JAWABLAH 3
dari 4 SOAL DI BAWAH, DIMANA NOMOR SATU DAN TIGA WAJIB
DIKERJAKAN. DALAM MENGALOKASIKAN WAKTU SAUDARA, MAKA PERHATIKANLAH NILAI/POIN
TIAP SOAL (TOTAL NILAI ADALAH 100 POIN). TIDAK ADA BONUS, MELAINKAN PENALTY
SEBESAR 40 POIN YANG MENGERJAKAN LEBIH DARI 3 SOAL/JAWABAN. TIDAK DIPERKENANKAN
MEMBUKA BUKU APAPUN PADA UJIAN INI.
Soal Selasa, 13 Juli Tahun
2004
1. Tulislah esey tentang perbedaan analisis
Keynesian, New Keynesian, Monetarist, supply sider, New Classical economics (rational
expectation) dan strukturalis pada satu topik tertentu yang saudara kuasai,
misalnya isu AS dan AD atau debat Kurva Philiips (trade-off antara inflasi dan
pengangguran) dan lainnya. (nilai 40 poin)
Jawab:
- Analisis Keynesian
Keynesian merupakan suatu aliran yang melakukan perubahan
terhadap model-model dari Keynesian ....
Adapun gagasan-gagasan utama (main idea) sebagai hasil
analisis adalah:
1) Perekonomian pasar (market economy) pada dasarnya tidak
stabil (fundamentally unstable) dan kegiatan ekonomi banyak diliputi
ketidakpastian (uncertantainty) yang disebabkan fluktuasi didalam investasi
sebagai akibat perubahan-perubahan didalam ekspectasi bisnis.
2) Kekuatan-kekuatan koreksi otomatis (self correcting) yang
ada dalam perekonomian bekerjanya sangat lemah dan lamban (very weak and
slowly). Ketidak sempurnaan pasar (market unperfection) yang terjadi serta
adanya serikat pekerja dan korporasi yang memiliki pengaruh kuat seringkali
menyebabkan harga-harga menjadi kurang fleksibel atau kaku (rigid) dan juga
mengurangi kemampuan dari kekuatan-kekuatan koreksi otomatis tersebut.
3) Kebijakan manajemen permintaan agregat yang diskresioner
(discretionary aggregate demand management) merupakan sesuatu yang penting
(necessary), sehingga pemerintah hendaknya selalu siaga untuk campur tangan
apabila perekonomian menunjukkan tanda-tanda akan terjadi resesi. Selain itu,
dalam rangka menciptakan pembagian pendapatan dan kekayaan yang lebih adil dan
juga untuk mengendalikan pengangguran dan inflasi kebijakan managemen
permintaan aggregat yang bersifat diskresioner seperti kebijakan fiskal dan
monetaris perlu dilengkapi dengan kebijakan-kebijakan sisi penawaran (supply
measure) seperti kebijakan pendapatan d, perencanaan dalam bentuk pengawasan
langsung (direct control) terhadap upah, harga dan pendapatan.
- Aliran Monetaris
Aliran ini merupakan suatu aliran yang dikenal dengan
istilah school of thought. Aliran ini menghendaki agar analisis tentang
penentuan pendapatan memberi penekanan pada pentingnya peranan jumlah uang yang
beredar (money supply) didalam perekonomia. Artinya menurut aliran monetaris,
jumlah uang beredar merupakan penentu yang utama (main determinant) dari
tingkat kegiatan ekonomi dan harga-harga. Dalam jangka pendek (short-run)
jumlah uang beredar mempengaruhi tingkat output dan kesempatan kerja (level of
output and employment) sedangkan dalam jangka panjang (long-run) jumlah uang
beredar mempengaruhi tingkat harag (rate of inflation)
Adapun
gagasan pokok sebagai analisis dari aliran monetaris adalah:
1) Sektor swasta (private economy) pada dasarnya
fundamentacly stable. Hal ini didasarkan pada kuantitas uang dari kaum klasik
yang mengatakan bahwa peubah-peubah kecepatan perputaran uang (V) dan
pendapatan (Y) dari persamaan MV = PY adalah konstan, sehingga menggambarkan
jumlah uang beredar hanya akan menyebabkan perubahan dalam peubah tingkat
harga.
2) Kebijakan makroekonomi deskresioner, seperti kebijakan
fiskal dan moneter hanya akan membuat keadaan perekonomian menjadi lebih buruk.
Bahkan secara ekstrim dikatan bahwa kebijakan makroekonomi yang ada lebih
merupakan bagian dari masalah dan bukan bagian dari solusi. Karena itu, kaum
monetaris merekomendasikan kepada para pembuat kebijakan untuk menggunakan
aturan-aturan yang tetap, seperti aturan pertumbuhan moneter yang konstan, aturan
anggaran berimbang dan tanpa campur tangan pemerintah.
3) Harga-harga dan upah didalam perekonomian adalah relatif
fleksibel yang akan menjamin keadaan keseimbangan selalu bisa diwujudkan.
4) Jumlah uang beredar merupakan faktor penentu yang sangat
penting dari tingkat kegiatan ekonomi secara keselurahan.
- Aliran Supply Sider
Aliran ini muncul dan berkembang sebagai respon terhadap
masalah stagflasi suatu masalah yang teleh memberi corak dan warna tersendiri
pada perekonomian di dunia. Penekanan dari aliran ini adalah pentingnya
rangsangan dari pajak (incentive effects of taxation) didalam menentukan
perialku dari perekonomian. Artinya dengan penurunan pajak di dalam tarif pajak
marginal akan mendorong masyarakat untuk lebih giat dalam bekerja, menabung dan
menginvestasikan uangnya yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas
perekonomian. Selain itu meningkatnya produksi aggregat juga meningkatkan
kemampuan untuk menciptakan kesempatan kerja yang pada gilirannya dapat
mengurangi pengangguran. Dengan kata lain peningkatan penawaran aggregat
(aggregate supply) melalui penurunan pajak marginal merupakan cara terbaik
untuk mengatasi pengangguran dan inflasi yang ada.
Aliran
ini juga membenarkan campurtangan pemerintah didalam perekonomian, karena
dengan campur tangan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk bekerja keras,
menabung dan menginvestasikan uangnya untuk meningkatkan produktivitas
perekonomian.
Adapun pokok-pokok
penegasan penting hasil analisis aliran ini adalah:
1) Penawaran merupakan unsur penting dari analisis ekonomi
2) Penigkatan penawaran output totak penting bagi
kesejahteraan individu dan ketahanan nasional
3) Penawaran output tergantung pada penawaran atau
ketersediaan sumberdaya (supply of resources)
4) Penawaran sumberdaya dan output total dipengaruhi oleh
kebijakan pemerintah (public policy)
5) Penawaran sumberdaya juga dipengaruhi oleh sistem
perpajakan
6) Penurunan pajak dapat meningkatkan pendapatan nasional
dengan jumlah yang lebih besar dari pada penurunan pajak.
7) Penurunan pajak akan meningkatkan penerimaan pajak total
8) Penurunan pajak yang tidak diikuti dengan penurunan
pengeluaran pemerintah akan meningkatkan penerimaan total lewat pengaruhnya
terhadap sisi penawaran.
9) Penurunan didalam tarif pajak yang tidak diikuti dengan
penurunan pengeluaran pemerintah akan meningkatkan output riil, sehingga akan
menurunkan penerimaan pajak secara keseluruhan.
10) Penurunan pajak merupakan cara terbaik untuk menjinakkan
masalah inflasi adalah dari sisi penawaran.
- Aliran New Classical Economics (rational expectation)
Aliran ini berkembang sebagai reaksi masalah stagflasi
yaitu suatu kombinasi antara stagnasi ekonomi dengan tingkat inflasi yang
tinggi. Hakikat dari alira ini adalah dengan asumsi bahwa pasar akan terus
menerus berada dalam keseimbangan (market are contribusesly in equilibrium).
Selain itu aliran ini juga mengasumsikan adanya ekspectasi yang rasional dari
para pelaku ekonomi yang dibentuk berdasarkan informasi ekonomi yang relevan
termasuk didalamnya dampak kebijakan yang diambil pemerintah, sehingga para
pelaku ekonomi tidak mungkin akan membuat kesalahan yang sistematis dan kalau
sampai membuat kesalahan maka akan menimbulkan gangguan terhadap full
employment didalam perekonomian.
Secara
umum garis besar hasil analisis dari pandangan-pandangan aliran ini adalah:
1) Perekonomian pasar pada dasarnya adalah stabil.
2) Fleksibilitas upah dan harga akan menciptakan sifat-sifat
koreksi yang kuat secara otomatis (strong self corecting)
3) Dalam membentuk ekspection para pelaku ekonomi selalu
menggunakan setiap informasi relevan yang tersedia dengan efesien dan tidak
akan emmbuat kesalahan yang bersifat sistematis (berulang)
4) Uang adalah netral (money is neutral).
Perubahan-perubahan yang bersifat antisipatif didalam jumlah uang yang beredar
(money suplly) hanya akan mempengaruhi tingkat harga dan tidak memiliki dampak
terhadap struktur riil dari perekonomian.
5) Kebijakan stabilisasi makroekonomi adalah tidak efektif
karena setiap perubahan bersifat diskresioner (discrecionery macro economic
policy) dapat diantisipasi oleh pelaku ekonomi, sehingga tidak akan mempunyai
pengaruh terhadap perekonomian seperti yang diharapkan oleh para pembuat
kebijakan. Olehnya itu menurut aliran ini agar kebijakan makroekonomi yang
dikeluarkan pemerintah efektif, hendaknya dilakukan dengan cara gebrakan
(surprism) agar pelaku ekonomi akan sulit untuk memperkirakan atau
mengantisipasi dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan tersebut. Selain itu,
aliran ini mengatakan bahwa tidak akan ada trade-off antara inflasi dan
pengangguran.
- Aliran New Keynesian
Aliran ini muncul sebagai respon terhadap aliran ekonomi
klasik baru, dimana aliran ini tidak sependapat dengan pandangan klasik baru
dan mengatakan bahwa pasar akan selalu berada dalam keseimbangan sepanjang
waktu.
Aliran
new keynesian melihat pasar tenaga kerja (labor market0 sebagai sesuatu yang
sangat sentral; permintaan atau penawaran dipasar tenaga kerja secara langsung
menentukan tingkat output maupun tingkat kesempatan kerja, namun dengan New
Keynesian, pasar tenaga kerja tidak selalu dapat beroperasi dengan baik, dimana
dalam kenyataannya justru cendrung memperlihatkan adanya kegagalan pasar
(market failure) dalam arti harga dipasar tenaga kerja adanya upah riil (real
wages) tidak menghasilkan penyesuaian untuk menciptakan kesempatan kerja penuh
(full employment) secara terus menerus. Karena itu New Keynesian lebih
menekankan perhatian khusus pada upaya untuk menjelaskan mengapa tingkat upah
riil tersebut lambat mengalami perubahan terhadap keseimbangan pasar.
Salah
satu unsur penting yang menjadi perhatian aliran ini adalah menyangkut
persoalan kekuatan harga dan upah (price and wage rigidity) artinya aliran ini
berusaha menjelaskan sebab-sebab terjadinya kekuatan harga dan upah didalam
perekonomian, karena dengan adanya kekuatan harga dan upah telah menyebabkan
pasar sulit untuk mencapai “market clearing” dan sering terjadi adalah “non
market clearing” sehingga aliran new keynesian makroekonomi biasa disebut
sebagai : Non-New Keynesian clearig model” atau “macroeconomics of
disequilibrium’
Berkaitan
dengan kekuatan harga dan upah, ada beberapa model yang dapat digunakan sebagai
berikut:
1) Kekuatan upah:
- Model kontrak kerja
- Model insider-outsider
- Model kontrak-implisit
- Model upah efesiensi
2) Kekuatan harga:
- Persaingan monopolistik
- Model biaya menu
- Aliran strukturalis
Aliran ini muncul dan berkembang dengan melihat inflasi
sebagai sesuatu yang berakar dari adanya berbagai kendala (constraints) atau
kekuatan struktural termasuk didalamnya kelembagaan yang ada didalam
perekonomian dinegara-negara sedang berkembang.
Pandangan
dari aliran ini pada dasarnya merupakan reaksi atau kritik terhadap pandangan
kaum monetaris yang dianggap terlalu memusatkan perhatiannya hanya pada faktor
moneter saja dan kurang memperhatikan non-moneter termasuk didalamnya faktor
struktural dan kelembagaan. Selain itu aliran ini juga mengatakan bahwa inflasi
merupakan sesuatu yang telah dapat dihindari oleh perekonomian yang sedang
berkembang.
Beberapa
kendala yang menjadi penyebab kenaikan harga dinegara-negara sedang berkembang
yaitu:
1) Kendala penawaran bahan pangan yang bersifat inelastis.
2) Kendala devisa (foreign exchange constraint).
Kendala ini timbul karena nilai pertumbuhan penerimaan
devisa tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan akan barang impor meningkat
berkenaan dengan usaha-usaha pembangunan yang semakin cepat, pertumbuhan
penduduk dan upah ..... terealisasi yang cepat berlangsung dalam suatu ....
dengan teknologi masih terbatas...... ketidakseimbangan struktual dan mobilitas
faktor tidak sempurna.
3) Kendala fiskal (fiscal constraints) yaitu kendala berupa
tidak mencukupinya sumberdaya keuangan dalam negeri.
Perbandingan antara Aliran Keynesian, Moneteris,
Makroekonomi Klasik Baru dan Makroekonomi Sisi Penawaran:
|
Persoalan (issue) yang menjadi
perdebatan
|
Aliran Keynesian (Keynesianism)
|
Aliran Moneteris (Monetarism)
|
Aliran Makro-ekonomi Klasik Baru (Newclassical
Macroeconomics)
|
Aliran Makro-ekonomi Sisi Penawaran
(Supplyside acroeconomics)
|
|
Pandangan tentang ekonomi pasar (market
economy)
|
Pada dasarnya tidak stabil (fundamentaily
unstable)
|
Dalam jangka panjang stabil
|
Dalam jangka panjang stabil
|
Bisa stagnant kalau tidak ada insentif
untuk bekerja, menabung dan menginvestasikan uang
|
|
Penyebab ketidakstabilan dalam
perekonomian
|
Unequal antara S dan I (perubahan dalam
AD) dan karena AS shocks
|
Kebijakan moneter yang tidak
sesuai/tepat (fluktuasi dalam Ms)
|
Guncangan (shocks) jangka
pendek dalam AS dan AD yang tidak terantisipasi
|
Perubahan di dalam penawaran agregat
(AS)
|
|
Kebijakan makro yang tepat / sesuai (appropriate)
|
Kebijakan fiskal dan moneter yang
aktif dan sesekali menggunakan income
policy
|
Aturan moneter, misalnya:constrant
monetary growth rate rule
|
Aturan moneter, misalnya: constant
monetary growth rate rule
|
Kebijakan-kebijakan yang meningkatkan
penawaran agregat (AS)
|
|
Pengaruh kebijakan moneter (money
supply) terhadap perekonomian
|
Melalui perubahan dalam tingkat bunga
yang kemudian mempengaruhi I dan NNP
|
Mempengaruhi permintaan agregat secara
langsung yang kemudian mempengaruhi NNP
|
Tidak mempunyai pengaruh karena hasil
(outcome) dari kebijakan tersebut dapat diantisipasi (anticipated)
|
Melalui pengaruhnya terhadap investasi
yang kemudian mempengaruhi penawaran agregat
|
|
Pandangan tentang velositas uang
|
Tidak stabil
|
Stabil
|
Tidak ada kesepakatan/ konsensus
|
Tidak ada kesepakatan / konsensus
|
|
Pengaruh kebijakan fiskal terhadap
perekonomian
|
Mempengaruhi AD dan NNP melalui proses
pengganda
|
Tidak mempunyai dampak kalau tidak
diikuti dengan perubahan dalam MS
|
Tidak mempunyai dampak karena hasil
dari kebijakan tersebut dapat diantisipasi
|
Mempengauruhi NNP dan tingkat harga
melalui perubahan di dalam AS
|
|
Pandangan tentang cost-push
inflation
|
Mungkin saja terjadi karena guncangan
dengan penawaran agregat
|
Tidak mungkin dalam jangka panjang
kalau tidak terjadi pertumbuhan jumlah uang Ms yang berlebihan
|
Tidak mungkin dalam jangka panjang
kalau tidak terjadi pertumbuhan jumlah uang beredar yang berlebihan
|
Mungkin (karena turunnya produtivitas,
naiknya biaya yang disebabkan adanya regulasi dan sebagainya)
|
Sumber : Campbell R.McConnell and Stanley R.Brue
(1990), Macroeconomics : Principles, Problems & Policies,p.392.
2. Tulis pula esey
secara sistematik dan kaitkan dengan
perkembangan school of thoughts teori ekonomi (historical) tentang hal-hal berikut:
a.
Isu kelemahan fondasi mikro dalam teori ekonomi
makro dewasa ini (nilai 5 POINT)
Jawab : (Muana Nanga hal 41)
Isu beberapa kelemahan (weaknesses) dari pandangan kaum
klasik dengan mengatakan bahwa (1). Penurunan di dalam tingkat bunga tidak akan
secara otomatis mendorong investasi bisnis secara memadai untuk mewujudkan
kesempatan kerja penuh (full employment). Keynes mengatakan bahwa rencana
investasi oleh sektor bisnis itu selain ditentukan oleh tingkat suku bunga ,
juga dipengaruhi atau ditentukan oleh ekspektasi mengenai masa yang akan
datang. (2) penurunan upah uang (nominal) juga tidak memadai sebagai mekanisme
koreksi terhadap masalah pengangguran yang ada. Hal ini disebabkan karena
penurunan upah nominal akan ditentang keras oleh kaum buruh, yang memiliki
posisi cukup kuat bersama serikat buruhnya.
b. Fungsi konsumsi dan investasi (5 POINT)
Jawab :
Konsumsi mengandung arti perbelanjaan yang dilakukan oleh
rumah tangga atas barang-barang akhir dan jasa-jasa dengan tujuan untuk
memenuhi kebutuhan orang yang melakukan perbelanjaan tersebut. Pada defenisi
lain tentang konsumsi diartikan sebagai pengeluaran total untuk memperoleh
barang dan jasa dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu (dalam
satu tahun) pengeluaran.
Lebih jauh John Maynard Keynes dalam bukunya yang
berjudul The general theory of Employment, Interest and Money, yang
terbit pada tahun 1936 mengemukakan suatu teori konsumsi yang disebut teori
pendapatan absolut tentang konsumsi atau lebih dikenal dengan nama hipotesis
pendapatan absolut (absolute income hypothesis). Teori konsumsi ini didasarkan
atas hukum psikologis yang mendasar tentang konsumsi, yang mengatakan apabila
pendapatan mengalami kenaikan, maka konsumsi juga akan mengalami kenaikan,
tetapi dengan jumlah yang lebih kecil. Selanjutnya hukum psikologis tentang
konsumsi tersebut kemudian diterjemahkan kedalam fungsi konsumsi sebagai
berikut:
Y = a + bYd ( a > 0, 0 < b < 1)
Dimana :
a = konsumsi
otonom
b = kecendrungan mengkonsumsi marginal atau
marginal propensity to consume atau MPC yang menunjukkan ratio antara tambahan
konsumsi dengan tambahan pendapatan (b = MPC = ΔC / Δyd) dan
Yd = pendapatan
diposable.
Selain MPC, dalam teori konsumsi dikenal pula APC yakni
kecendrungan mengkonsumsi rata-rata (Average propensity to consume) dan APC
tersebut lebih besar dari MPC (APC > MPC) dengan persamaan:
APC = C / Yd = a /
Yd + b
Dari persamaan tersebut terlihat bahwa APC akan semakin
kecil apabila tingkat pendapatan naik.
Versi dari fungsi konsumsi yang dijelaskan diatas dinamakan
hipotesis pendapatan absolut (absolute income hypothesis), dimana konsumsi
diasumsikan bereaksi secara mekanik terhadap tingkat pendapatan aktual saat
ini. Selanjutnya menurut Keynes bahwa fungsi konsumsi berbentuk garis lengkung
(bukan garis lurus) seperti gambar berikut ini:
Y = C + S
![]() |
C = a + bYd
a
45º
0 Pendapatan (Y)
Fungsi konsumsi nonlinear dari Keynes dengan APC dan MPC
menurun
Perkembangan dari teori konsumsi, seperti teori konsumsi
yang dikemaukakan oleh Keynes melalui absolut income hypothesis, ternyata
mendapatkan kritikan dari para ahli ekonomi diantaranya Simon Kuznet, yang
mengatakan bahwa kecendrungan mengkonsumsi rata-rata (APC) ternyata tidak turun
dan APS juga tidak naik ketika pendapatan naik, atau dengan kata lain, Kuznet menemukan
bahwa APC hampir stabil atau konstan.
Berdasarkan
hasil temuan empirik dari kuznet dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya ada dua
macam fungsi konsumsi, yaitu fungsi konsumsi jangka pendek dan fungsi konsumsi
siklis (short run or cyclical consumption function), yang diperoleh dari data
cross section untuk kurun waktu 10 tahunan, yang menunjukkan hubungan yang
tidak sebanding antara konsumsi dan pendapatan disposable, dan fungsi konsumsi
jangka panjang atau fungsi konsumsi sekuler yang diperoleh dari data time
series untuk kurun waktu 50 tahun lebih dan menunjukkan adanya hubungan yang
sebanding antara konsumsi dan pendapatan disposable, hal ini dapat dilihat pada
gambar fungsi konsumsi jangka panjang dan fungsi konsumsi jangka pendek menurut
Simon Kuznets sebagai berikut:
Y = C + S
LRCF = b*Yd
SRCF
= a + b*Yd
a
Pada gambar di atas, terlihat fungsi konsumsi jangka
panjang (LRCF) tidak memiliki intercept, melalui titik awal (origin) dan
relatif tegak, sedangkan fungsi konsumsi jangka pendek (SRCF) memotong sumbu
vertikal pada suatu jumlah pengeluaran konsumsi yang positif dan secara relatif
landai daripada fungsi konsumsi jangka panjang,. Pada kedua fungsi tersebut,
MPC adalah konstan dan pada kasus fungsi konsumsi jangka pendek, APC akan turun
kalau pendpaatan disposable naik, sementara pada kasus fungsi konsumsi jangka
panjang APC adalah konstan.
Disamping
teori konsumsi dan penentuan mengenai fungsi konsumsi seperti yang dikemukakan
oleh Keynes dan Kuznets di atas, maka dikenal pula teori konsumsi dengan
hipotesisi siklus hidup (life cycle hypotheisi) yang dikemukakan oleh tiga ahli
ekonomi, yakni Ando, Brumbeq dan Modigliani (ABM). Didalam teorinya dijelaskan
bahwa pengeluaran konsumsi seseorang (masyarakat) sangat bergantung dari
perjalanan usia (umur) dengan membagi pengeluaran konsumsi seseorang
(masyarakat) menjadi tiga bagian (tahapan) berdasarkan perjalanan umur
seseorang.
Tahap pertama
dimulai dari usia 0 tahun sampai dengan usia kerja (belum mandiri). Menurut
mereka bahwa dalam tahap ini seseorang melakukan komsumsi “Dissaving”, kenapa
demikian karena seseorang melakukan konsumsi sangat tergantung pada orang lain
(orang tua).
Tahap kedua,
dimulai dari usia kerja (sudah bekerja) sampai pada usia dimana orang tersebut
sudah menjelang usia tua (kurang produktif), tahap ini dikatakan bahwa
seseorang berkonsumsi dalam kondisi “saving”, oleh karena seseorang pada tahap
ini pengeluaran konsumsinya sudah tidak bergantung pada orang lain (sudah
mandiri).
Selanjutnya,
tahap ketiga, dikatakan bahwa pada tahap ini, seseorang kembali berada dalam
kondisi “Dissaving”, dengana kata lain, seseorang melakukan konsumsi kembali
bergantung pada orang lain.
Untuk melihat lebih jelas ketiga tahap yang dikemaukakan
ketiga ahli ekonomi di atas (ABM), maka dapat dilihat pada grafik berikut:
C

Tahap III
Tahap II
Tahap I
0 to
t1
t2 t (waktu)
Selanjutnya, berdasarkan pada penjelasan teori ABM
diatsa, maka formulasi model fungsi konsumsi sebagai berikut:
C – a.w
Dimana a = adalah sama
dengan MPC (didalam fungsi konsumsi)
Pengertian MPC (a)
diatas, berbeda dengan teori konsumsi menurut Keynes, atau dengan kata lain “a”
disini adalah merupakan perubahan konsumsi akibat adanya perubahan faktor usia
(ΔC / Δusia).
Secara spesifik bentuk
persamaan konsumsi yang digambarkan oleh ABM adalah sebagai berikut:
C = aAt + aYt L + a (T – 1) Yt LE
Dimana:
C = pengeluaran konsumsi
a = MPC yang tergantung dari faktor usia
A = kekayaan
Y L = penghasilan dari kerja
Y LE = penghasilan yang
diharapkan seumur hidup dimulai saat ini
T =
sisa umur seseorang dihitung dari saat ini.
Selanjutnya menjelaskan
/ menentukan fungsi konsumsi berdasarkan teori konsumsi yang dikemukakan oleh
James Duesemberry, yang menggunakan dua asumsi untuk mengamati faktor-faktor
yang dapat berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi seseorang, yakni:
- Selera rumah tangga atas barang konsumsi adalah interdependen, artinya
pengeluaran konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pengeluaran konsumsi
yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya (faktor lingkungan yang dapat
berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi).
- Pengeluaran konsumsi adalah irreversible, artinya pola pengeluaran
pada saat penghasilan naik berbeda dengan pola pengeluaran pada saat
penghasilan mengalami penurunan, atau dengan kata lain pengeluaran
konsumsi seseorang dalam jangka pendek dapat dipengaruhi oleh besarnya
pendapatan relatif. Pendapatan relatif adalah merupakan pendapatan
tertinggi yang pernah dicapai oleh seseorang.
Dari teori konsumsi yang dikemukakan diatas, yakni teori konsumsi
duesenberry, maka dapat dilihat fungsi konsumsi sebagai berikut”
C Y
--------- = f
-------------
Yt Y*
Dimana:
Yt = pendapatan pada
tahun t
Y* = pendapatan
tertinggi yang pernah dicapai
Secara grafik dapat
dilihat sebagai berikut:
CL

C2
C3 ![]() |
C1
Y1 Yo Y2 Y
CL merupakan kurva pengeluaran konsumsi jangka panjang.
Apabila pendapatan sebesar Oyo, maka besarnya pengeluaran konsumsi yang terjadi
adalah Byo, apabila pendapatan mengalami penurunan dari OYo menjdai OY1, maka
pengeluaran konsumsi akan turun ke titik E.
Kesimpulan:
Apabila seseorang pendapatannya mengalami kenaikan, maka
dalam jangka pendek tidak akan langsung menaikkan pengeluaran konsumsi secara
proporsional dengan kenaikan pendapatan, akan tetapi kenaikan-kenaikan
pengeluaran konsumsinya lamban karena seseorang lebih memilih menambah jumlah
tabungan (saving) dan sebaliknya apabila pendapatan seseorang turun, seseorang
tidak mudah terjebak dengan kondisi konsumsi dengan biaya tinggi. Enurunan
fungsi konsumsi yang dikemukakan oleh Duesemberry berdasarkan pada teori
konsumsi dengan hipotesis pendapatan relatif (relative income hypothesis).
Dan yang berikutnya adalah teori konsumsi dengan
hipotesisi pendapatan permanen yang dikemukakan oleh Milton Friedman, yang
mengatakan bahwa pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi dua, yakni
pendapatan permanenen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory
income). Menurut Milton Friedman bahwa, pendapatan permanent dapat diartikan:
1) Pendapatan yang selalu diterima pada periode tertentu dan
dapat diperkirakan sebelumnya, sebagai contoh : gaji, upah,dll.
2) Pendapatan yang diperoleh dari hasil semua faktor yang
menentukan kekayaan seseorang.
Kemudian kekayaan yang dimiliki seseorang dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1) Kekayaan non manusia (non human wealt) adalah bentuk
kekayaan fisik, yaitu barang-barang konsumsi tahan lama.
2) Kekayaan manusia adalah dalam bentuk kemampuan yang
melekat pada diri manusia itu sendiri.
Adapun persamaan fungsi konsumsi menurut Milton Friedman
sbb:
Cp
= kYp
Dimana:
Cp =
konsumsi permanen
Yp =
pendapatan permanen
K =
faktor propersionalitas ( K > 0 )
Proporsi Yp yang dikonsumsi menurut Friedman tergantung pada faktor-faktor:
1) Tingkat suku bunga
2) Jumlah relatif pendapatan dari physical assets dan pendapatan tenaga kerja.
3) Preferensi rumah tangga untuk konsumsi langsung dihubungkan dengan
keinginan untuk menambah stok kekayaan atau asset.
Dalam bentuk persamaan sebagai berikut:
Cp = k ( i ,
w , u ) Yp
Dimana:
i = tingkat suku bunga
w
= ratio antara human dan nonhuman wealth
u = preferensi rumah tangga untuk konsumsi langsung dan keinginan untuk
menambah stok kekayaan atau stok asset.
Secara grafik sebagai berikut:
Y = C
LRCF
SRCF1
C2
c
b SRCFo
C1
45º
0 Yo Y1 Y
Grafik fungsi konsumsi jangka pendek dan jangka panjang
dari Friedman
Penjelasan terakhir adalah teori konsumsi dari Kaldor yang
nama aslinya adalah Nicholas Kaldor, yang memulai modelnya dengan membagi
masyarakat kedalam dua kelas, yaitu kelas pekerja dan kelas kapitalis.
Pekerja diasuksikan memiliki suatu APC yang tinggi dari
pendapatan tenaga (cw), sedangkan kapitalisir memiliki APC yang rendah CÏ€, ini
berarti bahwa fungsi konsumsinya adalah sebagai berikut:
Ct = Cw Qwt + CÏ€
Qt ( 0 < CÏ€ dan Cw >
CÏ€ )
Untuk mendapatkan APC adalah:
![]() |
![]() |
||
Ct QWt QÏ€t
-------- = CW -------------- + CÏ€
--------
Qt Qt Qt

atau
Ct Q - QÏ€t QÏ€t
-------- = CW -------------- + CÏ€ --------
Qt Qt Qt
![]() |
|||
![]() |
|||
Ct 1 - QÏ€t QÏ€t
-------- = CW -------------- + CÏ€ --------
Qt Qt Qt
Yang selanjutnya dapat disederhanakan sebagai berikut:
![]() |
Ct
QÏ€t
-------- = CW + ( CÏ€ – Cw ) --------
Qt
Qt
Persamaan di atas menunjukkan bahwa
APC bergantung pada pembagian pendapatan antara upah dan keuntungan, atau
distribusi pendapatan fungsional (functional distribution of income).
Pendapatan
merupakan faktor terpenting dan penentu utama dari konsumsi, namun demikian
konsumsi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain pendapatan, seperti
selera, kekayaan, utang pemerintah, tingkat suku bunga dll.
Investasi
Secara
singkat investasi dapat didefenisikan sebagai tambahan bersih terhadap stok
kapital yang ada (net addition to existing capital stock).
Dalam
maroekonomi, investasi biasanya dibedakan ke dalam, dua jenis utama yaitu
investasi tetap (fixed investment) dan investasi persediaan (inventory
investment). Investasi tetap dibagi kedalam : investasi tetap bisnis (business
fixed investment) dan residential investment.
John
Maynard Keynes mendasarkan teori tentang permintaan investasi atas konsep
efisiensi marginal kapital (marginal effisiency of capital) dimana dapat
didefinisikan sebagai tingkat perolehan bersih yang diharapkan atas pengeluaran
kapital tambahan.
Secara
matematis, marginal efficiency of capital atau MEC dapat dinyatakn dalam bentuk
formula sbb:
R1 R2 Rn
Ck
= -------------- + ----------------- +
................+---------------
(1 + MEC)1 (1 + MEC)2 (1 + MEC)n
Dimana :
R = perolehan yang diharapkan
Ck = biaya sekarang
Menurut Keynes apakah investasi dilakukan atau tidak
sangat tergantung pada perbandingan antara present value (PV) disatu pihak dan
current cost of additional capital (ck) dilain pihak. Kalau PV > ck maka
investasi dilakukan, sebaliknya PV < ck investasi tidak dilakukan.
Hubungan antara permintaan investasi dan tingkat bunga
(r) dengan MEC tertentu, oleh Keynes dinyatakan dalam bentuk fungsi:
I = f
(i) (given MEC)
Secara grafik dapat dilihat sbb:
tingkat bunga
![]() |
I = I (i)
I1 I2 Investasi (I)
Dari
gambar tersebut terlihat bahwa apabila tingkat bunga turun misalnya dari i1 ke
i2 akan menyebabkan permintaan investasi meningkat dari I1 ke I2 dan hal ini
sebaliknya akan berlaku bila tingkat bunga mengalami kenaikan. Selanjutnya,
kita akan jelaskan teori investasi lain yang menjadi dasar membentuk fungsi
investasi, yakni berdasarkan teori akselerator. Teori akselerator memusatkan
perhatian pada hubungan antara permintaan akan barang modal (capital goods) dan
permintaan akan produk akhir (final product), dimana permintaan akan barang
modal dilihat sebagai permintaan turunan (derived demand) dan permintaan akan
barang produk akhir. Menurut model akselerator, stok kapital yang diinginkan
ditentukan oleh output (Yt). Dalam model akselerator versi yang sederhana, stok
kapital yang diinginkan.
c.
Fungsi permintaan uang (5 POINT)
Jawab :
.................
d. Aggregate supply function (15 POINT)
jawab:
3. Diketahui
dalam perekonomian Indonesia, data-data hipotesis sebagai berikut:
a).
Autonomous Consumption = 50 milyard rupiah
b).
Marginal propensity to save (MPS) = 0,1
c).
Autonomous investment spending = 75 milyard rupiah
d).
The responsiveness of investment spending to the interest rate = 2
e). Jumlah uang yang beredar = 330 milyard rupiah
f).
Permintaan uang atas motif transaksi
adalah 0,3 dari pendapatan nasional
g).
Permintaan uang atas motif berjaga-jaga adalah 0,1 dari pendapatan nasional
h).
Permintaan uang atas motif spekulasi adalah 120 milyar rupiah. –2r (r = tingkat bunga)
Berdasarkan data-data ini, maka:
a).
Tentukan fungsi IS dan LM
b).
Hitunglah nilai equilibrium variabel-variabel ekonomi makro seperti: tingkat
bunga, pendapatan nasional, tingkat konsumsi dan tabungan nasional, tingkat
investasi nasional.
c).
Tunjukkan dalam perhitungan anda itu syarat keseimbangan di sektor riel (pasar barang) dan
di sektor
moneter (pasar uang) sudah terpenuhi.
Catatan:
untuk menyederhanakan perhitungan, milyar tidak perlu dicantumkan. (20 poin)
Jawab:
Diketahui :
Autonomous
Consumption = 50 milyard rupiah
Marginal
propensity to save (MPS) = 0,1
Autonomous
investment spending = 75 milyard rupiah
The
responsiveness of investment spending to the interest rate
= 2
Jumlah
uang yang beredar = 330
milyard rupiah
Permintaan
uang:
- atas motif transaksi adalah 0,3 dari pendapatan nasional ......> LT = 0,3Y
- atas motif
berjaga-jaga adalah 0,1 dari pendapatan nasional .........> LJ = 0,1Y
- atas motif
spekulasi adalah 120
milyar rupiah. –2r (r = tingkat bunga)..>LS = 120 – 2r
Ditanya:
a) Fungsi IS dan LM
1) Tingkat bunga (r)
2) Tingkat pendapatan nasional (Y)
3) Tingkat konsumsi nasional (C)
4) Tingkat investasi nasional (I)
5) Tingkat tabungan nasional (S)
c) Apakah perhitungan yang diperoleh
sudah memenuhi syarat keseimbangan di sektor riil ( I = S) dan disektor moneter
(pasar uang) ...> (L = M)
Penyelesaian:
Fungsi saving : S = - Co + MPs Y ...> S = -50 + 0,1Y
...> Co = a = 50
Fungsi konsumsi : C = Co
+ MPc Y ...> C = 50 + 0,9Y ...> MPc = b = 0,9
Fungsi investasi : I = Io - er ...> I = 75 – 2r...> e = -2
Dari perhitungan yang diperoleh sudah memenuhi
syarat:
(1) Di pasar barang :
I = S atau Y = C + I
17 = 17 670 = 653 + 17
670 = 670
(2) Di pasar uang: L = M
330
= 330
Gambar
Fungsi IS dan Fungsi LM:
Fungsi
IS : Y = 1.250 – 20r
Fungsi
LM : Y = 525 + 5r
Y = 0.......> r = -525/5 = -105
( 0, -105)
r = 0 ......> Y = 525
(525,0)
150
100

(0,62,5)
Fungsi LM
50
(670,29)
Fungsi IS
500 1000 1500 2000
Y
-50
-100
(0, -105)
Y = 1250 – 20r
r = 0 ....>
Y = 1250 ....> (1250 , 0)
Y = 0 ....> r = 1250/20 = 62,5
....> (0 , 62,5)
a) Dengan menggunakan rumus:
M
L2 K2
Y = ---- -
----- - -----
r
K1
K1 K1
330 120 (-2)
Y =------- -
------------ - ----------- r
0,4 0,4 0,4
210 2r
Y = -----------
+ ---------- = 525 + 5r
0,4 0,4
Y = 525
+ 5r, jadi fungsi LM : Y = 525 + 5r
b) Keseimbangan terjadi jika , IS = LM
1250 - 20r = 525
+ 5r
-20r
– 5r = 525 – 1250
-
25r = -725
r =
-725/-25 = 29
1) jadi nilai keseimbangan dari tingkat bunga (r) = 29%
2) nilai keseimbangan dari tingkat pendapatan nasional (Y)
adalah:
IS ....> Y = 1250 – 2r = 1250 – 20(29) = 1250 – 580 =
Rp 670 M
LM ....> Y = 525 + 5r = 525 + 5(29) = 525 + 145 = Rp
670 M
Jadi tingkat pendapatan nasional equilibrium adalah Rp
670 M
3) nilai keseimbangan dari konsumsi nasional (c) adalah:
C = 50 + 0,9Y = 50 + 0,9 (670) = 50 + 603 = Rp 653 M
4) nilai keseimbangan dari tingkat investasi nasional (I)
adalah:
I = 75 – 2r = 75 – 2 (29) = 75 – 58 = Rp 17 M
5) nilai keseimbangan dari tingkat tabungan nasional (S)
adalah
S = -50 + 0,1Y
= -50 + 0,1 (670) = -50 + 67 = Rp 17 M
c) nilai keseimbangan dari jumlah permintaan uang seluruhnya
(L) adalah:
L = L1 (Y) + L2 (Y) = (LT + LJ) + LS
L = 0,4Y + 120 – 2r
L = 0,4 (670) + 120 – 2r
L = 268 + 120 – 58
L = Rp 330 Milyar
4. Dalam
perekonomian terbuka (open macroeconomic analysis),
evaluasi mekanisme dan efektivitas kebijaksanaan ekspansi
moneter dan bandingkan dengan efek
kebijaksanaan fiskal, baik dalam regim flexible (managed
floating) exchange rate dalam proses penyesuaian BOP dan penentuan exchange rate. Tunjukkanlah argumentasi Saudara dengan menggunakan framework
analisis IS-LM lalu bandingkan analisis Saudara dengan Monetary Approach
ataupun Assets Approach (nilai 30
POINT).
Jawab: Muana Nanga Hal 221-223 (flexible (managed floating) exchange rate)
Muana Nanga Hal 213-216 (pendekatan LM)
& LIHAT JAWABAN 27 SEP 2004








Tidak ada komentar:
Posting Komentar