Soal 2010
1.
Soal no. 1
a.
Pertentangkan perbedaan yang hakiki antara teori permintaan aggregate Klassik
dengan Keynesian !.
b.
Pertentangkan pula perbedaan yang hakiki antara teori penawaran aggregate
klasik dan keynesian !
2.
Buat analisa grafis kurva IS-LM yang memperlihatkan
pengaruh kenaikan pengeluaran pemerintah. Kemukakan dengan jelas
variabel-variabel makro yang berubah dengan kebijakan ini!
3.
Melalui analisa grafis kurva IS-LM maka buat analisa :
- Faktor-faktor
yang mempengaruhi efektifitas kebijakan fiskal !
- Faktor-faktor
yang mempengaruhi efektifitas kebijakan moneter !
- Apa yang
saudara gunakan dalam mengukur efektifitas kebijakan fiscal dan moneter
itu !
JAWAB
- Perbedaan
hakiki antara teori permintaan aggregate Klasik dengan keynesian Muana
Nanga hal : 44
|
Aspek yang
Diperdebatkan
|
Klasik
|
Keynes
|
|
Permintaan Agregat (AD)
|
Permintaan agregat (AD) tidak mempunyai “real effects”
dalam arti tidak dapat mempengaruhi output (Y) dan kesempatan kerja, tetapi
hanya mempengaruhi tingkat harga (P)
· Money is veil
· Only money
matters
·
Fiscal Policy is “powerless”
|
Permintaan Agregat (AD) mempunyai “real efeects” dalam
jangka pendek tetapi dalam jangka panjang tidak
·
Money still a veil tetapi hanya dalam jangka panjang.
·
Money not all that matters
·
Fiscal policy is not pewerless
|
- Pertentangkan
pula perbedaan yang hakiki antara teori penawaran aggregate klasik dan
keynesian !
Aggregate supply function: neoclassical sysnthesis
(New Classical) vs Keynesian (New Keynesian) adalah:
|
Aspek yang
Diperdebatkan
|
Klasik
|
Keynes
|
|
Penawaran Aggregat
(AS)
|
Penawaran agregat (AS)
merupakan kunci bagi pertumbuhan ekonomi, output ditentukan hanya oleh kurva
AS yang vertikal
|
Penawaran agregat (AS)
masih merupakan kunci bagi pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka pendek,
perekonomian bisa menyimpang dari kura AS jangka panjangnya, bergerak
sepanjang kura AS jangka pendek yang horizontal. Namun pada akhirnya, output
riil akan ditentukan oleh kurva AS yang vertikal
|
Sumber: Michael
B.McElroy (1996), The Macroeconomy : Private Choices, Public Actionsand Aggregate
Outcomes, Prentice – Hall, Inc. New Jersey, pp. 120-121
2.
Analisa Grafis kurva IS-LM yang memperlihatkan pengaruh kenaikan pengeluaran
pemerintah dan variabel-variabel makro yg berubah dengan kebijakan ini:

Gambar :
Kebijakan Fiskal. Peningkatan pengeluaran pemerintah ∆G menyebabkan kurva IS
bergeser ke kanan. Pada tingkat bunga yang sama dan melalui proses multiplier
income naik ke Y2 dengan titik keseimbangan pada titik E2. Peningkatan income
menyebabkan keseimbangan pasar uang berobah karena permintaan uang naik
sehingga tingkat bunga naik. Kenaikan bunga menyebabkan investasi menurun
sehingga kenaikan income berkurang menjadi Y1. Pengurangan dampak investasi
akibat kenaikan bunga ini disebut dengan crowding out.
Perhatikan Gambar di atas Pada awalnya keseimbangan
berada pada titik E0, kemudian pengeluaran pemerintah mengalamai
kenaikan sebesar ∆G sehingga AD juga naik. Kenaikan AD menyebabkan kurva IS
bergeser ke kanan, mengakibatkan income atau output naik dari Y0 ke
Y1. Kenaikan income menyebabkan permintaan terhadap uang naik sehingga
untuk kembali ke titik keseimbangan maka bunga juga ikut naik ke i1
sehingga tercapai keseimbangan pada titik E1. Apabila tingkat bunga
tetap pada i0 maka income harusnya naik mencapai Y2
dengan keseimbagan E2 sesuai dengan besarnya multiplier kali ∆G (αG
∆G). Pada titik E2 ini telah tercapai keseimbagan pada pasar barang
karena pengeluaran telah sama dengan output (income). Tetapi karena adanya
keterkaitan antara pasar barang dengan pasar uang maka perobahan pada pasar
barang (kenaikan income) menyebabkan pasar uang tidak seimbang karena kenaikan
income telah menyebabkan naiknya permintaan uang yang selanjutnya mendorong
kenaikan tingkat bunga.
Kenaikan tingkat bunga menyebabkan investasi swasta
berkurang sehingga mengurangi kenaikan AD. Disinilah keterkaitan antara pasar
barang dan pasar uang terjadi. Hanya pada titik E1 income sama
dengan pengeluaran agregat dan permintaan uang sama dengan ketersediaan supply
uang. Titik E1 adalah titik dimana pasar barang dan pasar uang dalam
keadaan seimbang.
3. a. FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN FISCAL
Kebijakan fiskal adalah kebijakan
pemerintah yang mempengruhi keadaan ekonomi makro melalui serangkaian tindakan
yang mempengaruhi pasar barang. Kebijakan fiskal umumnya dijalankan melalui
kebijakan anggaran pemerintah atau APBN, selanjutnya APBN ini akan mempengaruhi
perekonomian makro. Bila APBN meningkat maka penerimaan dan pengeluaran
pemerintah juga meningkat. Peningkatan pengeluaran ini akan mempengaruhi kurva
IS. Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa kurva IS bergeser bila terjadi
perubahan pengeluaran agregat yang disebabkan oleh tiga faktor yaitu
pengeluaran investasi swasta, pengeluaran pemerintah dan pajak.
EFEKTIFITAS KEBIJAKAN FISKAL DAN CROWDING OUT
‘Crowding out’ adalah menurunnya dampak dari pengeluaran autonomous
(kebijakan fiskal) karena mengakibatkan tingkat bunga naik sehingga pengeluaran
invesasi swasta menurun. Perhatikan gambar 7.2, dengan kenaikan pengeluaran
pemerintah seharusnya output naik sebesar αG ∆G sampai mencapai
titik E2, tetapi kenyataan hanya sampai pada titik E1.
Hal ini disebabkan karena kenaikan tingkat bunga telah menyebabkan invesatasi
swasta turun sehingga kenaikan output tidak sebesar yang seharusnya (bila bunga
tidak naik).
Dari Gambar diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat crowding
out tergantung dengan kemiringan kurva LM, semakin tegak kurva LM maka
semakin tinggi tingkat crowding out, dan sebaliknya bila semakin miring
maka crowding out semakin kecil. Full crowding out akan terjadi
bila kurva LM vertikal, artinya peningkatan investasi tidak memberikan dampak
sedikitpun terhadap output kecuali hanya menaikan tingkat bunga.
Seperti terlihat pada persamaan
(6.2), kemiringan kurva LM ini tergantung dengan koefisien tingkat bunga (b),
semakin kecil b maka semakin tidak respon permintaan uang terhadap perubahan
bunga, artinya kurva LM semakin tegak (vertikal). Bila b sama dengan nol maka
kurva LM vertikal. Dalam keadaan ini maka kebijakan fiskal menjadi tidak
efektif sama sekali, karena hanya akan menaikan tingkat bunga tetapi tidak
berpengaruh terhadap income dan output. Terkait dengan tidak responsifnya bunga
terhadap permintaan uang ini ada tiga analisis yang dapat dikemukakan sebagai berikut.
- Pertama, bila ekonomi dalam
keadaan full employment maka kenaikan pengeluaran (agregat
spending) tidak akan menaikan output karena semua faktor produksi
sudah berkerja penuh. Menaikan pengeluaran pemerintah, misalnya, hanya
akan mendorong kenaikan harga. Dalam jangka pendek mungkin dapat menaikan
income, tetapi kenaikan income akan menaikan permintaan uang; sementara
supply uang ketat, yang terjadi adalah kenaikan tingkat bunga, dan
selanjutnya akan menurunkan pengeluaran agregat sehingga income dan output
turun kembali. Ini berarti pengeluaran pemerintah telah menggantikan
pengeluaran investasi (crowding out).
- Kedua, dalam keadaan ekonomi
full employment, ekspansi fiskal (menaikan pengeluaran pemerintah)
tidak menaikan income tetapi justru mendorong naiknya defisit anggaran
pemerintah (budget deficit) karena pemerintah harus meminjam kepada
masyarakat untuk membiayai deficit tersebut. Karena income tidak naik
saving juga tidak naik, akibatnya dana masyarakat yang tersedia untuk
investasi swasta menjadi berkurang sehingga investasi menurun, artinya
terjadi crowding out. Tetapi bila bila kenaikan pengeluaran
pemerintah tersebut mengakibatkan income naik sehingga saving masyarakat
juga naik maka dana yang tersedia untuk investasi swasta meningkat sehingga
crowding out tidak akan terjadi secara penuh.
- Ketiga, ekspansi fiskal
dalam keadaan ekonomi full employment yang mengakibatkan tingkat bunga
naik sementara income dan output tidak naik dapat dicegah bila ekspansi
fiskal tersebut diiringi oleh ekspansi moneter. Kenaikan supply uang akan
menurunkan tingkat bunga sehingga crowding out tidak terjadi. Hasilnya
adalah output dan income naik tetapi tingkat bunga relatif tetap.
Kebijakan ini disebut dengan kebijakan akomodatif (accommodating policy).
B. FAKTOR YG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN MONETER
Kebijakan
moneter adalah tindakan pemerintah mempengaruhi situasi ekonomi makro yang
dilaksanakan dengan mempengaruhi pasar uang atau kebijakan moneter bisa juga
diartikan sebagai tindakan pemerintah dalam mempengaruhi proses penciptaan dan
supply uang. Dengan mempengaruhi penciptaan uang berarti pemerintah juga
mempengaruhi jumlah uang yang beredar. Dengan mempengaruhi jumlah uang yang
berdar berarti pemerintah juga mempengaruhi tingkat bunga yang berlaku dan
selanjutnya akan berdampak pada agregat demand dan income.
Kurva LM
bergeser bila supply uang ril mengalami perobahan. Misalnya pemerintah menambah
supply uang, sesuai dengan pertimbangan kebutuhan ekonomi dan politik, maka
kurva LM akan bergeser ke kanan. Dampak penambahan supply uang ini dapat
dilihat pada Gambar 7.1. Pada awalnya titik keseimbangan berada pada E0 dengan
uang yang disupply pemerintah sejumlah tertentu dan dengan tingkat bunga pada
i0 dan income Y0. Pemerintah kemudian menaikan supply uang sehingga kurva LM0
bergeser ke kanan menjadi LM1 sehingga tingkat bunga turun menjadi i1.
Penurunan tingkat bunga, akibat penambahan supply uang, menyebabkan investasi
naik sehingga income juga naik. Kenaikan investasi juga menaikan AD dan
kenaikan AD berarti kenaikan income dan output. Besarnya kenaikan income adalah
akibat penambahan supply uang adalah:
Gambar Kebijakan Moneter. Kenaikan supply uang
menggeser kurva LM ke kanan. Pasar uang menyesuaikan dengan cepat sehingga
bunga turun ke titik E2. Bunga yang rendah mendorong investasi naik sehingga
pengeluaran dan dan income naik ke Y1. Kenaikan income menyebabkan bunga naik
ke E1.
Sebelum
keseimbangan mencapai titik E1 maka lebih dulu keseimbangan adalah
pada titik E2, hal ini karena proses penyesuaian di pasar uang dapat
terjadi dengan sangat cepat. Kelebihan supply uang yang terjadi segera diserap
oleh publik. Akibatnya harga obligasi naik dan tingkat bunga turun (ingat
permintaan uang berbanding terbalik dengan tingkat bunga). Karena tingkat bunga
turun maka permintaan uang segera naik sehingga pasar uang segera seimbang pada
titik E1. Turunnya bunga mengakibatkan income naik ke Y1.
Besarnya kenaikan income adalah Y0Y1 lebih kecil dari 1/k
∆ M/P, hal ini disebabkan karena kurva LM tidak tegak sehingga kebijakan
moneter kurang efektif. Bila kurva LM tegak maka penambahan income akan sama
dengan 1/k ∆ M/P.
Argumen lain
adalah pada titik E2 tersebut terjadi kelebihan permintaan barang (Excess
Demand of Goods) dimana income tinggi tetapi tingkat bunga rendah sehingga
permintaan investasi naik dan permintaan barang juga tinggi. Sebagai respon
produsen menaikan output sehingga income naik. Naiknya income menyebabkan
permintaan uang naik sehingga tingkat bunga kembali naik. Akhirnya titik
keseimbangan dicapai pada titik E1. Secara ringkas proses yang
terjadi adalah sebagai berikut, MS ↑ → i ↓ → AD (I atau C)↑ → Y↑.
Keadaan sebaliknya akan terjadi bila terjadi penurunan supply uang, yaitu
tingkat bunga akan naik, agregat demand turun, dan income juga akan turun.
EFEKTIFITAS KEBIJAKAN MONETER
Efektifitas kebijakan moneter
tergantung ;
1. Pertama, dari tingkat
kemiringan kurva LM. Bila kurva LM vertical maka semakin
besar dampak dari kebijakan moneter terhadap perubahan income dan sebaliknya
bila kurva LM semakin miring maka semakin kurang efektif kebijakan moneter
tersebut karena sangat kecil dampaknya terhadap penambahan income. Berarti
efektifitas kebijakan moneter akan dipengaruhi oleh factor yang menentukan
kemiringan kurva LM. Kemiringan kurva LM tergantung dengan tingkat sensitifitas
permintaan uang terhadap tingkat bunga (koefisien b pada persamaan 6.5).
Bila permintaan uang sangat sensitive terhadap perubahan bunga (b besar)
maka kurva LM akan miring. Ini berarti bahwa sedikit perubahan tingkat bunga
mengakibatkan.
Bila kurva LM
tegak maka kebijakan fiscal menjadi tidak efektif karena hanya akan menyebabkan naiknya tingkat bunga sementara
income tetap. Peristiwa ini disebut dengan crowding out.
Perubahan permintaan terhadap uang relative besar atau penambahan stok uang
hanya sedikit menurunkan tingkat bunga sehingga kelebihan uang akan lebih
banyak diserap oleh masyarakat. Akibatnya pengeluaran investasi tidak banyak
meningkat karena penurunan bunga yang relative rendah. Sebaliknya bila
permintaan uang tidak sensitive terhadap bunga maka penambahan jumlah stok uang
hanya sedikit mempengaruhi permintaan uang dan akan lebih banyak mengakibatkan
penurunan tingkat bunga sehingga pengeluaran investasi akan semakin besar.
- Faktor
kedua yang mempengaruhi efektifitas kebijakan moneter adalah kemiringan
kurva IS; semakin tegak kurva IS maka semakin tidak efektif kebijakan
moneter, sebaliknya bila kurva IS semakin datar maka kebijakan moneter
akan semakin efektif. Kemiringan kurva IS tergantung dengan tingkat
sensifitas investasi terhadap perubahan tingkat bunga. Bila pengeluaran
investasi sangat sensitif terhadap perubahan bunga maka sedikit perubahan
tingkat bunga akan mengakibatkan perubahan investasi yang relative lebih
besar. Dalam keadaan seperti ini maka bentuk kurva IS akan semakin
mendatar. Pengeluaran investasi yang sensitive terhadap bunga merupakan
indikasi bahwa ekonomi berada dalam keadaan tidak full employment,
artinya masih banyak factor produksi yang belum dipakai penuh. Bila
ekonomi berada dalam keadaan full employment maka pengeluaran
investasi menjadi tidak sensitive terhadap perubahan bunga dan bentuk
kurva IS adalah vertical. Dalam keadaan seperti ini maka bila stok uang
ditambah (kebijakan moneter) maka income tidak akan naik walupun tingkat
bunga turun. Keadaan ini disebabkan karena investasi tidak respon terhadap
penurunan bunga.
KEBIJAKAN CAMPURAN FISCAL DAN MONETER (AKOMODATIF)
Kebijakan
moneter dan kebijakan fiskal akan menghasilkan dampak yang sama dari sisi
income, yaitu kenaikan income, tetapi dari sisi tingkat bunga hasilnya berbeda.
Seperti dilihat pada Gambar 7.3, kebijakan fiskal melalui kenaikan pengeluaran
agregat akan menghasilkan income dan bunga naik pada titik E1.
Sedangkan kebijakan moneter mengahasilkan income naik tetapi bunga turun, yaitu
pada titik E2.
Gambar Perbedaan dampak dari kebijakan moneter dan fiskal. Kedua kebijakan, bila
sama-sama naik, akan menghasilkan kenaikan income dan output. Tetapi dari sisi
bunga, kebijakan fiskal menaikan bunga dan kebijakan moneter menurunkan bunga.
Untuk
mendapatkan hasil yang optimal dari suatu kebijakan maka dilakukan kebijakan
akomodatif, yaitu gabungan kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan fiscal dapat
menaikan income tetapi tingkat bunga menjadi naik sehingga mengurangi dampak
kebijakan fiscal. Dengan asumsi bahwa kurva LM tidak horizontal atau vertical
maka gabungan kebijakan fiscal dan moneter akan memberikan dampak yang lebih
besar terhadap income tetapi tingkat bunga relatif tetap. Kebijakan apa yang
akan diambil oleh pemerintah, apakah fiscal atau moneter, teragantung dengan
tingkat fleksibilitas, dampak dari kebijakan tersebut terhadap output,
kecepatan timbulnya dampak dan siapa yang lebih banyak diuntungkan dan
dirugikan. Berarti keputusan ini juga akan dipengaruhi oleh pertimbangan
politik yang diinginkan pemerintah. Proses accommodating policy ini
dapat dilihat pada Gambar 7.4.
Gambar Kebijakan Akomodatif. Kebijakan fiscal menggeser kurva IS ke kanan sehingga
income dan bunga naik masing-masing ke Y1 dan i1. Naiknya
bunga mengurangi potensi dampak kenaikan income karena turunnya investasi
swasta akibat crowding out (seharusnya income naik ke Y2). Dengan
kebijakan moneter kurva LM bergeser ke kanan sehingga bunga turun dan
pengeluaran investasi kembali naik sehingga income naik ke Y2 dan
bunga kembali turun ke i0.
Kebijakan
moneter disebut akomodatif bila supply uang dinaikan untuk mencegah naiknya tingkat
bunga akibat adanya kebijakan fiscal. Pada Gambar 7.4 diatas supply uang
dinaikan untuk menurunkan tingkat bunga kembali ke titik semula i0
sehingga investasi tidak turun dan income naik lebih tinggi menjadi Y2.
Proses kebijakan akomodatif tersebut dapat diringkas sebagai berikut.
∆Ms ↑ → i ↓ →
AD (I atau C)↑ → Y↑
Kebijakan
moneter (pemerintah menaikan supply uang) menyebabkan tingkat bunga turun.
Turunnya bunga mendorong investasi swasta atau konsumsi rumah tangga naik atau
dengan kata lain penurunan bunga menyebabkan aggregate demand (AD)
mengalami kenaikan. Naiknya AD mendorong produsen untuk menaikan output
sehingga income juga naik
C. MENGUKUR KEBIJAKAN FISCAL DAN MONETER
Tingkat
efektivitas kebijakan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu supply dan demand.
Pertama: dari sisi supply atau peningkatan produksi. Apabila stimulus
fiskal diberikan kepada pengusaha dalam bentuk perpajakan, kita bisa melihat
seberapa besar peningkatan produksi (supply) di sektor ini. Tentu saja ini
terkait penyerapan tenaga kerja atau setidak-tidaknya laju penurunan pemutusan
hubungan kerja. Sekiranya kedua variabel ini tercapai,
stimulus fiskal dari sisi perpajakan dapat dikatakan berhasil.
Kedua,
dari sisi demand, kita dapat mengukur peningkatan daya beli masyarakat. Daya
beli masyarakat akan naik apabila terjadi pertumbuhan ekonomi.
Dampak positif
Kedua tolok ukur
stimulus fiskal di atas sangat penting. Peningkatan produksi tanpa diimbangi
peningkatan daya beli masyarakat tidak akan ada artinya Perusahaan malah akan
merugi dan pemutusan hubungan kerja akan terjadi. Sebaliknya, peningkatan
dayabeli tanpa dibarengi dengan peningkatan produksi justru berpotensi meningkatkan inflasi.
Tentunya, kila belum
dapat mengukur efektivitas dampak stimulus fiskal karena dampak kebijakan baru
akan dapat kita rasakan setidak-tidaknya bulan Maret. Diperkirakan di bulan itu
puncak gelombang pemutusan hubungan kerja akan terjadi.
Untuk
memaksimalkan dampak positif dari paket stimulus fiskal dalam masa krisis,
khususnya dari sisi supply, bukan hanya kebijak-an fiskal saja yang dibutuhkan
pengusaha. Kebijakan moneter pun diperlukan. Untuk mendorong industri, otoritas
moneter perlu menurunkan suku bunga kredit. Kita laliu, Bank Indonesia terus
berusaha menurunkan BI mir, tapi faktanya penurunan BI rale ini belum diikuti
dengan penurunan suku bunga kredit.
Aspek
lainnya yang tak kalah penting adalah aspek pembiayaan anggaran. Untuk
memaksimalkan dampak stimulus fiskal sebagai motor dan stimulus bagi
pertumbuhan ekonomi, pola pengeluaran anggaran tahun 2009 harus dipercepat dan
tidak boleh menumpuk di akhir tahun. Penumpukan pada akhir tahun biasanya tidak
mencapai sasaran dan rawan penyalahgunaan. Akibatnya kebijakan fiskal akan
gagal menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar