UJIAN PRAKUALIFIKASI S3 EKONOMI
(ALLOKASI WAKTU MASING-MASING SOAL ADALAH 60 MENIT ATAU
WAKTU SELURUHNYA 300 MENIT)
Soal 21-05-2001
I.
Jelaskan teori
keseimbangan internal dan eksternal yang harus ditempuh oleh suatu negara, agar
tidak terjerembab dalam krisis moneter dan ekonomi. Dalam hubungan ini aspek
yang menyangkut diagram kiranya ditampilkan dalam jawaban anda dan diuraikan
!
Jawab:
II.
1. a) Bila syarat
keseimbangan di pasar barang (koomodity) terpenuhi yaitu I + G = S + T, maka
kurva IS dapat diturunkan bila fungsi S dan fungsi I diketahui. Turunkanlah
kurva IS dalam gambar empat (4) kuadran, dengan catatan fungsi S dan Fungsi I.
Anda sendiri yang menentukannya, asal sesuai dengan teori yang berlaku!.
Jawab:
Model Keynes secara sederhana dalam pasar barang terjadi
apabila dipenuhi dua syarat sbb:
(1) Penawaran agregate barang dan jasa (Y) = permintaan
agregate barang dan jasa (AD) sehingga Y = C + I T G = AD
(2) Tabungan ditambah pajak (S + T) = Investasi + pengeluaran
pemerintah (I+G), sehingga I + G = S + T
Didalam model makroekonomi tiga sektor (ekonomi tutup),
tanpa ekspor – impor, maka agregate demand = AD akan terdiri dari
komponen-komponen dan fungsi:
Ø
Konsumsi : C =
f(Yd) = a + b Yd
Ø
Saving : S = Yd –
C ==è s = f (Yd)
=
Yd – a – b Yd
=
-a + (1 – b) Yd atau C = a + b Yd
Ø
Investasi : I =
f( Y,i)
=
Io + rY - Vi
Ø
Pengeluaran
Pemerintah : G = Go (outonomous)
Ø
Pajak : T = To (outonomous)
Dari komponen-komponen tersebut, selanjutnya dapat
diturunkan secara matematis fungsi tersebut, sbb:
Misalnya, kita ambil model, keseimbangan:
Y = C + I + G; kenapa model keseimbangan ini dipilih,
sebab didalam fungsi investasi mengandung variabel (komponen tingkat bunga i,
sementara model fungsi IS ==è i = f (y)
![]() |
i = f (y)
IS
Y
Untuk itu diturunkan fungsi IS, melalui:
Y = C + I + G
= ( a + bYd) +
(Io + rY – Vi) + Go
= ( a + b(Y-T))
+ (Io + rY – Vi) + Go
= ( a + bY –
bTo) + Io + rY – Vi + Go)
Y – bY – rY = (a – bTo + Io + Go) – Vi
(1 – b – r) Y = (a – bTo + Io + Go) – Vi
Vi = ( a – bTo + Io + Go) – (1 – b – r) Y
1 1 – b -
r
i = --- (a – bTo + Io + Go) - ------------ (Y)
i = intercept - slope
(Y)
Dengan demikian kurva IS dapat digambar sbb:
i
--- (a – bTo + Io + Go)
v
Keterangan :
r = elastisitas investasi terhadap .....
v = elastisitas investasi terhadap tingkat bunga
Io = otonomous investasi
To = otonomous tax
Go = otonomous Government Expenditure
Jadi Income berhubungan negatif dengan tingkat bunga
Kurva IS dalam 4 kuadran:

III S = f (Y) II I = S
Hub +
![]() |
![]() |
|||
![]() |
|||
IV
I
IS
I
Dari gambar di atas, nampak bahwa kurva:
Ø
IS menggambarkan
kesamaan S dengan I (I=S) untuk
berbagai-bagai tingkat bunga; pada tingkat pendapatan yang bersesuaian (Y)
Ø
Hubungan antara
Investasi dengan tingkat bunga ditujukan pada kuadran (I) dimana I = f(i)
berhubungan negatif I = Io – Vi
Ø
Total Investasi
harus sama dengan total saving (I=S) dalam kondisi 45º dalam kuadran (2),
menghubungkan hubungan antara saving dengan income (Y) pada kuadran (3),
hubungan positif antara tabungan dengan pendapatan ditunjukan oleh fungsi
tabungan S = f(Yd) = -a + (1-b) Yd
Ø
Kemudian pada
kuadran (4), terciptalah kurva IS, yang merupakan transformasi dari kuadran (2)
dengan kuadran (3) yang kemudian menghasilkan titik-titik, katakanlah titik AB.
Apabila kedua titik itu dihubungkan, maka terciptalah sebuah garis (kurva) yang
disebut kurva IS.
Ø
Kurva IS memiliki
kemiringan negatif, yang menunjukkan bahwa semakin tingkat bunga maka akan
mendorong investasi semakin rendah, yang pada gilirannya akan menyebabkan
tingkat pendapatan semakin rendah demikian sebaliknya.
Ø
Titik-titik yang
terletak di luar garis keseimbangan (IS), menunjukkan bahwa terjadi ketidak keseimbangan
pasar barang dan jasa dimana titik sebelah kanan kurva IS, menunjukkan adanya
ekses S diatas I (S > I), sebaliknya titik-titik disebelah kiri kurva IS
menunjukkan bahwa ada ekses I diatas S (S < I).
b) Sekarang bila ada kebijaksanaan fiskal, misalnya
pengeluaran pemerintah (G) naik, apa akibatnya pada kurva IS? Tunjukkan dalam
gambar grafik. Saudara!
Jawab:

III S = f (Y) II
Hub +
![]() |



IV (Kuadran IV) I
ΔG
Keterangan :
1
Ø
ΔYΙi = -------
ΔG
1 - b
Ø
ΔYΙi = kΔG ;
tingkat bunga tetap, sebab pengeluaran pemerintah bersifat outonomous
(outonomous expenditure), tidak terpengaruh dengan tingkat bunga
Ø
Kurva IS bergeser
dari ISo ke IS1 (A ke B) ke kanan
Pada kuadran (1)
terjadi kebijakan fiskal, dimana terjadi kenaikan pengeluaran sebesar ΔG =è Go, pada tingkat bunga tertentu (io), sehingga
mengakibatkan keseimbangan pada kuadran (2), yakni I + G = S + T. Posisi ini mengakibatkan
sebuah keseimbangan barau pada kuadran (3), yakni S + T = f (Y), masing-masing pada (S + T)o =
f (Yo) dan (S + T)1 = f (Y1).
Sehingga, dengan
adanya tambahan G (ΔG) mengakibatkan terjadinya keseimbangan baru (S+G) = S +
T, masing-masing (I + G)o = (S + T)o dan (I + G)1 = (S + T)1, mendorong
pendapatan dari Yo menjadi Y1, sebesar ΔY. Dengan demikian, terjadilah
pergeseran kurva IS dari ISo ke IS1. Benarkah pergeseran kurva IS itu sebesar
ΔY pada tingkat bunga tertentu.
Secara matematis:
1
Ø
ΔYΙi = ------- ΔG
1 - b
CARA LAIN
KURVA IS DAPAT
JUGA DITURUNKAN MELALUI GRAFIK SBB:
Y=AD
45º G1
ΔG ΔG =
G1 – G0
G0
1
ΔYΙi = ------- ΔG
O Yo Y1 Y
![]() |
|||||
ΔY = Y1 –
Y0
ISo ke IS1 (A ke B)
Ke kanan
IS1 (G1)
IS (Go)
0 Yo ΔY
Y1 Y
Sebaliknya, jika
kebijakan fiskal it, dalam bentuk pajak (T), maka dengan adanya pajak, akan
mengakibatkan pengurangan / penurunan pendapatan, katakanlah daroi Y1 ke Yo,
yang terjadi kurva IS akan bergeser ke kiri, yakni dari IS1 ke IS2 (B =è A), lihat gambar di atas. Sementara jika kebijakan fiskal itu, dilakukan
secara bersamaan (G dan Taxe), maka alternatif yang terjadi ada tiga, yakni:
(1) Kurva IS tetap, jika ΔG = ΔT
(2) Kurva IS bergeser ke kanan, jika ΔG > ΔT
(3) Kurva IS bergeser ke kiri, jika ΔG < ΔT
Gambar berikut adalah
pergeseran kurva IS sebagai akibat kebijakan fiskal berupa kenaikan pajak
S (Y-T1) + T1
S
(Y-To) + To
Io + Go = So + T0
Y1 Yo

![]() |
ISo
IS1
2. Apa yang Saudara ketahui
tentang kura Philips (The Philips Curve)? Gambarkan dalam grafik kurva ini!
Jawab:
Kurva Phillips adalah hubungan
negatif antara tingkat pengangguran (unemployment rate = u) dengan tingkat
inflasi (the inflation rate = p). Hubungan ini dapat dilihat pada gambar
berikut:
![]() |
![]() |
pc
0
U (Unemployment Rate)
“In the short run, an increase in
the of growth in the mon stock moves in the economy from point A to point B
along the inflation rises” (Froyen, 2999;216)
Penjelasan kurva:
Pada titik pusat (the original
equlibrium) dimana Ṕ = 0, pada saat yang sama tingkat pengangguran alami,
katakanlah sebesar 6% (Diantara 100 angkatan kerja terdapat 6 orang yang
menganggur).
Kita
asumsikan bahwa ini adalah sebagai akibat dari peningkatan tingkat pertumbuhan
dalam stock uang, sehingga perekonomian bergerak pada sebuha titik keseimbangan
baru (in the short run) dimana angka pengangguran menurun dari 6% menjadi 4%,
sementara tingkat inflasi meningkat dari titik pusat 0 (0%) menjadi 2%. Gerakan
perekonomian itu dari A ke B.
Kebijakan pengembangan (kebijakan aggregate demand) akan berhasil jika
dalam kondisi tingkat pengangguran rendah ke tingkat pengangguran alami. Milton
Friedman setuju pernyataan ini, tetapi dia hanya menggambarkan pada initrial
effect.
Jadi, tingginya tingkat pertumbuhan permintaan agregat akan mendorong
output (ekonomi) akan menurunkan angka pengangguran (Derived Demand). Demikian,
sebaliknya pada angka inflasi, dimana tingginya pertumbuhan angka permintaan
agregate akan menyebabkan meningkatnya angka pengangguran.
Kurva berikut ini menjelaskan hubungan antara INFLASI ...> RIEL INCOME ....>
OUTPUT UNEMPLOYMENT VS ENPLOYMENT.
W

P
N = employment
U = unemployment
W/P
= riel income
E0 Ns = supply of labor
(pekerja)
MPN
= Marginal Phisical of
E1
Employment
Of N
MPN1 MPN2
0 N1 N0 N
![]() |
F (K, N)
N1 N0
Pengangguran naik akibat riil wage turun
Jika tingkat inflasi (P) meningkat, maka riel income
(W/P) akan turun, sehingga akan menggeser kurva MPN (Permintaan T.K) Marginal
produksinya T.kerja, sehingga nominal
Output turun. Oleh karena MPN-nya turun, maka perusahaan
tidak sanggup/membutuhkan tenaga kerja sebanyak N1, sehingga perusahaan minta
T.kerja sebanyak N0 saja, sehingga output menurun.
Oleh karena
adanya pengurangan tenaga kerja dari N0 ke N1, maka sekaligus ini menunjukkan
bahwa U meningkat dari U0 ke U1.
Jadi jika
(W/P) turun, maka permintaan agregat turun, selanjutnya perusahaan akan
menurunkan outputnya dan pada akhirnya akan terjadi PHK, paling tidak , tidak
ada permintaan tenaga kerja baru, artinya pengangguran meningkat (derived demand
theory).
Penerapan /
fakta empiris kurva Philips, secara teoritis dalam perekonomian Indonesia,
justru terjadi sebaliknya yakni bertentangan dengan teori. Secara empiris di
Indonesia, hubungan antara angka pengangguran dengan inflasi justru berhubungan
positif (bukan negatif). “Semakin tinggi angka pengangguran, juga semakin
tinggi angka inflasi”
Hubungan angka pengangguran dengan inflasi secara grafis
di Indonesia sbb:
![]() |
PC
= Indonesia
(1985 – 2000)
0 1 2 3 4
5 6 7 U (%)
Sumber
: Data BI, dari skripsi S1, Arief Prabowo
Dampak, bahwa,
meskipun hubungan antara tingkat pengangguran dengan inflasi relatif lemah
(kurva PC relatif horisontal) tetapi kecendrungan itu berdasrakan data empiris
di Indonesia selama tahun 1985 – 2000, hubungannya relatif positif. Terutama
pada saat pasca krisis moneter 1997 – 1999.
Hal yang
relatif berbeda dapat kita lihat pada kondisi perekonomian di AS selama tahun
1948 – 1969 dimana kurva PC relatif sama dengan kurva PC secara teoritis
(Blanchard, Macroeconomics, 1999).
Kaum Keynesian percaya adanya suatu trade-off antara
Inflasi dengan pengangguran dalam jangka panjang (long-run), namun dalam jangka
pendek (shor-run) dapat saja terjadi. Monetaris juga percaya, bahwa antara
inflasi dengan pengangguran ada trade-off dalam jangka pendek, dan bahwa
periode penyesuaian dalam jangka panjang, meskipun tidak selama yang
dibayangkan oleh kaum Keynesian.
Bila penawaran uang nominal adalah tetap pada tingkat
bunga tertentu, maka riel balanced (penawaran uang riel) dapat digambar sbb:
MSo (Suplly of money)
![]() |
Riel balanced
MD = Demand for
MD2 money
io
MDo
![]() |
MD1
0
M (money)
Penawaran uang
(Supply of Money)
Penawaran uang atau uang beredar (money supply = MS)
adalah jumlah uang yang tersedia didalam suatu perekonomian dan hal tersebut
ditentukan oleh Bank Sentral (Di Indonesia = BI).
Penawaran uang adalah otoritas Bank Sentral (otoritas
moneter) itulah sebabnya sehingga kurva MS berbentuk vertikal.
Pengertian uang beredar biasanya diartikan kedalam
pengertian sempit (narrow money), M1 dan dalam arti luas (broad money = M2)
M1 = uang
kartal (uang kertas + logam) dan uang giral
M2 = M1 +
Deposito berjangka (time deposit = TD)
Khususnya di Indonesia, pengertian M2 juga disebut
likuiditas perekonomian, yakni M2 + Saving Deposit dan rekening valuta asing.
Permintaan Uang
(Demand of Money)
Permintaan uang adalah jumlah uang
yang orang atau masyarakat berencana untuk memegangnya ditangan pada suatu
waktu tertentu dalam keadaan tertentu. Teori Keynes mengatakan bahwa ada tiga
motif masyarakat memegang uang (motives for holding money), yaitu:
- Motif untuk transaksi (transaction motive)
- Motif berjaga-jaga (precontionery motive)
- Motif spekulasi (speculative motive).
Dengan adanya perubahan tingkat pendapatan (Y) yang
berarti terjadi pula perubahan permintaan uang (Liquidity preference), maka
kurva LM dapat dengan mudah digambar dalam grafik sbb:

MS0
LM=è MS = MD
MS > MD
I2
MD1 pada Y1
0 M
(money) 0 Y1 Y2
Y3 Y(income)
Yang dimaksud dengan kurva LM adalah:
Suatu kurva yang menggambarkan berbagai-bagai titik kombinasi
antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan dimana permintaan uang sama dengan
penawaran uang (MS = MD). Dengan kata lain kurva yang menggambarkan
keseimbangan di pasar uang (money market equilibrium schedule).
Jadi pasar uang akan berada dalam keseimbangan sepanjang
kurva LM. Setiap titik yang terletak di sebelah kanan kurva LM, menunjukkan
bahwa dipasar uang terjadi disequilibrium, dimana MD > MS (exess demand for
money) dan sebaliknya setiap titik yang terletak di sebelah kiri kurva LM, menunjukkan
bahwa terjadi exess supply of money (MS > MD).
Kurva LM juga dapat diturunkan dengan cara lain dengan
menggunakan 4 kuadran.
Kwadran (3) Kuadran
(2)
Transaction demand L1
Money supply![]() |
Income
(Y) 0 Ms1 Ms0
Money (M)
I Kuadran (4) LM i Kuadran (1)
Monetary
Speculaty
Equilibrium
Demand
A
Yo Y1 Y MS1 MS0 Ms
MS = speculatif demand for money
Mt = transaction demand for money
Penjelasan gambar:
Ø
Pada kuadran (1),
menunjukkan hubungan berkebalikan atas tingkat bunga (i) dengan permintaan uang
untuk spekulasi (Ms).
Ø
Pada kuadran (2),
ditunjukkan alokasi penawaran uang untuk tujuan spekulasi (MS) dengan
permintaan uang untuk transaksi (Mt).
Ø
Pada kuadran
((3), menunjukkan hubungan positif antara permintaan uang untuk transaksi (M1)
dengan tingkat pendapatan (Yo) yang konsisten dengan tingkat bunga (i) seperti
ditunjukkan pada kuadran (1). Perpotongan antara tibgkat pendapatan Yo dengan
tingkat bunga (io), menghasilkan titik A (kuadran 1). Demikian halnya
perpotongan antara tingkat pendapatan Y1 dengan i1, menghasilkan titik
perpotongan di B. Jika titik A dan B ditarik sebuah garis, maka garis itu
adalah KURVA LM.
Bentuk kurva LM
yang sebenarnya adalah sbb:
i2
i1
(b)

(a)
- Αo Y
(income)
Keterangan ;
Menurut Keynes
(a) = Liquidity trap sangat rendah; situasi dimana tingkat
bunga (i) sangat rendah, sehingga apabila Ms meningkat maka orang akan tidak
menyimpan / menabungnya (saving turun).
(b) = Bentuk biasa,
artinya jika tingkat bunga naik maka orang akan mmbelanjakan uangnya
(c) = Posisi ini
menunjukkan uang itu sangat terbatas (konsisten), maka harga uang naik (suku
bunga naik). Posisi ini disebut classical range yakni uang itu sudah habis
dalam sektor transaksi, sehingga pada saat itu i sangat tinggi, kecuali jika
ada v yang baru.
Neo – Keynes,
menentang Keynes, kecuali diketahui ada hiper-inflasi.
LM dapat
diturunkan secara grafik, juga dapat diturunkan secara matematis, sbb:
Kurva LM adalah
memenuhi model matematis:
i
= f (Y); syarat keseimbangan pasar uang; MD = MS
MD = MS; MS = Ṁ (tertentu)
ey + Ma – Ui = Ṁ - ------ (Ṁ - Ma) = intercept ( - αo)
U
ey = (Ṁ - Ma) + Ui e/u =
slope kurva LM
Ui = - ( Ṁ - Ma) + ey i LM
1 e
i = ---- (Ṁ - Ma) + ------ (Y)
i =
- αo + α1 (Y)
α1
Keterangan kurva
LM:
Ṁ = money supply
kondisi konstan
ė = elastisitas permintaan uang untuk tujuan
transaksi tehnologi income
u = elastisitas
permintaan uang untuk tujuan spekulasi terhadap tingkat bunga
Ms = money suppy
MD = Demand for
money
i = interest rate
Untuk itu
faktor-faktor yang mempengaruhi kurva LM adalah:
1) Money supply (supply of money)
2) Demand for money (money demand)
3) Elastisitas permintaan uang untuk spekulasi terhadap
tingkat bunga (hubungan positif terhadap LM)
4) Elastisitas permintaan uang untuk transaksi terhadap
pendapatan
3.
Diketahui dalam perekonomian Indonesia,
data-data hipotesis sebagai berikut:
a).
Autonomous Consumption = 40 milyard rupiah
b).
Marginal propensity to save (MPS) = 0,3
c).
Autonomous investment spending = 80 milyard rupiah
d).
The responsiveness of investment spending to the interest rate = 3
e). Jumlah uang yang beredar = 150 milyard rupiah
f).
Permintaan uang atas motif transaksi
adalah 0,3 dari pendapatan nasional
g).
Permintaan uang atas motif berjaga-jaga adalah 0,1 dari pendapatan nasional
h).
Permintaan uang atas motif spekulasi adalah 110 milyar rupiah. –2r (r = tingkat
bunga)
Berdasarkan data-data ini,
maka:
a). Tentukan fungsi IS dan LM
b). Hitunglah nilai
equilibrium variabel-variabel ekonomi makro seperti: tingkat bunga, pendapatan
nasional, tingkat konsumsi dan tabungan nasional, tingkat investasi nasional.
c). Tunjukkan dalam
perhitungan anda itu syarat keseimbangan di sector riel (pasar barang) dan di
sector moneter (pasar uang) sudah terpenuhi.
Catatan:
untuk menyederhanakan perhitungan, milyar tidak perlu dicantumkan.
Jawab:
Diketahui :
Autonomous
Consumption = 40 milyard rupiah
Marginal
propensity to save (MPS) = 0,3
Autonomous
investment spending = 80 milyard rupiah
The
responsiveness of investment spending to the interest rate
= 3
Jumlah
uang yang beredar = 150
milyard rupiah
Permintaan
uang:
- atas motif transaksi adalah 0,3 dari pendapatan nasional ......> LT = 0,3Y
- atas motif
berjaga-jaga adalah 0,1 dari pendapatan nasional .........> LJ = 0,1Y
- atas motif
spekulasi adalah 110
milyar rupiah. –2r (r = tingkat bunga)..>LS = 110 – 2r
Ditanya:
a) Fungsi IS dan LM
b) Nilai keseimbangan (equilibrium) dari :
1) Tingkat bunga (r)
2) Tingkat pendapatan nasional (Y)
3) Tingkat konsumsi nasional (C)
4) Tingkat investasi nasional (I)
5) Tingkat tabungan nasional (S)
c) Apakah perhitungan yang diperoleh
sudah memenuhi syarat keseimbangan di sektor riil ( I = S) dan disektor moneter
(pasar uang) ...> (L = M)
Penyelesaian:
Fungsi saving : S
= - Co + MPs Y ...> S = - 40 + 0,3Y ...> Co = a = 40
Fungsi konsumsi :
C = Co + MPc Y ...> C = 40 +
0,7Y ...> MPc = b = 0,7
Fungsi investasi :
I = Io - er ...> I = 80 – 3r...> e = -3
MPS = 0,3 dan MPC = 0,3.......................> MPS + MPC = 1
LJ (motif berjaga) = 0,1Y L = Lt + LJ + LS
LS = 110 M – 2r
L = 0,3 Y + 0,1 Y + 110 – 2r
L = 110 + 0,4 M – 2r
Syarat
menentukan Fungsi IS, I = S
80 – 3r = - 40 + 0,3Y
80 + 40 – 3r = 0,3 Y
120 – 3r = 0,3 Y
120
- 3 r
Y = ------------------------ = 400
– 10r
0,3
Jadi
Fungsi IS, Y = 400 – 10r
Menentukan fungsi LM, syarat L
= M
110 + 0,4 Y – 2r = 150
0,4 Y = 150 – 110 + 2r
0,4 Y = 40 + 2r
40 + 2r
Y = --------------- = 100 + 5r
0,4
Jadi fungsi LM ....> Y = 100 + 5r
b. Cari
keseimbangan nasional, syarat = IS = LM
b1) Keseimbangan
Pendapatan Nasional, syarat IS = LM
400 – 10r = 100 + 5r
(-10-5)r = 100 – 400
-15r = - 300
r = - 300 / -15 = 20 =
20%
Jadi Y = 400 – 10r Y = 100
+ 5r
Y = 400 – 10 (20) Y = 100 + 5
(20)
Y = 400 – 200 Y = 100 +
100
Y =
200 M
Y = 200 M
Jadi keseimbangan pendapatan nasional sebesar 200M dengan
keseimbangan tingkat bunga 20%.
b2) Fungsi
Konsumsi
C
= 40 + 0,7Y
C
= 40 + 0,7 (200)
C
= 40 + 140
C
= 180 M
Keseimbangan konsumsi Nasional = Rp 180 M
b3) Keseimbangan saving nasional
S = - 40 + 0,3 Y
S
= - 40 + 0,3 (200)
S
= - 40 + 60
S
= 20 M
Keseimbangan saving nasional adalah Rp 20 M
b4) Keseimbangan investasi
I = 80 – 3r
I
= 80 – 3 (20)
I
= 80 - 60
I
= 20 M
Keseimbangan investasi adalah Rp 20 M
b5) Permintaan
uang untuk transaksi
LT
= 0,3 (200) = 60 M
b6) Permintaan
uang untuk berjaga-jaga
LJ
= 0,1 (200) = 20 M
b7) Permintaan
uang untuk spekulasi
LS
= 110 – 2r
LS
= 110 – 2 (20) = 70 M
Jumlah permintaan uang seluruhnya = L
L
= LT + LJ + LS
L
= 60 + 20 + 70 = 150
c) apakah
diperhitungkan syarat keseimbangan di pasar uang dan barang terpenuhi.
.....> syarat keseimbangan di
pasar barang
I = S ..................> 20 = 20 (terpenuhi)
.....> syarat keseimbangan di
pasar uang
L = M ..................> 150 = 150 (terpenuhi)
Kurva IS : Y = 400 – 10r
Kurva LM : Y = 100 + 5r
Fungsi LM : Y = 100 + 5r
Keseimbangan
pendapatan nasional
40
Fungsi
IS = Y = 400 – 10r
100 200 300
400
-20
III.
Krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997 telah menimbulkan dampak negatif
terhadap perekonomian di Indonesia. Sewaktu Presiden B.J.Habibie ternayat rasa
optimis masyarakat cukup baik. Setalah Abdulrahman Wahid menjadi presiden rasa
optimis makin meningkat. Namun kenyatannya setelah itu, timbul kekecewaan.
Beberapa indikator ekonomi yang menyebabkan kekecewaan adalah : angka
pengangguran semakin meningkat, nilai tukar rupiah terhadap dollar makin
terpuruk. Dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan masyarakat cendrung menurun.
Pertanyaan:
a) Harga-harga dan upah tenaga kerja
cenderung meningkat dan dapat berakibat tidak mengikuti hukum penawaran.
Jelaskan!
Jawab:
b) Berakibat menurunnya kesejahteraan
sosial masyarakat. Jelaskan bagaimana memaksimumkan “sosial welfare”
masyarakat. Jelaskan pula kreteria-kreteria “sosial welfare”!.
Jawab:
IV.
“Negara Berkembang dalam proses Globalisasi Untung atau Buntung?”
Jawablah pertanyaan di atas dalam
bentuk suatu tulisan singkat (1 ½ folio) dimana antara lain dijelaskan istilah
globalisasi; penyebab-penyebab globalisasi; dampak globalisasi baik positip
maupun negatip pada negara berkembang pada umumnya dan Indonesia pada khususnya
dan arah kebijakan untuk lebih mrmanfaatkan dampak potitipnya.
Jawab:
Apakah globalisasi itu?
Globalisasi merupakan satu konsep
yang sering dinyatakan orang saat ini tetapi yang menyatakan dan membahasnya
mempunyai pengertian yang berbeda mengenai konsep tersebut. Globalisasi berlaku
diberbagai bidang, antara lain:ekonomi, politik, kebudayaan, hubungan sosial
dan bahkan dibidang olah raga. Namun, yang ingin dibahas disini adalah
globalisasi dalam bidang ekonomi.
Globalisasi dapat didefenisikan
sebagai : peningkatan dalam saling ketergantungan dalam keadaan dan kejutan
ekonomi diantara berbagai negara di dunia.
Untuk lebih memahami maksud dan
makna defenisidalam aspek ekonomi yang saling tergantung, dua contoh berikut
membuktikannya:
Pertama, efek kemunduran ekonomi di
Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropa bukan saja menimbulkan efek buruk
pada kegiatan ekonomi mereka, namun juga menimbulkan efek buruk pada kegiatan
ekonomi dinegara-negara berkembang pada umumnya dan Indonesia pada khususnya,
karena banyak mengekspor produknya ke negara-negara maju tersebut.
Kedua, perkembangan investasi asing
yang pesat dalam beberapa tahun belakangan
ini di China menimbulkan efek buruk pada prospek perkembangan investasi
asing dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang (misalnya
dinegara-negara ASEAN).
Faktor-faktor Penyebab Globalisasi
Pengertian globalisasi terutama
dikaitkan dengan perkembangan ekonomi dunia dan hubungan ekonomi luar negeri
yang berlaku semenjak akhir tahun 1970-an. Semenjak masa ini tingkat
ketergantungan diantara berbagai negara menjadi semakin tinggi. Keadaan ini
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
(1) Perkembangan politik dunia
(2) Semakin pentingnya praktek pasar bebas
(3) Perkembangan perusahaan multinasiona;
(4) Berkembangnya investasi keuangan diberbagai negara
(5) Kemajuan teknologi dalam bidang informasi dan
pengangkutan.
V.
Indonesia mengalami defisit APBN 2001 yang akan berdampak luas bagi
kesejahteraan masyarakat dan pembangunan nasional. Sehubungan dengan itu
pemerintah sedang dan telah mengambil berbagai kebijakan dalam upaya mengurangi
defisit anggaran tahun berjalan baik dengan mengurangi subsidi (BBM) maupun
dengan menaikkan pajak.
Bahaslah secara teoritik mengenai
dampak pengurangan subsidi BBM dan kenaikan pajak yang telah dan sedang
dicanangkan pemerintah tersebut. Pembahasan dilihat dari sisi rumah tangga
konsumsi dan dari sisi perusahaan/produsen.
Jawab:














Tidak ada komentar:
Posting Komentar