Soal: 3 (OKEY)
Strategi tingkat bisnis menekankan tindakan mana yang
harus diambil untuk menyediakan nilai
bagi konsumen dan mendapatkan keunggulan bersaing melalui pendayagunaan
kompetensi inti dalam pasar suatu produk tertentu.
Pertanyaan:
-
a.
Jelaskan tiga isu utama pada perumusan strategi tingkat unit Bisnis
-
b.
Jelaskan enam dasar segmentasi pasar konsumen perusahaan anda
-
c.
Gambarkan dalam sebuah digram lima jenis strategi yang anda dapat terapkan bagi
keunggulan strategi yang anda pilih berdasarkan kombinasi faktor
keunggulan bersaing dan cakupan
bersaing dalam lingkungan industry
-
d.
Jelaskan secara singkat beberapa kegiatan internal bisnis sebagai sumber penciptaan nilai bila perusahaan anda
mengadopsi strategi biaya murah (cost leadership)
Jawaban:
-
a. Isu
perumusan strategi termasuk memutuskan bisnis apa yang akan dimasuki bisnis apa
yang harus dihentikan, bagaimana
mengalokasikan sumber daya, apakah memperluas operasi atau diversifikasi, apakah akan memasuki pasar
internasional, apakah akan melakukan merjer atau membentuk
usaha patungan, dan bagaimana menghindari pengambilalihan perusahaan pesaing.
Keputusan
perumusan strategis mengikat
suatu organisasi pada produk,pasar, sumber daya, dan teknologi
spesifik selama periode waktu tertentu. Strategi
menetapkan keunggulan bersaing jangka panjang.
Apapun
yang akan terjadi, keputusan strategis mempunyai konsekuensi berbagai fungsi
utama dan pengaruh jangka panjang pada suatu organisasi.
Formulasi strategi bisnis
melibatkan pengambilan keputusan pada tingkat divisi atau tingkat unit bisnis.
Strategi ini harus konsisten dengan strategi bisnis keseluruhan yang
dikhususkan untuk lines of business tersebut. Salah satu pendekatan yang
berguna untuk merumuskan strategi bisnis adalah analisis kompetitif dari
Porter. Analisis tersebut didasarkan pada analisis terhadap lima kekuatan
kompetitif yaitu ancaman pesaing baru, kekuatan tawar menawar dari pemasok,
kekuatan tawar menawar dari pembeli, ancaman produk pengganti serta persaingan
antar perusahaan. Gabungan dari kelima kekuatan inilah yang menentukan posisi
laba akhir dalam suatu industri.
Strategi pada tingkat (level)
SBU, artinya satu paket komitmen dan tindakan secara terpadu dan terkoordinasi
yang digunakan sebuah SBU utk mendptkan keunggulan bersaing melalui pemanfaatan
kompetensi inti yang ia miliki didalam pasar produk tertentu
Tiga isu utama yang harus dipertimbangkan adalah: (1)
Strategi keunggulan biaya, (2) diferensiasi, (3) Fokus
Tiga isu utama :
1. Barang/jasa,
apakah yang SBU produksikan/sediakan bagi pelanggan/pasarnya
2.
Dengan cara apa barang/jasa tsb
diproduksi/disediakan
3.
Dengan cara apa barang/jasa didistribusikan
keada pelangan
b. Enam dasar segmentasi pasar konsumen
Segmentasi pasar terdiri dari kelompok besar yang dapat diidentifikasi
dalam sebuah pasar dengan keinginan, daya beli, lokasi geografis, perilaku
pembelian, dan kebiasaan pembelian serupa.
1.
segmentasi pasar berbasis demografi
(umur, pendapatan, jenis kelamin, dll)
2.
segmentasi pasar berbasis faktor
sosial eko (kelas sosial, daur hiidup kehidupan keluarga)
3.
segmentasi pasar berbasis faktor
geografis (budaya, regional, perbedaan suku/ras/kebangsaan)
4.
segmentasi pasar berbasis faktor-2
psikologis (gaya hidup, citra diri)
5.
segmentasi pasar berbasis berbasis
pola konsumsi (berat, sedang, pengguna kelas ringan)
6.
segmentasi pasar berbasis perseptual
(segmentasi karena manfaat yang dirasakan, peta perspektual)
c. Strategi dalam lingkungan industri
(Hill &
Jones p. 213 – 242)
Instructor: Rudy C Tarumingkeng
Ringkasan Strategi investasi merupakan tahap awal dan
krusial dalam rangka mengembangkan strategi generik. Tahap berikutnya adalah memilih
taktik awal yang menguntungkan (gambit) dan manuver2
merupakan tahap kedua dalam
memformulasikan strategi pada business level. Dalam fragmented industry yg terdiri atas bermacam-macam
perush kecil dan sedang, strategi kompetitif adalah: chaining, franchising dan horizontal
merger. Pada industri tahap embrionik dan yg sedang bertumbuh strategi yg
ditempuh walaupun krusial, adalah technical innovation (inovasi bersifat
teknis). Pada fase ini, tiga strategi yg bisa dipilih:
Mengembangkan sendiri pasar dan teknologi,
mengembangkannya bersama perush lain dan mengambil lisensi teknologi dari perusahaan yang
sudah berkembang. Industri yg sudah dewasa (mature) terdiri atas industri besar
yg tidak banyak yg saling tergantung (interdependent), sehingga kesuksesan satu
perusahaan tergantung dari respons pesaingnya. Moves dan taktik sebagai strategi
utama dari mature industry di tengah persaingan adalah me-manage price
signaling dan price leadership, non price competition dan capacity control. Untuk
mature industry juga perlu mengembangkan supply-and-distribution strategy untuk
melindungi sumber dan competitive
advantage-nya. Pada declining industry di mana market demand leveling off
(mulai/sedang menurun), perush harus menempuh price dan non price strategy pada
lingkungan kompetisi yg baru, dan mengendalikan capacity untuk mencegah terjadinya
masalah capacity expansion.
Ada empat strategi utama untuk declining industry jika demand sedang
menurun:
1.Leadership
2. niche
3.harvest
4.divestasi. Pilihan ditentukan oleh tingkat parahnya
perush dan kekuatan perusahaan dibandingkan terhadap demand yg tersisa.
Opening case:
Burger wars. Mc Donald vs Taco Bell, Burger King dll., dalam produk
(volume dan komposisi), kelengkapan (dengan tambahan cheese, bacon, beef dsb),
pengembangan produk (chicken dishes, pizza) dan globalisasi (McDonald dan
Burger King). Industri terfragmentasi (fragmented industries) terdiri atas
banyak perusahaan2 kecil dan sedang seperti video rental, restaurant, legal
services. Strategi focus sebagai pilihan utama.
1. Strategi pada Fragmented Industry
Pada industri fragmented, karena skalanya kecil maka
terdapat sangat sedikit atau tidak ada economies of scale, investasi relative
kecil, demand/keinginan pasar sangat special dan biaya transport tinggi. Perush memfokus kepada kelompok
tertentu, keinginan khas, atau lokasi spesifik. Contoh: industri furniture,
sepatu, restoran, panti pijat, dll. Untuk memperoleh penghasilan yang besar dan
bersaing strategi yang ditempuh
adalah:
(a) Chaining
Membangun network outlet bisnis yang terkait erat satu sama lain
sehingga merupakan suatu
outlet raksasa, misalnya Wal Mart, Hero Supermarket. Tujuan utama adalah
untuk menurunkan biaya melalui :
- Pembelian besar-besaran untuk discount harga.
- Iklan secara nasional
- Membangun pusat-pusat distribusi mengurangi biaya transportasi.
- Sharing dalam managerial skills.
(b) Franchising
Perusahaan induk memberi hak pada perusahaan lain untuk memakai nama
(“bendera”),
reputasi, dan keterampilan dengan sistem bagi hasil.
Dalam perjanjian disepakati bahwa untuk menjamin
keunikan franchisee harus menjamin mutu dan reputasi perusahaan induk.
Franchising dapat menurunkan biaya melalui iklan nasional, skill
sharing, purchasing, dll.
Contoh: Mc Donalds, KFC.
(c) Merger horizontal
Konsolidasi industri untuk memperoleh economies of scale dan mengamankan
pangsa pasar.
Contoh: Dillard me-merger perusahaan-perusahaan lokal
dan regional, menjadi perusahaan besar,
nasional.
2. Strategy pada fase Embryonic dan Growth Industries
Embryonic industries ditandai oleh adanya inovasi. Inovasi adalah first
mover dan dapat memberikan laba
besar. Perusahaan yang memasuki persaingan umumnya masuk pada fase growth dan dapat berusaha menduduki posisi first mover. Bagi
perusahaan inovator (first mover) ada beragam strategi untuk mempertahankan keunggulan kompetitif dalam jangka panjang.
(a) Membuat dan memasarkan sendiri, inovasi
(b) Membuat dan memasarkan inovasi bersama pihak lain melalui aliansi
atau joint venture.
(c) Memberi lisensi untuk memasarkan.
Strategi mana yang paling cocok tergantung pada 3 faktor :
1. Adanya complementary asset, yaitu sumberdaya yang diperlukan untuk
menggali
inovasi dan memperoleh keunggulan kompetitif. Asset
paling penting ialah fasilitas menufakturing
yang mampu memenuhi demand tinggi dengan mutu baik. Asset utama lainnya ialah marketing know-how, sales force, sistem distribusi. dll.
2. Height of barriers to imitation. Barrier to imitation adalah
faktor-faktor yang menghalangi pesaing meniru
distinctive competencies perusahaan, khususnya inovasi. Barrier to imitation memberi waktu banyak bagi bagi inovator membangun keunggulan
kompetitif
dan membentuk barrier to entry. Misalnya Patent untuk
Xerox. Cara lain untuk memperlambat
imitasi ialah dengan membuat produk baru secara rahasia. Misalnya Coca Cola dapat merahasiakan resepnya puluhan tahun.
3. Capable competitors ialah perusahaan yang mampu meniru cepat.
Kemampuan meniru
tergantung pada 2 faktor :
(a) R&D skills. Kemampuan membuat comperable product dengan
mempelajari
(reverse engineer) produk lama. Eg. GT dengan CAT
Scanner-nya EMI.
(b) Complimentary assets. Bila pesaing tidak memiliki
comp. asset, maka akan lebih sulit untuk
meniru cepat.
3. Strategi Untuk Mature Industries
Karena
ketatnya persaingan selama fase shakeout, mature industri biasanya didominasi
oleh beberapa perusahaan besar. Meskipun banyak perusahaan kecil dan menengah
tetapi sifat dari industri dibentuk
oleh perusahaan dominan.
(a) Bila satu perusahaan mengubah strateginya maka
perusahaan lain khususnya yang berada di dalam strategic group yang sama akan bereaksi dengan mengubah
strateginya juga. Dengan demikian,
strategi perusahaan menjadi sangat interdependent.
(b) Issue utama yang dihadapi perusahaan di dalam
mature industri ialah bagaimana melindungi keunggulan kompetitif masing-masing dan sekaligus mempertahankan laba
industri.
4. Strategi Mencegah Masuknya Pesaing ke Mature Industry
(a) Product proliferation
Memproduksi
banyak variasi produk untuk mengisi banyak segmen; karena segmen sudah terisi, pesaing enggan masuk.
(b) Price cutting
Ø Menurunkan harga sehingga meningkatkan pangsa pasar dan membuat pesaing berhati-hati untuk masuk.
Ø Perusahaan umumnya menetapkan harga tinggi pada awalnya (fase embryonic
dan
growth) dan bertahap menurunkan untuk menambah pangsa
pasar, meningkatkan reputasi, dan brand
loyalty.
(c) Maintaning excess capacity
Memproduksi
melebihi kebutuhan pasar, dimaksudkan sebagai peringatan bagi pesaing potensial.
5. Strategi Mengendalikan Rivalitas di Mature Industries
(a) Price signaling
Proses menaikkan / menurunkan harga produk dengan maksud mempengaruhi pesaing dalam pricing policy; price signaling adalah alat untuk membentuk
struktur
kompetisi di dalam industri agar rivalitas terkendali.
Dua 2 bentuk price signaling :
1. Tit-for-tat strategy = perusahaan akan bereaksi
keras pada setiap gerakan pesaing yang
tidak bersahabat atau mengancam eksistensi perusahaan. Dalam hal ini, tidak satupun yang menikmati sesuatu.
2. Secara tidak langsung mengkoordinasi harga.
Perusahaan tertentu mungkin memberi tanda
untuk menurunkan harga guna mencegah kaburnya pelanggan ke industri lain, bukan untuk memulai perang.
(b) Price leadership
Perusahaan tertentu mengambil inisiatif untuk menetapkan harga industri.
Proses ini
berjalan tersembunyi, mis. Industri otomotif di USA,
perusahaan paling lemah dijadikan
penentu harga mobil.
(c) Non-price competition: diferensiasi produk adalah cara bersaing
utama yang
menghindari perang harga:
1. Market penetration: Meningkatkan pangsa pasar di
dalam segmen pasar yang tengah
digeluti melalui iklan yang gencar dan diferensiasi produk. Eg. Industri detergent
2. Product development: Menciptakan produk baru atau
meningkatkan penampilan produk lama.
Misal: Industri mobil. Merupakan upaya penting untuk mempertahankan diferensiasi produk dan membangun pangsa pasar.
3. Market development: Mencari dan memasuki segmen
pasar yg baru,
memanfaatkan brand name yang sudah ada di segmen pasar
yang lain.
4. Product proliferation: Perusahaan besar mengisi
setiap segmen pasar dengan satu jenis produk.
(d) Capacity control
Meski non-price competition membantu mencegah persaingan tidak sehat,
kadangkadang perang harga terjadi juga. Penyebab utama ialah adanya
over-capacity oleh banyak perusahaan.
Surplus produk hanya dapat dibuang melalui penurunan harga.
Faktor -faktor penyebab excess capacity :
- Teknologi baru yang diperkenalkan serentak oleh beberapa perusahaan.
- Teknologi yang memproduksi dalam sistem batch.
- Banyak pemain baru masuk.
- Turunnya demand secara drastis.
- Umur perusahaan dan sifat demand.
- Misalnya Industri perhotelan.
Strategi Mengendalikan Kapasitas
Ø Preemp rivals strategy: membangun operasi skala besar untuk memenuhi
semua
kenaikan demand yang diperkirakan. Ini menghindarkan
perusahaan lain menambah kapasitas.
Sangat riskan karena membutuhkan investasi besar untuk demand yang belum tentu ada.
Ø Coordinated capacity. Dapat dilakukan hanya secara diam-diam.
6. Strategy Supply dan Distribusi Untuk Mature Industry
Dalam industri fase mature, perusahan lebih kuat posisinya relatif
terhadap suppliers dan pelanggan. Untuk melindungi pangsa pasar dan
meningkatkan mutu, perusahaan cenderung
mengambil alih distribusi produk dan dan sumber inputs yang penting (melakukan vertical integration). Dengan mengendalikan distribusi dan sumber inputs, perusahaan dapat
menjamin
kemampuan menjual produk dan memperoleh inputs secara
tepat waktu, meningkatkan mutu dan dan
menurunkan harga sehingga meningkatkan keunggulan kompetitif.
Strategi distribusi yang dikembangkan disesuaikan dengan sifat produk
(complexity of a product) dan
banyaknya informasi yang dikuasai. Misalnya, produsen mobil memakai franchisees
untuk distribusi, bukan supermarket mobil karena rumitnya after-salesservices, sedangkan
industri elektronik memilih jaringan distributor, P&G memilih langsung retailers.
7. Strategi Untuk industri yang sedang menurun (declining industries) Sangat tergantung kepada parahnya penurunan (severity of decline.
Tergantung pada 4 faktor utama :
(a) Speed of decline. Makin cepat, kompetisi makin ketat.
(b) Hight of exit barriers. Makin sulit keluar, kompetisi makin hebat.
(c) Level of fixed cost. Makin tinggi, kompetisi makin ketat
(d) Commodity nature of the product. Makin commodity like. kompetisi
makin ketat.
Misal: Produk baja.
Memilih strategy :
(a) Leadership strategy. Bila perusahaan memiliki
distinctive strength dan kecepatan decline tidak tinggi. Berupaya mengambil pangsa pasar perusahaan yang meninggalkan industri. Misalnya: Philip Morris (industri tembakau)
melalui
agggresive marketing.
(b) Niche strategy. Memfokus pada kantong demand yang menurun lebih
lambat atau
demand masih stabil. Bila perusahaan memiliki
distinctive competencies, misalnya Naval memproduksi harpoon alat penangkap ikan paus, untuk orang Eskimo.
(c) Harvest strategy
Ø Bila perusahaan merasa tidak mampu lagi bertahan dalam industri yang
menurun
cepat,
Ø optimalkan cash inflow sebelum melakukan likuidasi bisnis; pangkas semua investment dan pengeluaran, R&D, iklan, dll.
(d) Divestment strategy. Bila perusahaan merasa tidak mampu lagi
bertahan dalam
alam persaingan yang sangat ketat, bisnis dijual pada
pihak lain pada waktu yang tepat, sebelum
decline menukik. Kesulitan adalah menentukan waktu yang tepat (timing) untuk menjual .
Lima jenis
strategi keunggulan bersaing
Dimensi
Cakupan
bersaing
d. Kegiatan internal bisnis sebagai
sumber penciptaan nilai bila perusahaan mengadopsi strategi biaya murah
1. Menghasilkan produk yang sudah
memiliki standar
2. Tampilan fisiknya
menarik/diterima pelangan
3. Harga produk yang kompetitif
4. Mengembangkan aktfitas bisnis
yang menghasilkan penghematan biaya
5. Tentukan dan kendalikan pemicu
munculnya biaya-2
6. Lakukan rekonfigurasi kegiatan-kegiatan pencipta nilai didalam perusahaan anda
AirAsia pada awalnya dimiliki oleh Pemerintah Malaysia
dibawah nama DRB-HICOM. Namun karena manajemen dan kegiatan operasional yang
tidak efisien dan tidak baik yang di
lakukan
Pemerintah Malaysia, maka mereka mengalami kerugian yang sangat besar, sehingga
mengalami kebangkrutan.
Hal ini membuat keinginan Pemerintah Malaysia untuk
menutup kegiatan operasionalnya, namun seorang eksekutif ternama dari
perusahaan Time Warner, yaitu Datuk Tony Fernandes melihat ini suatu peluang untuk menghidupkan dan memperbaiki
manajemen AirAsia. Lalu dia membeli Air Asia dengan harga 1 Ringgit kepada
Pemerintah Malaysia pada 2 Desember 2001.
Kemudian Datuk Tony Fernandes melakukan pembenahan
manajemen AirAsia dengan armada sebanyak 20 unit pesawat Boeing 737-300.
Dengan harga yang lebih murah di bandingkan harga Malaysia Airlines. Konsep
AirAsia adalah penerbangan yang berbiaya rendah ( low cost ) dengan
mengurangi hal-hal yang meningkatkan biaya seperti :
- Tiket
dipesan melalui internet atau dibeli ke counter dengan bentuk tiket
selembar kertas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pemborosan yang selama
ini dilakukan, dimana tiket menggunakan kertas yang bagus dan jumlah
lembarannya hampir 5 lembar. Dengan tiket selembar kertas, maka pemborosan
biaya dapat dilakukan.
- Mengurangi
biaya dengan tidak menyediakan menu makanan atau minuman bagi penerbangan
yang membutuhkan waktu paling lama 2 jam. Dengan pengurangan penyediaan
makanan, diharapkan dapat mengurangi biaya yang di bebankan kepada
penumpang.
- Mengurangi
penerbangan dari satu daerah ke daerah atau dari satu negara ke negara
lain menggunakan transit. Kalau setiap penerbangan transit, maka biaya
pemakaian airport akan di bebankan sangat besar. Untuk itu, mereka
berusaha setiap penerbangan tidak ada transit dan langsung ke tempat
tujuan.
- Counter
tiket pesawat sangat sedikit dan biasanya pesanan tiket melalui media
internet. Hal ini dilakukan agar sedikit mempergunakan tenaga kerja
seperti ticketing dan penjaga counter, sehingga pembebanan biaya tenaga
kerja dapat diminimalkan.
Hal ini berhasil, membuat AirAsia menjadi salah satu
penerbangan yang terbesar di Malaysia dan terbaik di Asia pada saat ini.
AirAsia Indonesia
Indonesia AirAsia (sebelumnya bernama AWAIR; Air Wagon
International) adalah sebuah maskapai
penerbangan berbiaya rendah yang berbasis di Indonesia. Indonesia AirAsia adalah rekan
maskapai AirAsia, maskapai penerbangan berbiaya
rendah dari Malaysia, di Indonesia.
Indonesia
AirAsia didirikan pada September 1999 dengan nama PT. AWAIR
International. Mereka memulai penerbangan berjadwal ke beberapa kota di
Indonesia pada tahun 2000, yang kemudian diikuti pembukaan
penerbangan ke luar negeri (Singapura).
Persaingan yang ketat di sektor penerbangan di Indonesia membuat AWAIR menghentikan
operasinya sekitar setahun kemudian.
Pada tahun 2004,
AWAIR diambil alih AirAsia, dan mengalihkan orientasi pasarnya ke penerbangan
berbiaya rendah. Penerbangan pertamanya dimulai pada Desember tahun itu. Mulai
1 Desember 2005, AWAIR berganti nama menjadi PT. Indonesia AirAsia.
Strategi Harga Murah AirAsia
Kita sering
mendengar iklan di TV atau media lain bahkan jika kita lihat di internet, harga
yang ditawarkan AirAsia adalah sangat murah. Seperti harga dari Medan ke
Jakarta dengan harga Rp. 50.000,- pulang pergi atau ada penawaran dari Medan ke
Penang dengan harga Rp. 45.000,- sekali jalan. Hal ini dapat dipesan jauh-jauh
hari sebelum keberangkatan. Bisa saja pemesanan dapat dilakukan 1 bulan, 3
bulan bahkan ada juga 6 bulan sebelumnya.
Yang menjadi
pertanyaan saya, ” Kenapa AirAsia dapat melakukan penjualan tiket penerbangan
dengan harga yang sangat rendah, apakah mereka tidak rugi..?”
Ternyata hal
tersebut di lakukan AirAsia baik itu Malaysia, Indonesia, Singapura dan
Thailand sebagai berikut :
Biasanya tiket murah yang dikeluarkan AirAsia seperti
di Indonesia adalah penerbangan pada malam hari, bisa saja penerbangan jam 9.00
atau 11.00 malam. Pada saat jam ini adalah penerbangan terakhir mereka pada
hari itu, sehingga dengan ada atau tidak penumpang, mereka harus kembali ke
hangar pusat mereka. Seperti contoh : penerbangan Medan- Jakarta dengan
harga murah, karena bagaimanapun pesawat tersebut harus kembali ke
Jakarta dengan penumpang atau tidak ada penumpang sama sekali, setelah
mengantarkan penumpang ke Medan. Daripada tidak ada penumpang untuk
kembali ke Jakarta, maka mereka menarik minat konsumen dengan penawaran harga
yang murah pada malam hari. Hal ini dilakukan karena, pada malam hari jarang
penumpang berminat untuk menaiki penerbangangan pada malam hari tersebut.
Dengan adanya penawaran tiket murah tersebut, maka penumpang berminat untuk
membeli melalui internet dan dipesan beberapa bulan sebelum penerbangan,
sehingga pesawat kembali dengan memperoleh penghasilan yang walaupun tidak
besar, tetapi paling tidak dapat sedikit menutupi biaya operasional pesawat
tersebut untuk kembali ke hangar Jakarta.
Sejak
strategi low cost AirAsia dikeluarkan, banyak penerbangan terutama di
Indonesia mengikuti jejaknya dengan pengurangan ongkos tikcet penerbangan.
2. Strategi tingkat perusahaan (corporate level strategy)
merupakan serangkaian keputusan dan tindakan yang diambiloleh manajemen puncak
untuk mendapatkan keuanggulan bersaing melalui pemilihan dan pengelolaan
sejumlah bisnis/usaha (strategic business units)yang bersang dalam
beberap industry atau pasar produk.
Strategi tingkat perusahaan merupakan-2 tindakan-2 spesifik (khas) yang
diambil oleh per utk mendapatkan keunggulan bersaing melalui pemilihan dan
pengelolaan kelompok-2 bisnis beragam/berbeda yang bersaing dalam sejumlah
industri dan produk pasar
Corporat level strategi value the degree to which the business in the
portfolio are worth more under the management of the company than they would be
under other ownership
- What business should the firm be is ?
- How should the corporate office manage the
group of business
Pertanyaan:
- Jelaskan 2 motif manajerial yang menjadi alasan
melakukan diversifikasi
Jawab:
Dalam strategi ini perusahaan berusaha: (1) menjadi
unik dalam industrinya pada berbagai dimensi yang secara umum dihargai oleh
pembeli dan (2) untuk menyediakan alternative investasi menguntungkan dengan
mengalihkan perhatian manajeman dari bisnis asli (diversifikasi konglomerasi)
dan dengan akuisisi diharapkan akan memfasilitasi ekspansi yang mulus, sinergis
dan menguntungkan (diversifikasi konsentris)
Untuk
meningkatkan daya saing perusahaan :
- Incentives
and resources with neutral effects on strategic competitiveness
- Managerial
motif (value reduction)
- Alasan melakukan startegi diversifikasi untuk
meningkatkan daya saing strategik perusahaan
Jawab:
1. Economies
of scope
2. Market
power
3. Financial
ekonomis
Ekspansi Dalam
Diversifikasi
Pendahuluan
Perusahan besar yang melakukan
diversifikasi dengan menguasai berbagai macam bisnis telah lama menjadi
perhatian banyak pihak. (Gold & Luchs, 1993). Pendapat sinikal terhadap
diversifikasi didasari pada anggapan bahwa perusahaan yang beranjak dari satu
type aktivitas ke multi-aktivitas adalah tidak baik, khususnya jika dikaitkan
dengan proses menjadi bisnis besar. Tidak disukai karena kecenderungan menjadi
sangat powerful, dan dalam hal tertentu melakukan subsidi silang antar unit
bisnis untuk mendesak pesaing keluar dari industri. Perusahaan yang melakukan
diversifikasi dikatakan cenderung anti kompetisi. Selain anti-kompetisi,
perusahaan diversifikasi juga tidak menambah nilai bagi bisnis utama (Porter,
1987)
Diversifikasi sebagai salah satu
alternatif strategi korporasi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis:
konsentrik, konglomerate, dan horisontal (David, 1997). Ketiga jenis
diversifikasi tersebut termasuk dalam kelompok alternatif strategi dalam
membangun Grand Strategy, yang dimaksudkan untuk memberi arah dan landasan bagi
upaya koordinasi dan pencapaian sasaran jangka panjang (Pearce & Robinson,
2003). Dari pendekatan lain (Hill & Jones, 1998), diversifikasi dapat pula
dibedakan ke dalam dua type: terkait (related diversification) dan tak terkait
(unrelated diversification). Keterkaitan mengacu pada hubungannya dengan bisnis
utama yang sedang digeluti, atau beberapa bisnis yang membentuk rantai nilai
(value chain) dalam suatu kelompok usaha (Nathanson & Casanno, 1982 dalam
Besanko et all, 1996).
Beberapa persoalan krusial dalam
diversifikasi antara lain kapan sebaiknya perusahaan melakukan diversifikasi,
bagaimana manajer menciptakan value melalui diversifikasi, apa saja pilihan
bisnis yang dapat diambil, dan bagaimana strategi untuk memasuki bisnis baru
dalam konteks diversifikasi.
Alasan Diversifikasi
Sebagian besar perusahaan
mempertimbangkan untuk melakukan diversifikasi ketika menghasilkan sumber daya
keuangan yang melebihi (in excess) dari jumlah yang dibutuhkan untuk
mempertahankan keunggulan daya saing (competitive advantage) bisnis utamanya
(Penrose, 1959). Penrose menunjuk dua alasan diversifikasi, internal dan
eksternal yang merupakan
dorongan (inducement) bagi pertumbuhan. External inducement
merupakan dorongan dari yang memberi peluang bagi dibukanya
bisnis baru., seperti munculnya Internet membuka peluang
bagi penerbit koran cetak untuk membua bisnis layanan
koran online. Dalam hal lain dorongan luar dapat pula dalam bentuk ancaman
yang kemudian ditanggapi dengan membentuk usaha baru. Contoh
klasik fenomena ini ketika perusahaan operator
telekomunikasi ramai – ramai memasuki bisnis layanan Voice Over IP (VoIP) ketika menyadari bahwa pendapatan mereka cenderung
turun setelah munculnya layanan VoIP yang lebih efisien
dibandingkan dengan teknologi sirkit switch. Internal
inducement, di lain pihak, adalah kondisi di dalam perusahaan yang memberi
sinyal untuk diversifikasi disebabkan oleh kesadaran bahwa
perusahaan tidak lagi mampu melayani pasar yang sedang
digelutinya, atau keinginan untuk mendaya – gunakan resource
base yang ada.
Pada perkembangan lanjut,
alasan diversifikasi berkisar dari upaya tradisional untuk
peningkatan efisiensi seperti eksploitasi lingkup ekonomis
(economic of scope), dan mendisiplinkan manajer yang
kinerjanya jelek, hingga yang didasari kebutuhan untuk mengatasi
munculnya masalah – masalah baru seperti penyalah-gunaan kewenangan oleh
manajer puncak (Besanko et all, 1996). Diversifikasi yang
dimaksudkan untuk mencapai skala ekonomis maupun lingkup
ekonomis dilakukan dalam dua cara: menjual produk sejenis
(similar products) atau menjual kepada pasar yang sama (similar market).
Perusahaan dengan tingkat keaneka-ragaman produk dan pasar yang
rendah memiliki kemampuan yang lebih baik dalam
menyebarkan kemampuannya dan mengeksploitasi lingkup
ekonomis dibandingkan dengan perusahaan yang tingkat keaneka-ragaman produk
dan pasarnya tinggi.
Selain alasan untuk
memperoleh economies of scope, ada tiga alasan lain untuk
diversifkasi: sinergi keuangan (financial synergies),
economizing on transaction costs, dan memenuhi objektif
manajerial. Sinergi keuangan dilandasi pada pemikiran bahwa untuk mencapai sukses jangka panjang, suatu perusahaan yang sedang tumbuh
memerlukan portofolio bisnis yang menjamin kecukupan dan
kestabilan arus kas agar dapat mendanai semua aktivitas
perusahaan. Strategi portofolio memungkinkan perusahaan induk memanfaatkan profit yang diperoleh suatu unit bisnis untuk mensubsidi
unit bisnis lainnya.
Namun demikian strategi semacam ini
tidak menciptakan nilai tambah kepada pemilik perusahaan (share holders). Jika
demikian, pemilik perusahaan dapat melakukan diversifikasi sendiri tanpa
keterlibatan manajer perusahaan
Meskipun economies of scope sebagian
besar menjadi alasan utama diversifikasi, permasalahan biaya transaksi
(transaction costs) juga relevan disebut sebagai alasan lain bila diversifikasi
dilakukan melalui merger dan akuisisi (Teece, 1982). Perusahaan multiproduk
merupakan pilihan efisien ketika koordinasi di antara perusahaan yang
beroperasi secara independen sulit dilakukan oleh adanya permasalahan biaya
transaksi dan persoalan – persoalan lain yang tersembunyi. Persoalan biaya
transaksi muncul mana kala proses produksi melibatkan sejumlah aset khusus
seperti Sumber Daya Manusia (SDM), Standard Operating Procedures (SOP), dan lainnya
yang sifatnya proprietary.
Alasan manajerial untuk melakukan
diversifikasi berorientasi pada kepentingan untuk menjaga dan memperluas posisi
eksekutif dalam membuat keputusan dari pada motif peningkatan efisiensi atau
menambah kekayaan pemegang saham. Dalam hal seperti ini, diversifikasi efisien
untuk manajer, tetapi tidak efisien untuk pemegang saham. Untuk mengurangi
resiko kehilangan pekerjaan manajer terpaksa harus mengurangi resiko berkinerja
buruk, salah satu caranya adalah melalui akuisisi tak terkait. Namun demikian
masih ada sisi positif yang didapat dari motif manajer dalam melakukan
diversifikasi. Diversifikasi tak terkait yang dihasilkan dari keputusan manajer
dapat meningkatkan insentif dengan mengurangi biaya motivasi manajer dalam skema
pay-for-performance (Debra Aron, 1988 dalam Besanko et all, 1996). Prahalad
& Bettis (1986) mengajukan argumen, lingkup ekonomi dapat dicapai melalui
penyebaran ketrampilan manajemen puncak yang tergolong langka ke dalam bisnis
lain yang tidak terkait dengan bisnis utama.
Menciptakan Value Melalui
Diversifikasi
Majalah Fortune melaporkan hasil penelitian
yang menunjukkan bahwa 33 hingga 50% akuisisi berakhir dengan divestasi (Dess,
Lumpkim, & Taylor, 2004). Hal ini mengindikasikan bahwa peluang sukses strategi
diversifikasi hampir sama dengan resiko kegagalannya. Pertanyaannya, mengapa
ada diversifikasi yang sukses namun mengapa ada pula yang gagal?
Jawaban kunci atas pertanyaan ini adalah sinergi. Menciptakan value bagi shareholder saja tidak cukup. Sinergi antara bisnis utama dan
bisnis baru hasil diversifikasi baik yang terkait
(related) maupun tak terkait (unrelated) diperlukan guna memastikan
tercapainya value yang maksimum dari langkah diversifikasi yang diambil.
Bentuk sinergi diwujudkan dalam hubungan horisontal atau
vertikal. Hubungan horisontal berupa penggunaan bersama
oleh beberapa unit bisnis atas sumber daya tak berwujud (intangible
resources) seperti kompetensi inti dan sumber daya berwujud seperti fasilitas
produksi, saluran distribusi, dan lain sebagainya. Adapun
hubungan vertikal merupakan penciptaan value yang
diturunkan dari induk perusahaan.
Strategi
Diversifikasi
Karakteristik
diversifikasi ditentukan dari keterkaitan dengan bisnis utama yang menjadi
kompetensi inti (Barney, 2001). Dalam menjalankan strategi diversifikasi,
perusahaan dapat memilih tiga alternatif: diversifikasi terbatas (limited
diversification), diversifikasi terkait (related diversification), atau
diversifikasi tak terkait (unrelated diversification). Ada kesamaan dan
perbedaan antara argumen Barney dan David. Dilihat dari esensinya konsentrik
dalam David sama dengan diversifikasi terkait dalam Barney. Demikian halnya,
konglomerat dapat disamakan dengan diversifikasi tak terkait. Sementara
pengertian diversifikasi terbatas tidak persis sama dengan diversifikasi
horisontal. Diversifikasi terbatas terjadi ketika
Mengacu
David, konsentrik merupakan penambahan portofolio bisnis baru yang masih
terkait dengan bisnis utama, sebagai contoh Kelompok Usaha Kompas masuk ke bisnis
penerbitan (Elexmedia Komputindo), toko buku (Gramedia) dan penyiaran (Radio
Sonora dan TV7). Konglomerat, menambah bisnis baru yang tidak terkait dengan
bisnis utama, sebagai contoh, Kelompok Usaha Kompas masuk ke bisnis Hotel
(Santika) atau ritel (Grasera). Sedangkan diversifikasi horisontal dilakukan
dalam wujud menambah bisnis baru yang tidak terkait dengan produk jasa bisnis
utama, yang ditawarkan kepada pelanggan bisnis utama. Contoh horisontal,
Kelompok Usaha Kompas membuka bisnis jasa konsultansi perjalanan (travel biro)
yang khusus ditujukan bagi pelanggan Koran dan Majalah Kelompok Kompas –
Gramedia.
Tentang AJB Bumiputera
Bumiputera berdiri atas prakarsa
seorang guru sederhana bernama M. Ng. Dwidjosewojo – Sekretaris
Persatuan Guru-guru Hindia Belanda (PGHB) sekaligus Sekretaris I Pengurus Besar Budi
Utomo. Dwidjosewojo menggagas pendirian perusahaan asuransi karena didorong
oleh keprihatinan mendalam terhadap nasib para guru bumiputera (pribumi). Ia mencetuskan
gagasannya pertama kali di Kongres Budi Utomo, tahun 1910. Dan kemudian
terealisasi menjadi badan usaha – sebagai salah satu keputusan Kongres pertama PGHB di
Magelang, 12 Februari 1912 (http://www.bumiputera.com).
Tidak seperti perusahaan berbentuk
Perseroan Terbatas (PT) – yang kepemilikannya hanya oleh pemodal
tertentu; sejak awal pendiriannya Bumiputera sudah menganut sistem kepemilikan
dan kepenguasaan yang unik, yakni bentuk badan usaha “mutual” atau “usaha bersama”.
Semua pemegang polis adalah pemilik perusahaan – yang mempercayakan wakil-wakil
mereka di Badan Perwakilan Anggota (BPA) untuk mengawasi jalannya perusahaan.
Asas mutualisme ini, yang kemudian dipadukan dengan idealisme dan profesionalisme
pengelolanya, merupakan kekuatan utama Bumiputera hingga hari ini.
Hingga semester pertama 2005
Bumiputera mengkaryakan sekitar 18.000 pekerja, melindungi
lebih dari 9.7 juta jiwa rakyat Indonesia, dengan jaringan kantor sebanyak 576 di seluruh
pelosok Indonesia; tengah berada di tengah capaian baru industri asuransi Indonesia. Sejumlah
perusahaan asing menyerbu dan masuk menggarap pasar domestik.
FALSAFAH
Sebagai perusahaan perjuangan, Bumiputera memiliki
falsafah sebagai berikut :
•
Idealisme, Senantiasa memelihara nilai-nilai
kejuangan dalam mengangkat
kemartabatan anak bangsa sesuai sejarah pendirian
Bumiputera sebagai perusahaan
perjuangan.
•
Kebersamaan, mengedepankan sistem kebersamaan
dalam pengelolaan
perusahaan dengan memberdayakan potensi komunitas
Bumiputera dari, oleh dan
untuk komunitas Bumiputera sebagai manifestasi
perusahaan rakyat.
•
Profesionalisme, memiliki
komitmen dalam pengelolaan perusahaan dengan
mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik (good
corporate governance) dan
senantiasa berusaha menyesuaikan diri terhadap
tuntutan perubahan lingkungan.
VISI
“Bumiputera ingin menjadi asuransinya bangsa
Indonesia”.
MISI
Menjadikan Bumiputera senantiasa berada di benak dan
di hati masyarakat Indonesia,
dengan:
Memelihara keberadaan Bumiputera
sebagai perusahaan perjuangan bangsa
Indonesia.
Mengembangkan korporasi dan
kooperasi yang menerapkan prinsip dasar gotong-
royong.
Menciptakan berbagai produk dan
layanan yang memberikan manfaat optimal bagi
komunitas Bumiputera.
Mewujudkan perusahaan yang berhasil
baik secara ekonomi dan sosial.
Analisis Diversifikasi Kelompok Usaha Bumiputera
Kesejarahan dan Alasan Diversifikasi
Mardi Mulyo dan Redball, diterima
sebagai anak perusahaan karena faktor kesejarahan dengan
keluarga pendiri dan direksi. Bumida, didirikan untuk menambah lini bisnis melayani
asuransi kerugian. Bank Bumiputera, didirikan menyambut pakto 88, dan meniru asuransi
jiwa di Jepang dan Swiss. Wisma Bumiputera, Informatik OASE, Bumiputera Multimedia,
Mitrasarana, dan Hotel Bumi Wiyata pada awalnya didirikan untuk melayani kebutuhan
internal. Bumiputera-BOT Finance dan Bapindo-Bumi Sekuritas didirikan sebagai
strategi aliansi penyaluran excessive financial. AJJHI merupakan aliansi dengan JH of USA
untuk melayani asuransi kumpulan (group / corporate).
Kinerja Kelompok Usaha Bumiputera
Perusahaan induk selalu untung.
Sebagian besar unit bisnis yang tidak terkait, tidak menyumbang
keuntungan, ketergantungan kepada induk besar, namun tetap dipertahankan karena
interest manajer. Unit bisnis terkait menghasilkan laba, Bank Bumiputera dan Bumida sudah
go publik.
Kontribusi Unit Bisnis Dalam Rantai Nilai
Unit bisnis tidak terkait dianggap
sebagai supporting elements sebagaimana konsep rantai nilai yang
dikembangkan Porter. Unit bisnis terkait, menghasilkan sinergi (horisontal dan vertikal).
Simpulan dan Saran
Simpulan
Keputusan melakukan diversifikasi di
Kelompok Usaha Bumiputera lebih banyak dipengaruhi oleh konteks
kesejarahan, kelebihan likuiditas, motivasi manajer untuk menciptakan
jabatan, dan membangun sinergi. Ketidak – mampuan unit - unit bisnis tak terkait
secara konsisten menghasilkan laba dipengaruhi oleh faktor ketergantungan
mereka kepada
induk, dan rendahnya enterpreneurship para manajer. Strategi diversifikasi KU Bumiputera
mendekati kebenaran pernyataan Porter.
SaranDalam jangka panjang beberapa
unit bisnis tak terkait akan terus membebani induk. Keputusan
melepas (spin off) unit yang terus merugi perlu dipertimbangkan. Penambahan unit bisnis
baru, jika diinginkan, sebaiknya yang terkait dengan bisnis utama, dengan memperhatikan
resource base dan core competency yang dimiliki, serta mitra sinergi yang memiliki
corporate value yang bersesuaian. Era diversifikasi bermotifkan perluasan jabatan
sebaiknya diakhiri.
- Gbrkan dalam bentuk diagram ringkasan model yang menjelaskan hubungan antara
kinerja perushaan anda dengan strategi diversifikasi
Jawaban: di Ppt Jawaban manstra


Tata
kelola internal
- Diagram alasan mengakuisisi perusahaan lain
Mengapa IBM mengakuisisi MRO
Baru-baru
ini, IBM mengumumkan bahwa akan $ 740.000.000 dalam perolehan tunai sebesar MRO
Software, Inc (penyedia terkenal konsultasi dan perangkat lunak manajemen aset)
untuk terus meningkatkan divisi perangkat lunak - tingkat tertinggi bisnis
untuk memenangkan persaingan pasar. IBM mengatakan laba bersih per saham akan $
25,80 (premi sebesar 19%) setuju untuk membeli saham MRO, mengharapkan
kesepakatan untuk menunggu sampai kuartal keempat tahun ini untuk
menyelesaikan.
Bahkan, MRO dengan asal IBM dalam. Sejak tahun 1996, dan IBM bekerja sama bersama-sama untuk manufaktur, minyak dan gas, energi dan utilitas, industri, pendidikan tinggi dan solusi transportasi selama lebih dari 40 pelanggan. Pada tahun 2002, kedua perusahaan mengumumkan sebuah aliansi strategis yang berfokus pada energi dan sektor publik, untuk menyediakan pelanggan dengan perangkat keras, perangkat lunak dan layanan, termasuk aset manajemen perusahaan solusi lengkap yang membantu pelanggan memperoleh pendapatan ekuitas investasi yang lebih besar , kedua perusahaan bergabung dalam pemasaran global dan penjualan untuk solusi manajemen perusahaan aset, telah mencapai hasil yang sangat baik. Lalu, empat tahun kemudian, IMB Mengapa MRO membeli, daripada terus dan MRO di tingkat strategis, Uni kerjasama?
Ada dua alasan. Pertama, adalah untuk memberikan solusi yang lebih lengkap dan memperhatikan. Setelah akuisisi MRO, IBM akan menerima aset profesional MRO's suite manajemen (MXES) - Maximo. Asset Management Suite dibangun pada platform integrasi teknologi portofolio produk, independen dari masing-masing produk dapat diterapkan, atau pelaksanaan keseluruhan. Tapi MXES MRO termasuk perusahaan manajemen aset yang kuat (titik beratnya) dan manajemen layanan TI (ITSM) solusi, yang meliputi manajemen aset TI (Itam), dan fitur kepatuhan penuh dengan IT Infrastructure Library (ITIL) penerapan terbaik untuk layanan Taiwan. Melalui akuisisi tersebut, para mitra saluran penjualan dua perusahaan melalui produk MRO IBM penjualan, dapat memperluas TI konsultasi manajemen aset dan penjualan.
Kedua, titik beratnya air uji pasar perangkat lunak. Saat ini, aset industri manajemen tradisional, meningkatnya permintaan, terutama dalam pengelolaan aset perusahaan besar kebutuhan menjadi jelas. Sebagai penyedia terkemuka peralatan pabrik manajemen MRO, fasilitas, IT, aset perangkat lunak dan jasa perangkat lunak dan perusahaan konsultan, pelanggan tidak hanya Inggris BP, China National Offshore Oil (CNOOC) seperti pengguna bisnis besar, tetapi juga U. S. Departemen Pertahanan, U. S. Federal Administrasi Penerbangan dan Antariksa (NASA), para U. S. Treasury dan departemen pemerintah lainnya yang besar dan penting. IBM melalui akuisisi MRO, dapat memberikan jasa konsultasi independen titik beratnya solusi ke pasar titik beratnya saat ini. Terhadap IBM, dalam bisnis, adalah pelengkap pertama usaha penurunan pendapatan asli total situasi memang hal yang baik.
Bahkan, MRO dengan asal IBM dalam. Sejak tahun 1996, dan IBM bekerja sama bersama-sama untuk manufaktur, minyak dan gas, energi dan utilitas, industri, pendidikan tinggi dan solusi transportasi selama lebih dari 40 pelanggan. Pada tahun 2002, kedua perusahaan mengumumkan sebuah aliansi strategis yang berfokus pada energi dan sektor publik, untuk menyediakan pelanggan dengan perangkat keras, perangkat lunak dan layanan, termasuk aset manajemen perusahaan solusi lengkap yang membantu pelanggan memperoleh pendapatan ekuitas investasi yang lebih besar , kedua perusahaan bergabung dalam pemasaran global dan penjualan untuk solusi manajemen perusahaan aset, telah mencapai hasil yang sangat baik. Lalu, empat tahun kemudian, IMB Mengapa MRO membeli, daripada terus dan MRO di tingkat strategis, Uni kerjasama?
Ada dua alasan. Pertama, adalah untuk memberikan solusi yang lebih lengkap dan memperhatikan. Setelah akuisisi MRO, IBM akan menerima aset profesional MRO's suite manajemen (MXES) - Maximo. Asset Management Suite dibangun pada platform integrasi teknologi portofolio produk, independen dari masing-masing produk dapat diterapkan, atau pelaksanaan keseluruhan. Tapi MXES MRO termasuk perusahaan manajemen aset yang kuat (titik beratnya) dan manajemen layanan TI (ITSM) solusi, yang meliputi manajemen aset TI (Itam), dan fitur kepatuhan penuh dengan IT Infrastructure Library (ITIL) penerapan terbaik untuk layanan Taiwan. Melalui akuisisi tersebut, para mitra saluran penjualan dua perusahaan melalui produk MRO IBM penjualan, dapat memperluas TI konsultasi manajemen aset dan penjualan.
Kedua, titik beratnya air uji pasar perangkat lunak. Saat ini, aset industri manajemen tradisional, meningkatnya permintaan, terutama dalam pengelolaan aset perusahaan besar kebutuhan menjadi jelas. Sebagai penyedia terkemuka peralatan pabrik manajemen MRO, fasilitas, IT, aset perangkat lunak dan jasa perangkat lunak dan perusahaan konsultan, pelanggan tidak hanya Inggris BP, China National Offshore Oil (CNOOC) seperti pengguna bisnis besar, tetapi juga U. S. Departemen Pertahanan, U. S. Federal Administrasi Penerbangan dan Antariksa (NASA), para U. S. Treasury dan departemen pemerintah lainnya yang besar dan penting. IBM melalui akuisisi MRO, dapat memberikan jasa konsultasi independen titik beratnya solusi ke pasar titik beratnya saat ini. Terhadap IBM, dalam bisnis, adalah pelengkap pertama usaha penurunan pendapatan asli total situasi memang hal yang baik.
- Tiga startegi perusahaan jika melakukan
restrukturisasi bisnis
Suatu
Organisasi/Perusahaan agar tetap eksis dan selalu mengikuti perkembangan
zaman(modern) membutuhkan adanya restrukturisasi organisasi.Sebelum perusahaan
melakukan restrukturisasi organisasi terlebih dahulu harus melakukan analisa
daya saing perusahaan dalam industri. Analisa ini mempunyai tujuan untuk
mengetahui daya saing (competitive advantage) perusahaan relatif dalam industry
serta menetukan langkah strategis berdasarkan keunggulan strategis yang
dimiliki oleh perusahaan.Faktor-faktor yang menjadi dasar pertimbangan dalam
analisa ini adalah faktor-faktor keunggulan strategis yaitu :
a.Pangsapasar
b.Biayaperunit
c.Jenisdanjumlahitem
d.Reputasiperusahaandancitraproduk
eKapasitasproduksi
f.Efisiensi
g.ProfitMargin
h.Pelayanan
i.WaktuPengiriman
j.Kualitasproduk
Pengukuran daya saing perusahaan dilakukan dengan cara yang sama yaitu menentukan rating dari masing-masing elemen terdahulu, kemudian dilakukan pembobotan dan selanjutnya ditentukan nilai dari masing-masing elemen tersebut. Rating dilakukan dengan cara melakukan perbandingan antara perusahaan dengan para pesaingnya. Skala yang digunakan dalam menentukan rating, digunakan kategori sebagai berikut:
b.Biayaperunit
c.Jenisdanjumlahitem
d.Reputasiperusahaandancitraproduk
eKapasitasproduksi
f.Efisiensi
g.ProfitMargin
h.Pelayanan
i.WaktuPengiriman
j.Kualitasproduk
Pengukuran daya saing perusahaan dilakukan dengan cara yang sama yaitu menentukan rating dari masing-masing elemen terdahulu, kemudian dilakukan pembobotan dan selanjutnya ditentukan nilai dari masing-masing elemen tersebut. Rating dilakukan dengan cara melakukan perbandingan antara perusahaan dengan para pesaingnya. Skala yang digunakan dalam menentukan rating, digunakan kategori sebagai berikut:
Rating1Kurangsekali
Rating2Kurang
Rating3Netral
Rating4Kuat
Rating5Kuatsekali
Setelah
kita mengetahui posisi daya saing perusahaan maka dilakukanlah restruturisasi
organisasi berdasarkan peta posisi strategis perusahaan dan industri dimana
perusahaan tumbuh.Hal ini dilakukan karena ada bagian-bagian (unit-unit)
tertentu yang pola kerjanya menjadi tidak relevan, karena tuntutan lingkungan
yang sangat dinamis, telah berkembang menjadi lebih kompleks (menjadi seperti
organisasi tersendiri) sehingga strategi koordinasinya perlu dipikirkan dari
yang bersifat proses menjadi output (lebih terdesentralisasi).Disamping itu ada
bagian yang kurang dinamis sehingga membutuhkan restrukturisasi
kerja,menyangkut perbaikan metode atau system kerja,konsep-konsep baru yang
dapat menciptakan pekerjaan yang lebih menantang dan meningkatkan kualitas
kehidupan kerja.Restrukturisasi Organisasi dilakukan untuk
meminimalisasiterjadinya resiko akibat adanya persaingan dan perubahan selera
konsumen seiring dengan perkembangan zaman dimana resiko-resiko yang
diminimalkan meliputi :
1. Technologi Risk, yakni resiko yang
ditimbulkan dengan adanya perkembangan dan kemajuan teknologi.
2. People Risk, yakni adanya SDM yang tidak
berkualifaid dan tidak sesuai dengan tuntutan zaman,dan kelangkaan SDM ekspert
dan kualifaid yang menyebabkan terjadinya pembajakanSDM.
3. Organizational Risk, yakni terjadinya
Overload/kemampuan organisasi tidak sesuai kapasitasnya
4. Tools Risk, yakni pengembangan tools yang
tidak bisa diintegrasikan,tidak dikuasai pengembangatautidakmemenuhikebutuhan
5. Requirement Risk, yakni Adanya informasi
yang tidak lengkap,kurang detailnya proses bisnis dan perubahan selera yang begitu
cepat.
6. Estimate Risk, yakni adanya over
budget,akibat kesalahan estimasi,berkaitan dengan resource,dan asumsi
pendapatan yang keliru dalam penetapan anggaran.
Restrukturisasi
Organisasi,biasanya dilakukan dengan pemisahan fungsi dan tanggung jawab yang
jelas dan tegas sebagai upaya mengurangi jalur birokrasi (delayering). Dalam
pelaksanaan program delayering tersebut telah disinergikan dengan penggalian
peta potensi personil, dan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. PELIHARA & OPTIMALKAN (Butuh Ensuring
results).Ini diberikan kepada karyawan yang memiliki motivasi dan potensi yang
tinggi
2. Berikan Training Needs Karyawan Butuh
(Envisioning & Enabling).Ini diberikan kepada karyawan yang memiliki
motivasi yang tinggi tetapi potensi rendah
3. Beri kesempatan mungkin hubu-ngan
interpersonal kurang harmonis. ( Butuh Energizing dan Empowering,biasanya dalam
bentuk insentif dan aktualisasi diri ).Ini diberikan kepada karyawan yang
memiliki potensi yang tinggi tetapi motivasinya rendah.
4. Dead Woods & Trouble Makers,Push them out of organization.Ini diberikan kepada karyawan yang potensi dan motivasinya rendah
4. Dead Woods & Trouble Makers,Push them out of organization.Ini diberikan kepada karyawan yang potensi dan motivasinya rendah
Ada beberapa hipotesis tentang usia dan
besaran organisasi terhadap strukturnya
1. Semakin tua organisasi maka semakin terformalisasi perilakunya.
1. Semakin tua organisasi maka semakin terformalisasi perilakunya.
2. Semakin besar organisasi maka unit-unitnya
makin terspesialisasi
3. Semakin tua organisasi semakin meningkat
jenjang hirarkinya
4. Semakin tua organisasi semakin memerlukan
koordinasi antar unit
Ada lima elemen penting yang harus dilakukan
restrukturisasi organisasi agar suatu perusahaan dapat menjadi perusahaan yang
Modern dan Bermutu.
§
Sumberdaya Manusia, dalam hal mengurangi pegawai (degrading), berorientasi pada
pegawai yang pensiun, mengundurkan diri, dan meninggal dunia, diisi kembali
melalui seleksi terbuka menggunakan konsep Zero Growth, peningkatan kualitas
dan jalinan hubungan antar lini telah dilakukan dengan pelatihan-pelatihan yang
teprogram dan outbound untuk semua pegawai tetap.
§
Produksi/Proses Bisnis, Rebuild Tempat Kerja, repair Mesin/alat dan improvement
dalam proses produksi yang bermuara pada peningkatan kualitas produk.
§
Pemasaran, reorientasi manajemen pemasaran, kepedulian dan jalinan hubungan
dengan Pelanggan besar yang didasarkan pada kontrak long term dan berbasis
komunitas.
§
Financial Engineering, penataan kembali manajemen keuangan yang lebih
baik.Dengan berpatokan kepada Perencanaan keuangan dasar yakni mencari
pengendalian operasional yang lebih baik melalui pemenuhan anggaran.Pembiayaan
yang didasarkan aktivitas dan berorientasi pada margin.
§
Investasi (aliansi), investasi diimbangi sinergi sumberdaya yang dimiliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar