Kamis, 12 November 2015

PRELIUM-5

JAWABLAH 3 dari 4 SOAL DI BAWAH, DIMANA NOMOR SATU DAN TIGA WAJIB DIKERJAKAN. DALAM MENGALOKASIKAN WAKTU SAUDARA, MAKA PERHATIKANLAH NILAI/POIN TIAP SOAL (TOTAL  NILAI ADALAH 100 POIN). TIDAK ADA BONUS, MELAINKAN PENALTY SEBESAR 40 POIN YANG MENGERJAKAN LEBIH DARI 3 SOAL/JAWABAN. TIDAK DIPERKENANKAN MEMBUKA BUKU APAPUN PADA UJIAN INI.

Soal Selasa, 13 Juli Tahun 2004

1.   Tulislah esey tentang perbedaan analisis Keynesian, New Keynesian, Monetarist, supply sider, New Classical economics (rational expectation) dan strukturalis pada satu topik tertentu yang saudara kuasai, misalnya isu AS dan AD atau debat Kurva Philiips (trade-off antara inflasi dan pengangguran) dan lainnya. (nilai 40 poin)

Jawab:

  1. Analisis Keynesian
Keynesian merupakan suatu aliran yang melakukan perubahan terhadap model-model dari Keynesian ....
Adapun gagasan-gagasan utama (main idea) sebagai hasil analisis adalah:
1)    Perekonomian pasar (market economy) pada dasarnya tidak stabil (fundamentally unstable) dan kegiatan ekonomi banyak diliputi ketidakpastian (uncertantainty) yang disebabkan fluktuasi didalam investasi sebagai akibat perubahan-perubahan didalam ekspectasi bisnis.
2)    Kekuatan-kekuatan koreksi otomatis (self correcting) yang ada dalam perekonomian bekerjanya sangat lemah dan lamban (very weak and slowly). Ketidak sempurnaan pasar (market unperfection) yang terjadi serta adanya serikat pekerja dan korporasi yang memiliki pengaruh kuat seringkali menyebabkan harga-harga menjadi kurang fleksibel atau kaku (rigid) dan juga mengurangi kemampuan dari kekuatan-kekuatan koreksi otomatis tersebut.
3)    Kebijakan manajemen permintaan agregat yang diskresioner (discretionary aggregate demand management) merupakan sesuatu yang penting (necessary), sehingga pemerintah hendaknya selalu siaga untuk campur tangan apabila perekonomian menunjukkan tanda-tanda akan terjadi resesi. Selain itu, dalam rangka menciptakan pembagian pendapatan dan kekayaan yang lebih adil dan juga untuk mengendalikan pengangguran dan inflasi kebijakan managemen permintaan aggregat yang bersifat diskresioner seperti kebijakan fiskal dan monetaris perlu dilengkapi dengan kebijakan-kebijakan sisi penawaran (supply measure) seperti kebijakan pendapatan d, perencanaan dalam bentuk pengawasan langsung (direct control) terhadap upah, harga dan pendapatan.


  1. Aliran Monetaris
Aliran ini merupakan suatu aliran yang dikenal dengan istilah school of thought. Aliran ini menghendaki agar analisis tentang penentuan pendapatan memberi penekanan pada pentingnya peranan jumlah uang yang beredar (money supply) didalam perekonomia. Artinya menurut aliran monetaris, jumlah uang beredar merupakan penentu yang utama (main determinant) dari tingkat kegiatan ekonomi dan harga-harga. Dalam jangka pendek (short-run) jumlah uang beredar mempengaruhi tingkat output dan kesempatan kerja (level of output and employment) sedangkan dalam jangka panjang (long-run) jumlah uang beredar mempengaruhi tingkat harag (rate of inflation)

            Adapun gagasan pokok sebagai analisis dari aliran monetaris adalah:
1)    Sektor swasta (private economy) pada dasarnya fundamentacly stable. Hal ini didasarkan pada kuantitas uang dari kaum klasik yang mengatakan bahwa peubah-peubah kecepatan perputaran uang (V) dan pendapatan (Y) dari persamaan MV = PY adalah konstan, sehingga menggambarkan jumlah uang beredar hanya akan menyebabkan perubahan dalam peubah tingkat harga.
2)    Kebijakan makroekonomi deskresioner, seperti kebijakan fiskal dan moneter hanya akan membuat keadaan perekonomian menjadi lebih buruk. Bahkan secara ekstrim dikatan bahwa kebijakan makroekonomi yang ada lebih merupakan bagian dari masalah dan bukan bagian dari solusi. Karena itu, kaum monetaris merekomendasikan kepada para pembuat kebijakan untuk menggunakan aturan-aturan yang tetap, seperti aturan pertumbuhan moneter yang konstan, aturan anggaran berimbang dan tanpa campur tangan pemerintah.
3)    Harga-harga dan upah didalam perekonomian adalah relatif fleksibel yang akan menjamin keadaan keseimbangan selalu bisa diwujudkan.
4)    Jumlah uang beredar merupakan faktor penentu yang sangat penting dari tingkat kegiatan ekonomi secara keselurahan.

  1. Aliran Supply Sider
Aliran ini muncul dan berkembang sebagai respon terhadap masalah stagflasi suatu masalah yang teleh memberi corak dan warna tersendiri pada perekonomian di dunia. Penekanan dari aliran ini adalah pentingnya rangsangan dari pajak (incentive effects of taxation) didalam menentukan perialku dari perekonomian. Artinya dengan penurunan pajak di dalam tarif pajak marginal akan mendorong masyarakat untuk lebih giat dalam bekerja, menabung dan menginvestasikan uangnya yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas perekonomian. Selain itu meningkatnya produksi aggregat juga meningkatkan kemampuan untuk menciptakan kesempatan kerja yang pada gilirannya dapat mengurangi pengangguran. Dengan kata lain peningkatan penawaran aggregat (aggregate supply) melalui penurunan pajak marginal merupakan cara terbaik untuk mengatasi pengangguran dan inflasi yang ada.
            Aliran ini juga membenarkan campurtangan pemerintah didalam perekonomian, karena dengan campur tangan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk bekerja keras, menabung dan menginvestasikan uangnya untuk meningkatkan produktivitas perekonomian.
Adapun pokok-pokok penegasan penting hasil analisis aliran ini adalah:
1)    Penawaran merupakan unsur penting dari analisis ekonomi
2)    Penigkatan penawaran output totak penting bagi kesejahteraan individu dan ketahanan nasional
3)    Penawaran output tergantung pada penawaran atau ketersediaan sumberdaya (supply of resources)
4)    Penawaran sumberdaya dan output total dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah (public policy)
5)    Penawaran sumberdaya juga dipengaruhi oleh sistem perpajakan
6)    Penurunan pajak dapat meningkatkan pendapatan nasional dengan jumlah yang lebih besar dari pada penurunan pajak.
7)    Penurunan pajak akan meningkatkan penerimaan pajak total
8)    Penurunan pajak yang tidak diikuti dengan penurunan pengeluaran pemerintah akan meningkatkan penerimaan total lewat pengaruhnya terhadap sisi penawaran.
9)    Penurunan didalam tarif pajak yang tidak diikuti dengan penurunan pengeluaran pemerintah akan meningkatkan output riil, sehingga akan menurunkan penerimaan pajak secara keseluruhan.
10) Penurunan pajak merupakan cara terbaik untuk menjinakkan masalah inflasi adalah dari sisi penawaran.

  1. Aliran New Classical Economics (rational expectation)
Aliran ini berkembang sebagai reaksi masalah stagflasi yaitu suatu kombinasi antara stagnasi ekonomi dengan tingkat inflasi yang tinggi. Hakikat dari alira ini adalah dengan asumsi bahwa pasar akan terus menerus berada dalam keseimbangan (market are contribusesly in equilibrium). Selain itu aliran ini juga mengasumsikan adanya ekspectasi yang rasional dari para pelaku ekonomi yang dibentuk berdasarkan informasi ekonomi yang relevan termasuk didalamnya dampak kebijakan yang diambil pemerintah, sehingga para pelaku ekonomi tidak mungkin akan membuat kesalahan yang sistematis dan kalau sampai membuat kesalahan maka akan menimbulkan gangguan terhadap full employment didalam perekonomian.
            Secara umum garis besar hasil analisis dari pandangan-pandangan aliran ini adalah:
1)    Perekonomian pasar pada dasarnya adalah stabil.
2)    Fleksibilitas upah dan harga akan menciptakan sifat-sifat koreksi yang kuat secara otomatis (strong self corecting)
3)    Dalam membentuk ekspection para pelaku ekonomi selalu menggunakan setiap informasi relevan yang tersedia dengan efesien dan tidak akan emmbuat kesalahan yang bersifat sistematis (berulang)
4)    Uang adalah netral (money is neutral). Perubahan-perubahan yang bersifat antisipatif didalam jumlah uang yang beredar (money suplly) hanya akan mempengaruhi tingkat harga dan tidak memiliki dampak terhadap struktur riil dari perekonomian.
5)    Kebijakan stabilisasi makroekonomi adalah tidak efektif karena setiap perubahan bersifat diskresioner (discrecionery macro economic policy) dapat diantisipasi oleh pelaku ekonomi, sehingga tidak akan mempunyai pengaruh terhadap perekonomian seperti yang diharapkan oleh para pembuat kebijakan. Olehnya itu menurut aliran ini agar kebijakan makroekonomi yang dikeluarkan pemerintah efektif, hendaknya dilakukan dengan cara gebrakan (surprism) agar pelaku ekonomi akan sulit untuk memperkirakan atau mengantisipasi dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan tersebut. Selain itu, aliran ini mengatakan bahwa tidak akan ada trade-off antara inflasi dan pengangguran.

  1. Aliran New Keynesian
Aliran ini muncul sebagai respon terhadap aliran ekonomi klasik baru, dimana aliran ini tidak sependapat dengan pandangan klasik baru dan mengatakan bahwa pasar akan selalu berada dalam keseimbangan sepanjang waktu.
            Aliran new keynesian melihat pasar tenaga kerja (labor market0 sebagai sesuatu yang sangat sentral; permintaan atau penawaran dipasar tenaga kerja secara langsung menentukan tingkat output maupun tingkat kesempatan kerja, namun dengan New Keynesian, pasar tenaga kerja tidak selalu dapat beroperasi dengan baik, dimana dalam kenyataannya justru cendrung memperlihatkan adanya kegagalan pasar (market failure) dalam arti harga dipasar tenaga kerja adanya upah riil (real wages) tidak menghasilkan penyesuaian untuk menciptakan kesempatan kerja penuh (full employment) secara terus menerus. Karena itu New Keynesian lebih menekankan perhatian khusus pada upaya untuk menjelaskan mengapa tingkat upah riil tersebut lambat mengalami perubahan terhadap keseimbangan pasar.
            Salah satu unsur penting yang menjadi perhatian aliran ini adalah menyangkut persoalan kekuatan harga dan upah (price and wage rigidity) artinya aliran ini berusaha menjelaskan sebab-sebab terjadinya kekuatan harga dan upah didalam perekonomian, karena dengan adanya kekuatan harga dan upah telah menyebabkan pasar sulit untuk mencapai “market clearing” dan sering terjadi adalah “non market clearing” sehingga aliran new keynesian makroekonomi biasa disebut sebagai : Non-New Keynesian clearig model” atau “macroeconomics of disequilibrium’
            Berkaitan dengan kekuatan harga dan upah, ada beberapa model yang dapat digunakan sebagai berikut:
1)    Kekuatan upah:
-       Model kontrak kerja
-       Model insider-outsider
-       Model kontrak-implisit
-       Model upah efesiensi

2)    Kekuatan harga:
-       Persaingan monopolistik
-       Model biaya menu

  1. Aliran strukturalis
Aliran ini muncul dan berkembang dengan melihat inflasi sebagai sesuatu yang berakar dari adanya berbagai kendala (constraints) atau kekuatan struktural termasuk didalamnya kelembagaan yang ada didalam perekonomian dinegara-negara sedang berkembang.
            Pandangan dari aliran ini pada dasarnya merupakan reaksi atau kritik terhadap pandangan kaum monetaris yang dianggap terlalu memusatkan perhatiannya hanya pada faktor moneter saja dan kurang memperhatikan non-moneter termasuk didalamnya faktor struktural dan kelembagaan. Selain itu aliran ini juga mengatakan bahwa inflasi merupakan sesuatu yang telah dapat dihindari oleh perekonomian yang sedang berkembang.
            Beberapa kendala yang menjadi penyebab kenaikan harga dinegara-negara sedang berkembang yaitu:
1)    Kendala penawaran bahan pangan yang bersifat inelastis.
2)    Kendala devisa (foreign exchange constraint).
Kendala ini timbul karena nilai pertumbuhan penerimaan devisa tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan akan barang impor meningkat berkenaan dengan usaha-usaha pembangunan yang semakin cepat, pertumbuhan penduduk dan upah ..... terealisasi yang cepat berlangsung dalam suatu .... dengan teknologi masih terbatas...... ketidakseimbangan struktual dan mobilitas faktor tidak sempurna.
3)    Kendala fiskal (fiscal constraints) yaitu kendala berupa tidak mencukupinya sumberdaya keuangan dalam negeri.


Perbandingan antara Aliran Keynesian, Moneteris, Makroekonomi Klasik Baru dan Makroekonomi Sisi Penawaran:

Persoalan (issue) yang menjadi perdebatan
Aliran Keynesian (Keynesianism)
Aliran Moneteris (Monetarism)
Aliran Makro-ekonomi Klasik Baru (Newclassical Macroeconomics)
Aliran Makro-ekonomi Sisi Penawaran (Supplyside acroeconomics)
Pandangan tentang ekonomi pasar (market economy)
Pada dasarnya tidak stabil (fundamentaily unstable)
Dalam jangka panjang stabil
Dalam jangka panjang stabil
Bisa stagnant kalau tidak ada insentif untuk bekerja, menabung dan menginvestasikan uang
Penyebab ketidakstabilan dalam perekonomian
Unequal antara S dan I (perubahan dalam AD) dan karena AS shocks
Kebijakan moneter yang tidak sesuai/tepat (fluktuasi dalam Ms)
Guncangan (shocks) jangka pendek dalam AS dan AD yang tidak terantisipasi
Perubahan di dalam penawaran agregat (AS)
Kebijakan makro yang tepat / sesuai (appropriate)
Kebijakan fiskal dan moneter yang aktif  dan sesekali menggunakan income policy
Aturan moneter, misalnya:constrant monetary growth rate rule
Aturan moneter, misalnya: constant
monetary growth rate rule
Kebijakan-kebijakan yang meningkatkan penawaran agregat (AS)
Pengaruh kebijakan moneter (money supply) terhadap perekonomian
Melalui perubahan dalam tingkat bunga yang kemudian mempengaruhi I dan NNP
Mempengaruhi permintaan agregat secara langsung yang kemudian mempengaruhi NNP
Tidak mempunyai pengaruh karena hasil (outcome) dari kebijakan tersebut dapat diantisipasi (anticipated)
Melalui pengaruhnya terhadap investasi yang kemudian mempengaruhi penawaran agregat
Pandangan tentang velositas uang
Tidak stabil
Stabil
Tidak ada kesepakatan/ konsensus
Tidak ada kesepakatan / konsensus
Pengaruh kebijakan fiskal terhadap perekonomian
Mempengaruhi AD dan NNP melalui proses pengganda
Tidak mempunyai dampak kalau tidak diikuti dengan perubahan dalam MS
Tidak mempunyai dampak karena hasil dari kebijakan tersebut dapat diantisipasi
Mempengauruhi NNP dan tingkat harga melalui perubahan di dalam AS
Pandangan tentang cost-push inflation
Mungkin saja terjadi karena guncangan dengan penawaran agregat
Tidak mungkin dalam jangka panjang kalau tidak terjadi pertumbuhan jumlah uang Ms yang berlebihan
Tidak mungkin dalam jangka panjang kalau tidak terjadi pertumbuhan jumlah uang beredar yang berlebihan
Mungkin (karena turunnya produtivitas, naiknya biaya yang disebabkan adanya regulasi dan sebagainya)
Sumber : Campbell R.McConnell and Stanley R.Brue (1990), Macroeconomics : Principles, Problems & Policies,p.392.

2. Tulis pula esey secara sistematik dan kaitkan dengan  perkembangan  school of thoughts teori ekonomi (historical)  tentang hal-hal berikut:
a. Isu  kelemahan  fondasi mikro dalam teori  ekonomi  makro dewasa ini (nilai 5 POINT)
Jawab :  (Muana Nanga hal 41)
Isu beberapa kelemahan (weaknesses) dari pandangan kaum klasik dengan mengatakan bahwa (1). Penurunan di dalam tingkat bunga tidak akan secara otomatis mendorong investasi bisnis secara memadai untuk mewujudkan kesempatan kerja penuh (full employment). Keynes mengatakan bahwa rencana investasi oleh sektor bisnis itu selain ditentukan oleh tingkat suku bunga , juga dipengaruhi atau ditentukan oleh ekspektasi mengenai masa yang akan datang. (2) penurunan upah uang (nominal) juga tidak memadai sebagai mekanisme koreksi terhadap masalah pengangguran yang ada. Hal ini disebabkan karena penurunan upah nominal akan ditentang keras oleh kaum buruh, yang memiliki posisi cukup kuat bersama serikat buruhnya.
    
b. Fungsi konsumsi dan investasi (5 POINT)
 Jawab :
Konsumsi mengandung arti perbelanjaan yang dilakukan oleh rumah tangga atas barang-barang akhir dan jasa-jasa dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan orang yang melakukan perbelanjaan tersebut. Pada defenisi lain tentang konsumsi diartikan sebagai pengeluaran total untuk memperoleh barang dan jasa dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu (dalam satu tahun) pengeluaran.
Lebih jauh John Maynard Keynes dalam bukunya yang berjudul The general theory of Employment, Interest and Money, yang terbit pada tahun 1936 mengemukakan suatu teori konsumsi yang disebut teori pendapatan absolut tentang konsumsi atau lebih dikenal dengan nama hipotesis pendapatan absolut (absolute income hypothesis). Teori konsumsi ini didasarkan atas hukum psikologis yang mendasar tentang konsumsi, yang mengatakan apabila pendapatan mengalami kenaikan, maka konsumsi juga akan mengalami kenaikan, tetapi dengan jumlah yang lebih kecil. Selanjutnya hukum psikologis tentang konsumsi tersebut kemudian diterjemahkan kedalam fungsi konsumsi sebagai berikut:
  Y = a + bYd      ( a > 0, 0 < b < 1)
Dimana :
  a = konsumsi otonom
  b = kecendrungan mengkonsumsi marginal atau marginal propensity to consume atau MPC yang menunjukkan ratio antara tambahan konsumsi dengan tambahan pendapatan (b = MPC = ΔC / Δyd) dan
  Yd = pendapatan diposable.

Selain MPC, dalam teori konsumsi dikenal pula APC yakni kecendrungan mengkonsumsi rata-rata (Average propensity to consume) dan APC tersebut lebih besar dari MPC (APC > MPC) dengan persamaan:

  APC = C / Yd = a / Yd + b

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa APC akan semakin kecil apabila tingkat pendapatan naik.
Versi dari fungsi konsumsi yang dijelaskan diatas dinamakan hipotesis pendapatan absolut (absolute income hypothesis), dimana konsumsi diasumsikan bereaksi secara mekanik terhadap tingkat pendapatan aktual saat ini. Selanjutnya menurut Keynes bahwa fungsi konsumsi berbentuk garis lengkung (bukan garis lurus) seperti gambar berikut ini:








C (konsumsi)

                                                  Y =  C + S
 


                                                                      C = a + bYd




         a 

 


                  45º
 


     0                                                                Pendapatan (Y)          
Fungsi konsumsi nonlinear dari Keynes dengan APC dan MPC menurun

Perkembangan dari teori konsumsi, seperti teori konsumsi yang dikemaukakan oleh Keynes melalui absolut income hypothesis, ternyata mendapatkan kritikan dari para ahli ekonomi diantaranya Simon Kuznet, yang mengatakan bahwa kecendrungan mengkonsumsi rata-rata (APC) ternyata tidak turun dan APS juga tidak naik ketika pendapatan naik, atau dengan kata lain, Kuznet menemukan bahwa APC hampir stabil atau konstan.
      Berdasarkan hasil temuan empirik dari kuznet dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya ada dua macam fungsi konsumsi, yaitu fungsi konsumsi jangka pendek dan fungsi konsumsi siklis (short run or cyclical consumption function), yang diperoleh dari data cross section untuk kurun waktu 10 tahunan, yang menunjukkan hubungan yang tidak sebanding antara konsumsi dan pendapatan disposable, dan fungsi konsumsi jangka panjang atau fungsi konsumsi sekuler yang diperoleh dari data time series untuk kurun waktu 50 tahun lebih dan menunjukkan adanya hubungan yang sebanding antara konsumsi dan pendapatan disposable, hal ini dapat dilihat pada gambar fungsi konsumsi jangka panjang dan fungsi konsumsi jangka pendek menurut Simon Kuznets sebagai berikut:



Konsumsi (C)

                                                                      Y = C + S  
                                                                                  LRCF = b*Yd
                                                                                        SRCF = a + b*Yd
                                                                                      

           a
 



                         45º                                                        Pendapatan (Y)   
Pada gambar di atas, terlihat fungsi konsumsi jangka panjang (LRCF) tidak memiliki intercept, melalui titik awal (origin) dan relatif tegak, sedangkan fungsi konsumsi jangka pendek (SRCF) memotong sumbu vertikal pada suatu jumlah pengeluaran konsumsi yang positif dan secara relatif landai daripada fungsi konsumsi jangka panjang,. Pada kedua fungsi tersebut, MPC adalah konstan dan pada kasus fungsi konsumsi jangka pendek, APC akan turun kalau pendpaatan disposable naik, sementara pada kasus fungsi konsumsi jangka panjang APC adalah konstan.
      Disamping teori konsumsi dan penentuan mengenai fungsi konsumsi seperti yang dikemukakan oleh Keynes dan Kuznets di atas, maka dikenal pula teori konsumsi dengan hipotesisi siklus hidup (life cycle hypotheisi) yang dikemukakan oleh tiga ahli ekonomi, yakni Ando, Brumbeq dan Modigliani (ABM). Didalam teorinya dijelaskan bahwa pengeluaran konsumsi seseorang (masyarakat) sangat bergantung dari perjalanan usia (umur) dengan membagi pengeluaran konsumsi seseorang (masyarakat) menjadi tiga bagian (tahapan) berdasarkan perjalanan umur seseorang.
      Tahap pertama dimulai dari usia 0 tahun sampai dengan usia kerja (belum mandiri). Menurut mereka bahwa dalam tahap ini seseorang melakukan komsumsi “Dissaving”, kenapa demikian karena seseorang melakukan konsumsi sangat tergantung pada orang lain (orang tua).
      Tahap kedua, dimulai dari usia kerja (sudah bekerja) sampai pada usia dimana orang tersebut sudah menjelang usia tua (kurang produktif), tahap ini dikatakan bahwa seseorang berkonsumsi dalam kondisi “saving”, oleh karena seseorang pada tahap ini pengeluaran konsumsinya sudah tidak bergantung pada orang lain (sudah mandiri).
      Selanjutnya, tahap ketiga, dikatakan bahwa pada tahap ini, seseorang kembali berada dalam kondisi “Dissaving”, dengana kata lain, seseorang melakukan konsumsi kembali bergantung pada orang lain.
Untuk melihat lebih jelas ketiga tahap yang dikemaukakan ketiga ahli ekonomi di atas (ABM), maka dapat dilihat pada grafik berikut:
           C 
                                                                       C
                                                                             Tahap III
                                               Tahap II

               Tahap I
             Disaving              Saving                      Dissaving              
    
          
          0          to   t1                              t2              t (waktu) 

Selanjutnya, berdasarkan pada penjelasan teori ABM diatsa, maka formulasi model fungsi konsumsi sebagai berikut:
            C – a.w
Dimana a = adalah sama dengan MPC (didalam fungsi konsumsi)
Pengertian MPC (a) diatas, berbeda dengan teori konsumsi menurut Keynes, atau dengan kata lain “a” disini adalah merupakan perubahan konsumsi akibat adanya perubahan faktor usia (ΔC / Δusia).

Secara spesifik bentuk persamaan konsumsi yang digambarkan oleh ABM adalah sebagai berikut:

      C = aAt + aYt L + a (T – 1) Yt LE

Dimana:
      C = pengeluaran konsumsi
     a = MPC yang tergantung dari faktor usia
      A = kekayaan
      Y L = penghasilan dari kerja
     Y LE = penghasilan yang diharapkan seumur hidup dimulai saat ini
      T = sisa umur seseorang dihitung dari saat ini.

Selanjutnya menjelaskan / menentukan fungsi konsumsi berdasarkan teori konsumsi yang dikemukakan oleh James Duesemberry, yang menggunakan dua asumsi untuk mengamati faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi seseorang, yakni:
  1. Selera rumah tangga atas barang konsumsi adalah interdependen, artinya pengeluaran konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pengeluaran konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya (faktor lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi).
  2. Pengeluaran konsumsi adalah irreversible, artinya pola pengeluaran pada saat penghasilan naik berbeda dengan pola pengeluaran pada saat penghasilan mengalami penurunan, atau dengan kata lain pengeluaran konsumsi seseorang dalam jangka pendek dapat dipengaruhi oleh besarnya pendapatan relatif. Pendapatan relatif adalah merupakan pendapatan tertinggi yang pernah dicapai oleh seseorang.

Dari teori konsumsi yang dikemukakan diatas, yakni teori konsumsi duesenberry, maka dapat dilihat fungsi konsumsi sebagai berikut”

     C                   Y
       ---------   = f   -------------
           Yt                 Y*  

Dimana:
Yt = pendapatan pada tahun t
Y* = pendapatan tertinggi yang pernah dicapai











Secara grafik dapat dilihat sebagai berikut:


            C      
                                                                       CL
                                                                                     C2        
                                                      

                                                                                   C3 
                                                     P 
                                         B                                                   
 


                                                                                 C1
                          A                       





            0
                         Y1         Yo           Y2                            Y 

CL merupakan kurva pengeluaran konsumsi jangka panjang. Apabila pendapatan sebesar Oyo, maka besarnya pengeluaran konsumsi yang terjadi adalah Byo, apabila pendapatan mengalami penurunan dari OYo menjdai OY1, maka pengeluaran konsumsi akan turun ke titik E.
Kesimpulan:
Apabila seseorang pendapatannya mengalami kenaikan, maka dalam jangka pendek tidak akan langsung menaikkan pengeluaran konsumsi secara proporsional dengan kenaikan pendapatan, akan tetapi kenaikan-kenaikan pengeluaran konsumsinya lamban karena seseorang lebih memilih menambah jumlah tabungan (saving) dan sebaliknya apabila pendapatan seseorang turun, seseorang tidak mudah terjebak dengan kondisi konsumsi dengan biaya tinggi. Enurunan fungsi konsumsi yang dikemukakan oleh Duesemberry berdasarkan pada teori konsumsi dengan hipotesis pendapatan relatif (relative income hypothesis).
Dan yang berikutnya adalah teori konsumsi dengan hipotesisi pendapatan permanen yang dikemukakan oleh Milton Friedman, yang mengatakan bahwa pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi dua, yakni pendapatan permanenen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory income). Menurut Milton Friedman bahwa, pendapatan permanent dapat diartikan:
1)    Pendapatan yang selalu diterima pada periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, sebagai contoh : gaji, upah,dll.
2)    Pendapatan yang diperoleh dari hasil semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang.
Kemudian kekayaan yang dimiliki seseorang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1)    Kekayaan non manusia (non human wealt) adalah bentuk kekayaan fisik, yaitu barang-barang konsumsi tahan lama.
2)    Kekayaan manusia adalah dalam bentuk kemampuan yang melekat pada diri manusia itu sendiri.
Adapun persamaan fungsi konsumsi menurut Milton Friedman sbb:
                          Cp = kYp
Dimana:
                          Cp = konsumsi permanen
                          Yp = pendapatan permanen
                           K  = faktor propersionalitas ( K > 0 )

Proporsi Yp yang dikonsumsi menurut Friedman tergantung pada faktor-faktor:
1)    Tingkat suku bunga
2)    Jumlah relatif pendapatan dari physical assets dan pendapatan tenaga kerja.
3)    Preferensi rumah tangga untuk konsumsi langsung dihubungkan dengan keinginan untuk menambah stok kekayaan atau asset.

Dalam bentuk persamaan sebagai berikut:

                          Cp = k ( i , w , u ) Yp
Dimana:
                          i  = tingkat suku bunga
                          w = ratio antara human dan nonhuman wealth
                      u = preferensi rumah tangga untuk konsumsi langsung dan keinginan untuk menambah stok kekayaan atau stok asset.


Secara grafik sebagai berikut:
     C
                                                                     Y = C

                                                                             LRCF
                                                                                  SRCF1
   C2                                                           c
                                                                     b           SRCFo
    C1
    Co                                        a



 


                          
               45º
 


        0                                        Yo               Y1                Y
Grafik fungsi konsumsi jangka pendek dan jangka panjang dari Friedman

Penjelasan terakhir adalah teori konsumsi dari Kaldor yang nama aslinya adalah Nicholas Kaldor, yang memulai modelnya dengan membagi masyarakat kedalam dua kelas, yaitu kelas pekerja dan kelas kapitalis.
Pekerja diasuksikan memiliki suatu APC yang tinggi dari pendapatan tenaga (cw), sedangkan kapitalisir memiliki APC yang rendah CÏ€, ini berarti bahwa fungsi konsumsinya adalah sebagai berikut:

  Ct = Cw Qwt + CÏ€ Qt              ( 0 < CÏ€ dan Cw > CÏ€ )

Untuk mendapatkan APC adalah:
 


              Ct                    QWt                  QÏ€t 
         --------  = CW     --------------  +  CÏ€ --------      
              Qt                      Qt                    Qt   
                
atau
              Ct                    Q - QÏ€t                   QÏ€t 
         --------  = CW     --------------  +  CÏ€       --------      
                        Qt                         Qt                       Qt   
 


              Ct                    1 - QÏ€t                   QÏ€t 
         --------  = CW     --------------  +  CÏ€       --------      
                        Qt                         Qt                       Qt   

Yang selanjutnya dapat disederhanakan sebagai berikut:
 


           Ct                                        QÏ€t 
         --------  = CW  + ( CÏ€ – Cw )    --------      
                        Qt                                         Qt   
            Persamaan di atas menunjukkan bahwa APC bergantung pada pembagian pendapatan antara upah dan keuntungan, atau distribusi pendapatan fungsional (functional distribution of income).
Pendapatan merupakan faktor terpenting dan penentu utama dari konsumsi, namun demikian konsumsi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain pendapatan, seperti selera, kekayaan, utang pemerintah, tingkat suku bunga dll.

Investasi
Secara singkat investasi dapat didefenisikan sebagai tambahan bersih terhadap stok kapital yang ada (net addition to existing capital stock).
Dalam maroekonomi, investasi biasanya dibedakan ke dalam, dua jenis utama yaitu investasi tetap (fixed investment) dan investasi persediaan (inventory investment). Investasi tetap dibagi kedalam : investasi tetap bisnis (business fixed investment) dan residential investment.
John Maynard Keynes mendasarkan teori tentang permintaan investasi atas konsep efisiensi marginal kapital (marginal effisiency of capital) dimana dapat didefinisikan sebagai tingkat perolehan bersih yang diharapkan atas pengeluaran kapital tambahan.
Secara matematis, marginal efficiency of capital atau MEC dapat dinyatakn dalam bentuk formula sbb:
                                       R1                  R2                                         Rn
                        Ck = --------------  +  ----------------- + ................+--------------- 
                          (1 + MEC)1        (1 + MEC)2                           (1 + MEC)n

Dimana :
R = perolehan yang diharapkan
Ck = biaya sekarang

Menurut Keynes apakah investasi dilakukan atau tidak sangat tergantung pada perbandingan antara present value (PV) disatu pihak dan current cost of additional capital (ck) dilain pihak. Kalau PV > ck maka investasi dilakukan, sebaliknya PV < ck investasi tidak dilakukan.

Hubungan antara permintaan investasi dan tingkat bunga (r) dengan MEC tertentu, oleh Keynes dinyatakan dalam bentuk fungsi:

            I = f (i)                (given MEC)

Secara grafik dapat dilihat sbb:

tingkat bunga
  (r)
 



            i1



             i2

                                                                   I = I (i)

             o
                                     I1              I2                     Investasi (I)  

Dari gambar tersebut terlihat bahwa apabila tingkat bunga turun misalnya dari i1 ke i2 akan menyebabkan permintaan investasi meningkat dari I1 ke I2 dan hal ini sebaliknya akan berlaku bila tingkat bunga mengalami kenaikan. Selanjutnya, kita akan jelaskan teori investasi lain yang menjadi dasar membentuk fungsi investasi, yakni berdasarkan teori akselerator. Teori akselerator memusatkan perhatian pada hubungan antara permintaan akan barang modal (capital goods) dan permintaan akan produk akhir (final product), dimana permintaan akan barang modal dilihat sebagai permintaan turunan (derived demand) dan permintaan akan barang produk akhir. Menurut model akselerator, stok kapital yang diinginkan ditentukan oleh output (Yt). Dalam model akselerator versi yang sederhana, stok kapital yang diinginkan.

c. Fungsi permintaan uang (5 POINT)
      Jawab :

.................




     d. Aggregate supply function (15 POINT)
      jawab:






3. Diketahui dalam perekonomian Indonesia, data-data hipotesis sebagai berikut:
a). Autonomous Consumption = 50 milyard rupiah
b). Marginal propensity to save (MPS) = 0,1
c). Autonomous investment spending = 75 milyard rupiah
d). The responsiveness of investment spending to the interest rate = 2
e).  Jumlah uang yang beredar = 330 milyard rupiah
f). Permintaan uang atas motif  transaksi adalah 0,3 dari pendapatan nasional
g). Permintaan uang atas motif berjaga-jaga adalah 0,1 dari pendapatan nasional
h). Permintaan uang atas motif spekulasi adalah 120 milyar rupiah. –2r (r = tingkat bunga)

Berdasarkan data-data ini, maka:
a). Tentukan fungsi IS dan LM
b). Hitunglah nilai equilibrium variabel-variabel ekonomi makro seperti: tingkat bunga, pendapatan nasional, tingkat konsumsi dan tabungan nasional, tingkat investasi nasional.
c). Tunjukkan dalam perhitungan anda itu syarat keseimbangan di sektor riel (pasar barang) dan di sektor moneter (pasar uang) sudah terpenuhi.
Catatan: untuk menyederhanakan perhitungan, milyar tidak perlu dicantumkan. (20 poin)

Jawab:
Diketahui :
Autonomous Consumption = 50 milyard rupiah
Marginal propensity to save (MPS) = 0,1
Autonomous investment spending = 75 milyard rupiah
The responsiveness of investment spending to the interest rate = 2
Jumlah uang yang beredar = 330 milyard rupiah
Permintaan uang:
- atas motif  transaksi adalah 0,3 dari pendapatan nasional  ......>        LT = 0,3Y
- atas motif berjaga-jaga adalah 0,1 dari pendapatan nasional .........>   LJ = 0,1Y
- atas motif spekulasi adalah 120 milyar rupiah. –2r (r = tingkat bunga)..>LS = 120 – 2r 

Ditanya:
a)    Fungsi IS dan LM
b)    Nilai keseimbangan (equilibrium) dari :
1)    Tingkat bunga (r)
2)    Tingkat pendapatan nasional (Y)
3)    Tingkat konsumsi nasional (C)
4)    Tingkat investasi nasional (I)
5)    Tingkat tabungan nasional (S)
c)    Apakah perhitungan yang diperoleh sudah memenuhi syarat keseimbangan di sektor riil ( I = S) dan disektor moneter (pasar uang) ...> (L = M)
Penyelesaian:
Fungsi saving :  S = - Co + MPs Y ...> S = -50 + 0,1Y ...> Co = a = 50
Fungsi konsumsi :  C =  Co + MPc Y ...> C = 50 + 0,9Y ...> MPc = b = 0,9
Fungsi investasi :  I = Io - er ...> I = 75 – 2r...> e = -2
 Dari perhitungan yang diperoleh sudah memenuhi syarat:
(1)     Di pasar barang   :      I = S            atau    Y = C + I         
                               17 = 17                   670 = 653 + 17
                                                             670 = 670   
(2)     Di pasar uang:            L = M
                                           330 = 330    
            Gambar Fungsi IS dan Fungsi LM:
            Fungsi IS       : Y = 1.250 – 20r
            Fungsi LM     : Y = 525 + 5r
                                       Y = 0.......> r = -525/5 = -105
                                                   ( 0, -105)
                                        r = 0 ......> Y = 525
                                                            (525,0)
                  r
             150

             100
            (0,62,5)                          Fungsi LM
               50                    (670,29)   
                                                  Fungsi IS
               0                  (525,0)     (1250,0) 
                              500            1000         1500      2000     Y             
           
             -50

            -100
           (0, -105) 

Y = 1250 – 20r
r = 0   ....>  Y = 1250 ....> (1250 , 0)                             
                             Y = 0 ....> r = 1250/20 = 62,5 ....>  (0 , 62,5)
a)    Dengan menggunakan rumus:
       M         L2          K2
Y = ----     -   -----    -   -----  r 
       K1        K1          K1

       330        120         (-2)
Y =-------  -  ------------ - -----------  r
       0,4         0,4         0,4  

          210               2r
Y =  -----------    +   ----------  = 525 + 5r
           0,4             0,4


Y  =  525 + 5r, jadi fungsi LM  :    Y = 525 + 5r


b)    Keseimbangan terjadi jika , IS = LM
1250 - 20r  =  525 + 5r
                                                -20r – 5r    = 525 – 1250
                                                - 25r = -725
                                           r = -725/-25 = 29

1)    jadi nilai keseimbangan dari tingkat bunga (r) = 29%
2)    nilai keseimbangan dari tingkat pendapatan nasional (Y) adalah:

IS ....> Y = 1250 – 2r = 1250 – 20(29) = 1250 – 580 = Rp 670 M
LM ....> Y = 525 + 5r = 525 + 5(29) = 525 + 145 = Rp 670 M

Jadi tingkat pendapatan nasional equilibrium adalah Rp 670 M

3)    nilai keseimbangan dari konsumsi nasional (c) adalah:
C = 50 + 0,9Y = 50 + 0,9 (670) = 50 + 603 = Rp 653 M

4)    nilai keseimbangan dari tingkat investasi nasional (I) adalah:
I = 75 – 2r = 75 – 2 (29) = 75 – 58 = Rp 17 M

5)    nilai keseimbangan dari tingkat tabungan nasional (S) adalah
     S = -50 + 0,1Y = -50 + 0,1 (670) = -50 + 67 = Rp 17 M


c)    nilai keseimbangan dari jumlah permintaan uang seluruhnya (L) adalah:
L = L1 (Y) + L2 (Y) = (LT + LJ) + LS
L = 0,4Y + 120 – 2r
L = 0,4 (670) + 120 – 2r
L = 268 + 120 – 58
L = Rp 330 Milyar



4.  Dalam perekonomian terbuka (open macroeconomic analysis), evaluasi mekanisme dan efektivitas kebijaksanaan  ekspansi moneter dan bandingkan dengan efek kebijaksanaan fiskal, baik dalam regim flexible (managed  floating)  exchange  rate dalam proses penyesuaian BOP dan penentuan exchange rate. Tunjukkanlah   argumentasi Saudara  dengan menggunakan  framework analisis IS-LM  lalu bandingkan analisis Saudara dengan Monetary Approach ataupun Assets Approach (nilai 30 POINT).
            Jawab: Muana Nanga Hal 221-223 (flexible (managed floating) exchange rate)
                      Muana Nanga Hal 213-216 (pendekatan LM)
& LIHAT JAWABAN 27 SEP 2004


Tidak ada komentar:

Posting Komentar