD0 ke Ad1 yang menyebabkan pendapatn naik dari Y0 ke Y1 dan price / tingkat harga naik dari P0 ke P1.
b)    Menurunnya pengeluaran pemerintah menyebabkan Agregat Demand bergeser ke kiri, sehingga harga turun dari P0 ke P1 dan pendapatan turun dari Y0 ke Y1.

B. Dampak Kebijakan Moneter
Ø  Kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif
Tingkat bunga (i)                                        Tingkat bunga (i)
                                              LM0                                                          LM1                   
       I0                                                        i1
                                                LM1                                                         LM0             
        i1                                                        i0                                                       
                                           IS                                                       IS                                
                          Yo     Y1     Y (Pendapatan)             Y1      Y0               Y                             
(a)                                                        (b)
a)    Naiknya jumlah uang beredar menyebabkan AD naik. Kenaikan dalam AD menggeser LM0 ke LM1 yang mengakibatkan tingkat bunga turun dari i0 ke i1 dan pendapatan naik dari Y0 ke Y1.
b)    Jumlah uang beredar menurun menyebabkan AD bergeser ke kiri, akibatnya tingkat bunga naik dan pendapatan turun.
Kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif dalam model AD – AS.


2)    Apabila Bank Indonesia memberlakukan kebijakan uang ketat dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar, Ceteris paribus (hal-hal lain dianggap tetap), maka buatlah analisis ekonomi makro (Melalui analisis kurva IS dan LM) dampak kebijakan pemerintah ini! Apa akibatnya bagi kinerja bisnis (15 poin)
Jawab:
Dalam analisis keseimbangan di  pasar uang digunakan suatu kurva yang disebut kurva LM. Kurva LM adalah tempat kedudukan  titik-titik yang menghubungkan tingkat bunga (i) dan pendapatan nasional (Y), dimana pasar uang dalam keadaan seimbang. (Suprayitno, 2005).
Sebagaimana kita ketahui bahwa penawaran akan uang (Ms) adalah ditentukan oleh  pemerintah atau dinyatakan tetap. Menurut Mankiw perubahan pendapatan akan mempengaruhi permintaan akan uang. Apabila pendapatan naik, maka expenditure akan mengalami  kenaikan,sehingga masyarakat             banyak melakukan transaksi yang menggunakan  uang.   Sehingga,  kenaikan  pendapatan  akan  mengakibatkan  kenaikan permintaan akan uang. Hal ini dapat ditunjukkan secara matematis sebagai berikut : (M/P)= L (r,Y).
          Permintaan akan uang memiliki hubungan negatif dengan tingkat bunga dan memiliki    hubungan  positif  dengan  pendapatan.  Menurut  Mankiw  penurunan  kurva  LM  dapat ditunjukkan pada gambar 3 berikut ini.



























          Dari gambar 3 dapat kita lihat pada grafik a yang menunjukkan perubahan keseimbangan pada pasar uang, dimana ketika pendapatan mengalami kenaikan sebesar Y1 ke Y2, maka akan mengakibatkan kenaikan  permintan uang, sehingga kurva Md bergerak ke kanan. Hal ini juga mengakibatkan kenaikan tingkat bunga dari r1  ke r2. Perubahan pada tingkat bunga tersebut menunjukkan kurva lm yang ditunjukkan pada grafik b.hubungan antara tingkat  bunga  dengan  pendapatan,  ketika  pendapatan  mengalam kenaikan,  maka mengakibatkan kenaikan tingkat bunga.
Menurut  Mankiw untuk memahami bagaimana   kebijakan moneter dapat mempengaruhi pergerakan kurva LM digunakanlah teori liquidity preference.

3)    Jelaskan gagasan-gagasan utama (Main idea) dari berbagai pemikiran ekonomi makro terutama dari  aliran Keynesian, aliran Moneteris, aliran makro ekonomi klassik baru (New Classical Macroeconomics),  serta aliran makroekonomi Keynesian baru (New Keynesianism) mengenai issue-issue pokok ekonomi makro berikut:
a.    Pandangan tentang ekonomi pasar (market economy). (nilai 5 poin)
b.    Penyebab ketidakstabilan dalam perekonomian makro. (nilai 5 poin)
c.    Kebijaksanaan makroekonomi yang tepat (appropriate(nilai 5 poin)
d.    Pengaruh kebijaksanaan moneter (money supply) terhadap perekonomian. (nilai 5 poin)
e.    Pandangan tentang velositas uang (velocity of money) (nilai 5 poin)
f.     Pengaruh kebijaksanaan fiscal terhadap perekonomian (nilai 5 poin)
g.    Pandangan tentang cost push and demand full inflation. (nilai 5 poin)
(total nilai 35 poin)

Jawaban (Muana Naga Hal 63 / buat dalam bentuk tabel) & LIHAT JAWABAN 25 JAN 2006
4)    Tulis pula esey secara sistematik dan kaitkan dengan  perkembangan  school of thoughts teori ekonomi (historical)  tentang hal-hal berikut:
a.    Isu  kelemahan  fondasi mikro dalam teori  ekonomi  makro dewasa ini, sehingga jelas pengamatan Saudara tentang posisi Keynesian dan new Keynesian terutama ketika berhadapan dengan klasik  (monetarist) dan new classical macroeconomics. (nilai 5 POINT)
       Jawab :  (Muana Nanga hal 41)
       Isu beberapa kelemahan (weaknesses) dari pandangan kaum klasik dengan mengatakan bahwa (1). Penurunan di dalam tingkat bunga tidak akan secara otomatis mendorong investasi bisnis secara memadai untuk mewujudkan kesempatan kerja penuh (full employment). Keynes mengatakan bahwa rencana investasi oleh sektor bisnis itu selain ditentukan oleh tingkat suku bunga , juga dipengaruhi atau ditentukan oleh ekspektasi mengenai masa yang akan datang. (2) penurunan upah uang (nominal) juga tidak memadai sebagai mekanisme koreksi terhadap masalah pengangguran yang ada. Hal ini disebabkan karena penurunan upah nominal akan ditentang keras oleh kaum buruh, yang memiliki posisi cukup kuat bersama serikat buruhnya.
b.    Aggregate supply function: neoclassical synthesis (New classical) vs Keynsian (New Keynesian), sehingga jelas pengamatan Saudara tentang kesalahan perspektif fondasi mikroekonomi untuk makroekonomi tentang derivasi Kurva AS  tersebut (15 POINT)
       Jawab : Muana Nanga Hal 44

5)    Dalam analisis perekonomian terbuka (open macroeconomic analysis), evaluasi asumsi, mekanisme dan efektivitas dampak kebijaksanaan  ekspansi moneter dalam  regim flexible (managed  floating)  exchange  rate. Kemudian, tunjukkanlah   argumentasi Saudara  baik  dengan menggunakan  framework analisis IS-LM  maupun Monetary Approach serta Assets Approach sehingga jelas perbedaan esensial tentang asumsi dan prosedur analisis antara pendekatan tersebut dalam menjelaskan suatu fenomena yang sesungguhnya serupa yaitu terjadinya potensi krisis BOP dan depresiasi exchange rate. Lalu “Jika Saudara pengambil keputusan pada akhir bulan September ini (paling tidak pertengahan Oktober keputusan benar-benar harus dibuat), yang berhadapan dengan kondisi krisis neraca pembayaran (BOP) dengan cadanga devisa yang sulit untuk membiayai tiga bulan impor  ke depan, maka keputusan apa saja yang Saudara harus buat, bagaimana perkiraan Saudara tentang reaksi dunia bisnis, lembaga legislatif dan bahkan eksekutif baru atas keputusan Saudara, Jelaskan!  (nilai 20 POINT)
Jawab:
Kebijakan makro ekonomi dalam konteks perekonomian terbuka, khususnya dalam kaitan dengan upaya mengoreksi ketidakseimbangan dalam neraca pembayaran dibedakan kedalam dua jenis atau macam, yaitu:
(1)    expenditure changing policies
adalah kebijakan yang mencakup kebijakan fiskal dan moneter yang bertujuan untuk mempengaruhi tingkat permintaan (Aggregate Demand) atau absorpsi dalam negeri yang terdiri dari pengeluaran konsumsi (C), pengeluaran Investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G) di dalam perekonomian.

(2)    expenditure switching policies
adalah kebijakan yang mencakup devaluasi yang ditujukan untuk mengalihkan pengeluaran dari suatu negara dari barang luar negeri ke barang dalam negeri atau dari barang dalam negeri ke barang luar negeri.

              Modell Mundell – Fleming merupakan versi model IS – LM untuk perekonomian terbuka yang memasukkan pergerakan modal antar negara (international capital movement) ke dalam model makro ekonomi formal. Model ini menunjukkan bahwa efek dari hampir setiap kebijakan ekonomi (economic policy) pada sebuah “small open economy” bergantung pada regim atau sistem nilai tukar (exchange rates) yang dianut oleh suatu perekonomian yang terdiri dari regim nilai tukar tetap (fixed exchange rate regim) dan regim nilai tukar fleksibel (flexible exchange rate regim) atau dapat dikatakan bahwa keefektifan dari kebijakan fiskal dan moneter dalam mempengaruhi pendapatan agregat bergantung pada regim nilai tukar. Di bawah regim nilai tukar mengambang atau fleksibel (floating or flexible exchange rate regim) hanya kebijakan moneter yang efektif, dalam arti yang dapat mempengaruhi pendapatan. Sebaliknya, dibawah sistem atau regim nilai tukar tetap (fixed exchange rate regim) hanya kebijakan fiskal yang dapat mempengaruhi pendapatan.
              Secara umum, sistem atau regim nilai tukar dapat dibedakan atas dua ekstrim sistem, yaitu:
1)    sistem nilai tukar fleksibel atau mengambang (flexible or floating exchange rate system) yaitu suatu sistem dimana penentuan nilai tukar atau kurs diserahkan kepada mekanisme pasar, yaitu oleh kekuatan penawaran dan permintaan di dalam pasar valuta asing (foreign exchange market). Kalau penentuan kurs atau nilai tukar mata uang itu sama sekali tanpa campur tangan pemerintah atau dengan kata lain benar-benar mengambang secara bebas (freely floating), maka sistem nilai tukar itu dinamakan “clean float system”. Tetapi kalau penentuan nilai tukar atau kurs di bawah regim nilai tukar fleksibel terdapat campur tangan pemerintah, maka sistem nilai tukar yang demikian dinamakan “Dirty float system” dan inilah yang sering disebut sebagai sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating exchange rate system).

2)    Sistem nilai tukar tetap (fixed excfhange rate system) yaitu suatu sistem dimana kurs atau nilai tukar mata uang itu ditetapkan oleh Bank Sentral dan pemerintah sebagai otoritas moneter di dalam suatu negara, sehingga kadang-kadang sistem nilai tukar yang demikian juga sering disebut dengan istilah “pegged exchange rate system

Berdasarkan pada sistem atau regim nilai tukar yang telah dijelaskan di atas, maka untuk menganalisis dampak dari kebijakan “makro ekonomi” di dalam perekonomian terbuka akan digunakan model Mundell – Fleming (Mundell – Fleming model) sebagai kerangka analisis, dimana perekonomian yang ditelaah diasumsikan sebagai “small open economy”. Untuk melihat lebih jelas, bagaimana dampak kebijakan ekonomi, yakni kebijakan fiskal, moneter dan kebijakan devaluasi dibawah regim nilai tukar tetap, maka berikut ini akan dijelaskan satu persatu:

              Diasumsikan otoritas moneter menerapkan / menjalankan suatu kebijakan moneter yang ekspansif, yakni dengan menambah jumlah uang beredar (Ms) dari Ms0 ke Ms1, maka menyebabkan kurva LM bergeser ke kanan dari LM0 ke LM1, begitu pula titik keseimbangan akan berpindah dari E0 ke E1 dan bersamaan dengan itu tingkat bunga akan turun dari L0 ke L1 dan pendapatan akan naik dari Y0 ke Y1. Selanjutnya oleh karena titik keseimbangan Ei berada disebelah kanan dari kurva BOP, maka sebagai akibat dari kenaikan jumlah uang beredar telah menyebabkan perekonomian sekarang berada dalam sitausi defisit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa walaupun kebijakan moneter ekspansif mampu membawa kenaikan didalam pendapatan, namun sebagai akibat dari penurunan tingkat bunga yang mendorong terjadinya aliran kapital keluar (capital outflow). Secara besar-besaran, maka sebagai dampak akhirnya perekonomian akan masuk kedalam, suatu defisit neraca pembayaran.

              Gambar berikut dan kesimpulan yang dapat ditarik bahwa kebijakan moneter dibawah sistem nilai tukar tetap dengan mobilitas kapital yang sempurna adalah tidak efektif (in effective).


 Tingkat bunga
              (i)
                                                               LM0 (MS0)
                                                                                      LM1 (Ms1)               
                                           
                                                 E0
      L0 = if                                                                               BOP     

              i1



                                                                                    IS



              0                               Yo                                              output (Y)

              Selanjutnya akan dijelaskan dampak kebijakan moneter dibawah regim nilai tukar tetap untuk kasus No Capital Mobility (tidak ada mobilitas kapital).
              Bahwa dalam regim nilai tukar tetap dimana tidak terdapat mobilitas kapital, kebijakan moneter ekspansif menyebabkan kurva LM bergeser ke kanan, yang mengakibatkan tingkat bunga turun dan pendapatan naik. Dalam kondisi seperti ini, perekonomian mengalami neraca pembayaran yang semakin memburuk. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut, dimana dapat dilihat bahwa posisi mula-mula dari perekonomian berada di titik E kemudian dengan adanya kebijakan moneter yang ekspansif, perekonomian bergerak ke titik M. Dengan pendapatan yang lebih tinggi, maka berarti BOP juga semakin besar dan trade defisit juga akhirnya akan menjadi semakin besar pula. (Keterangan gambar dapat dilihat pada halaman berikut).

              Apa yang telah dijelaskan diatas merupakan dampak kebijakan moneter dibawah regim nilai tukar tetap dengan kasus imperfect capital mobility, perfect capital mobility dan kasus no capital mobility. Untuk melihat efektivitas kebijakan-kebijakan yang diambil atau dijalankan oleh pemerintah terkait dengan regim nilai tukar dan kasus sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, maka berikut ini akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar tetap berdasarkan pendekatan ketiga kasus di atas, sebagai perbandingan yang dapat dijadikan dasar untuk melihat mana dari kedua kebijakan pemerintah yang paling efektif atau efektif dijalankan.

              Yang pertama akan dijelaskan atau digambarkan dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar tetap atau digambarkan dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar tetap untuk kasus imperpect capital mobility, bahwa diandaikan (diasumsikan) pemerintah menerapkan suatu kebijakan fiskal yang ekspansif, misalnya dengan menigkatkan pengeluarannya (G) dari Go ke G1, maka akan menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan dari Lso (Go) ke LS1 (G1). Hal ini mengakibatkan tingkat bunga naik dari Lo ke L1 dan pendapatan juga naik dari Yo ke Y1. Tetapi akibat dari naiknya tingkat bunga tersebut, akan terjadi aliran modal masuk (capital inflow) secara besar-besaran yang pada gilirannya akan menyebabkan neraca pembayaran (BOP) mengalami surplus.
              Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa kebijakan fiskal ekspansif akan mendorong pendapatan dan tingkat bunga naik, tetapi dalam kondisi dimana BOP lebih landai dari kurva LM, maka kebijakan fiskal ekspansif tersebut akan mendorong neraca pembayaran (BOP) itu mengalami surplus, hal ini dapat dilihat pada gambar berikut. Sebaliknya, kalau kurva LM lebih landai dari kurva BOP akan mengalami defisit, hal ini dapat pula dilihat pada gambar selanjutnya:


Tingkat bunga
         (i)
                                  BOP                                                                     LM
 


                                                      LM         
                                                                                          
                                                                        i1                                E1           
          i1                          E1       
          io               Eo                                         io                      Eo 


                                                  IS1                                                                   IS1
                                           ISo                                                          ISo

           0           Yo            Y1               Y                                 Yo     Y1 


              Kesimpulannya, bahwa dampak kebijakan fiskal yang ekspansif terhadap BOP apakah akan surplus atau defisit, sangat tergantung pada posisi relatif dari kedua kurva itu ditentukan oleh elastisitas kedua kurva itu terhadap tingkat bunga.
              Berikutnya akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar tetap untuk kasus perfect capital mobility, bahwa diasumsikan pemerintah melakukan kebijakan fiskal ekspansif dibawah sistem nilai tukar tetap dengan mobilitas kapital yang sempurna, misalnya dengan menaikkan pengeluaran pemerintah dari Go menjadi G1, maka akan menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan dari ISo (Go) menjadi IS1 (G1). Akibatnya, tingkat bunga dalam negeri naik diatas tingkat bunga luar negeri dan pendapatan juga naik dari Yo ke Y1 . naiknya tingkat bunga dalam negeri mendorong terjadinya capital inflow secara besar-besaran.
              Untuk menjaga agar nilai tukar tidak berubah, maka Bank Sentral melakukan intervensi dengan jauh membeli valuta asing. Sehingga menyebabkan jumlah uang beredar di dalam negeri bertambah dan selanjutnya akan menggeser didalam negeri bertambah dan selanjutnya akan menggeser kurva LM ke kanan dari Lmo (MSo) ke LM1 (MS1). Akibat selanjutnya adalah tingkat bunga dalam negeri akan kembali sama dengan tingkat bunga luar negeri dan pendapatan akan naik dari Y1 ke Y2, sebagaimana dapat dilihat pada gambar berikut:


   Tingkat bunga
           (i)                                                    LMo

                                                                          LM1

            io                                E1
 


          i = io                 Eo                 E2      
                                                                                       BOP


                                                                 IS1

                                                          ISo
 


              0                  Yo      Y1      Y2                               output (Y)


              Selanjutnya akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar. Kasus no capital mobility, bahwa kebijakan fiskal yang ekspansif akan menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan yang diikuti pula oleh naiknya tingkat bunga dan pendapatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah.


Tingkat bunga
(i)
                                      BOP                         
                                                                          LM

                                          


         
                                                                                      


                                                                 IS1

                                                          ISo
 


              0                                                             Pendapatan (Y)

              Posisi mula-mula sebelum terjadi ekspansi fiskal adalah titik E, kemudian setelah pemerintah melakukan suatu kebijakan fiskal ekspansif, misalnya melalui peningkatan pengeluaran (G), maka kurva IS akan bergeser ke kanan dan meotong kurva LM pada titik F dan pada titik ini karena pendapatan menjadi lebih besar dan akibatnya neraca pembayaran (BOP) akan mengalami defisit yang semakin besar. Jadi kebijakan fiskal disini hanya berpengaruh terhadap BOP melalui impor dan defisit neraca perdagangan.
              Sebagai pelengkap dalam menganalisis efektivitas kebijakan ekspansi moneter dan perbandingannya dengan efek kebijakan fiskal, baik dalam regim fixed maupun regim fleksibel exchange rate, maka alangkah baiknya sebelum kita lanjut melihat efektivitas kedua kebijakan pemerintah tersebut pada regim nilai tukar fleksibel untuk ketiga kasus capital mobility, terlebih dahulu melihat bagaiman dampak kebijakan devaluasi untuk kasus perfect capital mobility.
              Dampak dari kebijakan devaluasi untuk kasus tersebut dapat dijelaskan bahwa dibawah sistem nilai tukar tetap, nilai tukar (exchange rate) itu sendiri merupakan peubah kebijakan (policy variable) yang ditentukan oleh atau berada dibawah kontrol langsung otoritas moneter, karena harga dalam negeri tidak respon terhadap devaluasi, maka baik nilai tukar riil (real exchange rates) maupun nominal (nominal exchange rates) akan mengalami depresiasi. Ekspor dari home country akan menjadi lebih kompetitif dipasar dunia, sementara impor akan menjadi lebih mahal didalam negeri dan oleh karena itu permintaan agregat (AD) akan naik, hal ini akan mendorong kurva IS bergeser ke kanan dari ISo ke IS1.
              Oleh karena tingkat bunga ditentukan oleh tingkat bunga dunia, maka  kenaikan dalam tingkat bunga dalam negeri akan mendorong terjadinya capital inflow. Selanjutnya, untuk menjaga agar kurs tidak berubah maka bank sentral akan melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan membeli valuta asing dan hal ini selanjutnay akan meningkatkan jumlah uang beredar di dalam negeri. Hal ini lebih jauh akan mendorong kurva LM bergeser ke kanan dari LM ke LM1 dan akibatnya tingkat bunga dalam negeri akan kembali sama dengan tingkat bunga dunia atau luar negeri dan tingkat pendapatan naik dari Yo ke Y1, hal ini lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:


   Tingkat bunga
           (i)                                                    LMo

                                                                          LM1
 


          

          i = io                 Eo                 E1      
                                                                                       BOP


                                                                 IS1

                                                          ISo
 


              0                  Yo               Y2                               output (Y)

              Selanjutnya akan dijelaskan dampak kebijakan makro ekonomi dibawah regim nilai tukar fleksibel untuk ketiga kasus, yakni : kasus imperfect capital mobility, kasus perfect capital mobility dan kasus no capital mobility.
             
              Pertama, akan dijelaskan dampak kebijakan moneter dibawah regim nilai tukar fleksibel untuk kasus imperfect capital mobility yang mana diasumsikan otoritas moneter (bank sentral) menerapkan jumlah uang beredar (Ms) dinaikkan dari Mso menjadi MS1, maka akan menyebabkan kurva LM bergeser ke kanan dari Lmo ke LM1 dan mengakibatkan titik keseimbangan akan bergeser Eo ke E1. Oleh karena titik keseimbangan baru (E1) ini berada dibawah kurva BOP yang mula-mula yaitu BOP, maka itu berarti neraca pembayaran (BOP) berada dalam keadaan defisit yang mana didalam sistem nilai tukar fleksibel, hal ini akan mendorong nilai tukar atau kurs mengalami depresiasi (artinya mata uang dalam negeri akan melemah terhadap mata uang asing), dan hal ini akan menyebabkan kurva BOP bergeser ke kanan dari ISo ke IS1. Akhirnya keseimbangan akan terjadi pada titik E2 dimana tingkat pendapatan yang baru akan menjadi Y2 dan berada diatas Y1 yang merupakan titik keseimbangan baru pada kasus sistem nilai tukar tetap untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:




Tingkat bunga
          (i)
                                                  LMo                       LM1
                                                             
                                                                                               BOP                                         
                                                              
 


            io                       Eo                                                            BOP
                                                                      E2                                  
            i2


           i1                                                 E1
                                                                                                    IS1

                                                                                      ISo 
 


              0                     Yo                      Y1     Y2                output (Y)
             

Berikutnya akan dijelaskan dampak kebijakan moneter dibawah regim nilai tukar fleksibel untuk kasus perfect capital mobility. Diasumsikan pemerintah atau otoritas moneter menerapkan suatu kebiajkan moneter ekspansif, misalnya melali peningaktan dalam jumlah uang beredar, maka sebagai akibatnya akan menyebabkan kurva LM bergeser ke kanan dari LMo ke LM1. Hal ini akan mendorong tingkat bunga dalam negeri turun dibawah tingkat bunga luar negeri dan turunnya tingkat bunga dalam negeri pada gilirannya akan mendorong terjadinya capital outflow secara besar-besaran. Adanya capital outflow secara besar-besaran akan menyebabkan nilai tukar atau kurs mata uang dalam negeri mengalami depresiasi atau melemah terhadap mata uang asing, dan melemahnya mata uang dalam negeri akan mendorong kurva IS bergeser ke kanan, yaitu dari ISo ke IS1. Akibat selanjutnya adalah tingkat bunga dalam negeri akan turun dan kembali sama dengan tingkat bunga luar negeri dan tingkat pendapatan akan naik dari Y0 ke Y1, hal ini dapat dilihat pada gambar berikut:











   Tingkat bunga
           (i)                                                    LMo

                                                                          LM1
 


          

          io= i1                 Eo                 E1      
                                                                                       BOP

            i1                                                 IS1

                                                          ISo
 


              0                  Yo               Y1                               output (Y)


              Dan selanjutnya akan dijelaskan dampak kebijaan moneter dibawah regim nilai tukar fleksibel untuk kasus no capital mobility yakni apabila pemerintah atau otoritas moneter melakukan suatu ekspansi moneter akan menyebabkan kurva LM bergeser ke kanan, dan akibatnya tingkat bunga turun serta pendapatan naik. Turunnya tingkat bunga dalam negeri akan menyebabkan defisit neraca perdagangan di dalam perekonomian. Hal ini pada akhirnya akan mendorong depresiasi mata uang dalam negeri yang selanjutnya akan kembali meningkatkan pendapatan (Y).


   Tingkat bunga
           (i)                 BOPo         BOP1        LMo

                                                                          LM1

          

              io                      E                B         
             i2   
                                            A                                     depresiasi
             i1      
 


                                                                    IS1

                                                          ISo
 


              0                                                                       output (Y)

              Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa posisi mula-mula dari perekonomian adalah dititik E, namun setelah dilakukan kebijakan moneter ekspansif, posisi keseimbangan berpindah ke titik B yang merupakan titik keseimbangan akhir dari perekonomian tersebut.
              Untuk melihat atau mengetahui kebijakan pemerintah yang mana yang lebih efektif atau paling efektif dijalankan terkait dengan regim nilai tukar untuk ketiga kasus di atas, maka berikut ini akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai bukan fleksibel yang dapat dijadikan perbandingan kedua kebijakan makro ekonomi tersebut.

              Berikut ini akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar fleksibel untuk kasus imperfect capital mobility. Diasumsikan pemerintah menjalankan suatu kebijakan fiskal yang ekspansif, yaitu melalui peningkatan dalam pengeluaran pemerintah (G) misalnya dari Go ke G1, maka akan menyebabkan kurva IS bergeser dari ISo ke IS1, begitu pula titik keseimbangan akan bergeser dari titik Eo ke E1. Dengan kurva BOP yang lebih landai daripada kurva LM, maka titik E1 akan terletak diatas kurva BOP mula-mula yaitu BOPo, hal ini berarti pada titik E1 tersebut, BOP akan berada dalam keadaan surplus. Kondisi ini akan mendorong mata uang dalam negeri mengalami operasi (menuat), yang selanjutnya akan menyebabkan kurva BO bergeser ke kiri dari BOPo ke BOP1 dan kurva IS bergeser ke kiri dari ISo ke IS1.
              Keseimbangan akhir akan terjadi pada titik E2 dimana tingkat bunga dan pendapatan masing-masing adalah I2 dan Y2, hal ini dapat dilihat pada gambat berikut. Selanjutnya dapat pula dilihat bahwa kebijakan fiskal ekspansif dibawah sistem nilai tukar feksibel khususnya bila kurva LM-nya lebih landai daripada BOP sebagaimana dapat dilihat pada gambar selanjutnya, lebih efektif daraipada dibawah sistem nilai tukar tetap, dimana kenaikan pendapatan ke Y2 adalah lebih besar daripada Y1.
              Selanjutnya akan dijelaskan dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar fleksibel untuk kasus perfect capital mobility dimana diasumsikan bahwa dengan adanya kenaikan pengeluaran pemerintah (G) maka menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan dari ISo ke IS1. Akibatnya tingkat bunga dalam negeri akan naik diatas tingkat bunga luar negeri yaitu ia ke ii, dan hal ini mendorong terjadinya capital inflow akan menyebabkan nilai tukar mata uang dalam negeri mengalami depresiasi (menguat) dan selanjutnya akan mendorong kurva IS1 ke IS2, akibatnya tingkat bunga  domestik akan kembali sama dnegan tingkat bunga luar negeri dan pendapatan tetap tidak mengalami perubahan yaitu Yo.
              Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kebijakan fiskal ekspansif didalam sistem nilai tukar fleksibel dengan mobilitas kapital yang sempurna jelas adalah tidak efektif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:



   Tingkat bunga
           (i)                                                    LM

                                                                         

           i1

          io= i1                 Eo                       
                                                                                       BOP

                                                             IS1

                                                          ISo = IS2
 


              0                  Yo                                                   output (Y)


              Yang terakhir, dampak kebijakan fiskal dibawah regim nilai tukar fleksibel untuk kasus no capital mobility. Dibawah regim nilai tukar fleksibel dimana tidak terdapat mobilitas kapital (no capital mobility) kebijakan fiskal yang ekspansif akan menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan dan akibatnya tingkat bunga dan pendapatan akan mengalami kenaikan. Tanpa mobilitas kapital, akan menyebabkan defisit perdagangan dititik A1, hal ini akan mendorong depresiasi mata uang dalam negeri yang selanjutnya akan merangsang depresiasi mata uang dalam negeri yang selanjutnya akan merangsang ekspor dan kenaikan pendapatan lebih lanjut hingga mencapai titik B, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

 


   Tingkat bunga                                                   LM         
           (i)                       BOPo              BOP1              

                                                                         

          
                                                                                                 depresiasi
                                   E                       
                                                                                      

                                                             IS1                IS2


                                                          ISo
 


              0                                                                         output (Y)

              Untuk lebih jelasnya, secara singkat kaitan antara sistem nilai tukar (exchange rates system), mobilitas kapital (capital mobility) dan keefektifan kebijakan fiskal dan moneter dapat digambarkan bahwa kebijakan (instrumen) moneter pada kasus mobilitas kapital sempurna untuk nilai tukar tetap adalah tidak efektif dan untuk nilai tukar fleksibel adalah efektif, sementara pada kasus mobilitas kapital tak sempurnua untuk nilai tukar tetap adalah efektif dan untuk nilai tukar fleksibel adalah semakin efektif.
              Pada kebijakan (instrumen) fiskal pada kasus mobilitas kapital sempurna untuk nilai tukar tetap adalah efektif dan untuk nilai tukar fleksibel adalah tidak efektif, sementara pada kasus mobilitas kapital tak sempurna untuk nilai tetap adalah efektif dan untuk nilai tukar fleksibel adalah semakin efektif.
              Dari gambaran tersebut dalam memilih kombinasi kebijakan makro ekonomi yang akan dijalankan didalam memecahkan masalah makro yang ada, Robert Mundell mengemukakan apa yang dewasa ini dikenal secara luar dengan Mundell-assignment solution, yang mengatakan bahwa kebijaksanaan fiskal ditetapkan untuk mencapai keseimbangan internal (internal balance), sementara kebijakan moneter ditetapkan untuk mencapai keseimbangan eksternal (eksternal balance).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar