Kamis, 12 November 2015

MANAJEMEN STRATEGI-9

Soal 2010
1.    Soal no. 1
a. Pertentangkan perbedaan yang hakiki antara teori permintaan aggregate Klassik dengan Keynesian !.
b. Pertentangkan pula perbedaan yang hakiki antara teori penawaran aggregate klasik dan keynesian !
2.    Buat analisa grafis kurva IS-LM yang memperlihatkan pengaruh kenaikan pengeluaran pemerintah. Kemukakan dengan jelas variabel-variabel makro yang berubah dengan kebijakan ini!
3.    Melalui analisa grafis kurva IS-LM maka buat analisa :
  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas kebijakan fiskal !
  2. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas kebijakan moneter !
  3. Apa yang saudara gunakan dalam mengukur efektifitas kebijakan fiscal dan moneter itu !
JAWAB
  1. Perbedaan hakiki antara teori permintaan aggregate Klasik dengan keynesian Muana Nanga hal : 44
Aspek yang Diperdebatkan
Klasik
Keynes
Permintaan Agregat (AD)
Permintaan agregat (AD) tidak mempunyai “real effects” dalam arti tidak dapat mempengaruhi output (Y) dan kesempatan kerja, tetapi hanya mempengaruhi tingkat harga (P)
·      Money is veil
·      Only money matters
·      Fiscal Policy is “powerless”
Permintaan Agregat (AD) mempunyai “real efeects” dalam jangka pendek tetapi dalam jangka panjang tidak
·      Money still a veil tetapi hanya dalam jangka panjang.
·      Money not all that matters
·      Fiscal policy is not pewerless

  1. Pertentangkan pula perbedaan yang hakiki antara teori penawaran aggregate klasik dan keynesian !
Aggregate supply function: neoclassical sysnthesis (New Classical) vs Keynesian (New Keynesian) adalah:
Aspek yang Diperdebatkan
Klasik
Keynes
Penawaran Aggregat (AS)
Penawaran agregat (AS) merupakan kunci bagi pertumbuhan ekonomi, output ditentukan hanya oleh kurva AS yang vertikal

Penawaran agregat (AS) masih merupakan kunci bagi pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka pendek, perekonomian bisa menyimpang dari kura AS jangka panjangnya, bergerak sepanjang kura AS jangka pendek yang horizontal. Namun pada akhirnya, output riil akan ditentukan oleh kurva AS yang vertikal
Sumber: Michael B.McElroy (1996), The Macroeconomy : Private Choices, Public Actionsand Aggregate Outcomes, Prentice – Hall, Inc. New Jersey, pp. 120-121
2. Analisa Grafis kurva IS-LM yang memperlihatkan pengaruh kenaikan pengeluaran pemerintah dan variabel-variabel makro yg berubah dengan kebijakan ini:





















Gambar : Kebijakan Fiskal. Peningkatan pengeluaran pemerintah ∆G menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan. Pada tingkat bunga yang sama dan melalui proses multiplier income naik ke Y2 dengan titik keseimbangan pada titik E2. Peningkatan income menyebabkan keseimbangan pasar uang berobah karena permintaan uang naik sehingga tingkat bunga naik. Kenaikan bunga menyebabkan investasi menurun sehingga kenaikan income berkurang menjadi Y1. Pengurangan dampak investasi akibat kenaikan bunga ini disebut dengan crowding out.
Perhatikan Gambar di atas Pada awalnya keseimbangan berada pada titik E0, kemudian pengeluaran pemerintah mengalamai kenaikan sebesar ∆G sehingga AD juga naik. Kenaikan AD menyebabkan kurva IS bergeser ke kanan, mengakibatkan income atau output naik dari Y0 ke Y1. Kenaikan income menyebabkan permintaan terhadap uang naik sehingga untuk kembali ke titik keseimbangan maka bunga juga ikut naik ke i1 sehingga tercapai keseimbangan pada titik E1. Apabila tingkat bunga tetap pada i0 maka income harusnya naik mencapai Y2 dengan keseimbagan E2 sesuai dengan besarnya multiplier kali ∆G (αG ∆G). Pada titik E2 ini telah tercapai keseimbagan pada pasar barang karena pengeluaran telah sama dengan output (income). Tetapi karena adanya keterkaitan antara pasar barang dengan pasar uang maka perobahan pada pasar barang (kenaikan income) menyebabkan pasar uang tidak seimbang karena kenaikan income telah menyebabkan naiknya permintaan uang yang selanjutnya mendorong kenaikan tingkat bunga.
Kenaikan tingkat bunga menyebabkan investasi swasta berkurang sehingga mengurangi kenaikan AD. Disinilah keterkaitan antara pasar barang dan pasar uang terjadi. Hanya pada titik E1 income sama dengan pengeluaran agregat dan permintaan uang sama dengan ketersediaan supply uang. Titik E1 adalah titik dimana pasar barang dan pasar uang dalam keadaan seimbang.
3. a. FAKTOR-FAKTOR  YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN FISCAL
Kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah yang mempengruhi keadaan ekonomi makro melalui serangkaian tindakan yang mempengaruhi pasar barang. Kebijakan fiskal umumnya dijalankan melalui kebijakan anggaran pemerintah atau APBN, selanjutnya APBN ini akan mempengaruhi perekonomian makro. Bila APBN meningkat maka penerimaan dan pengeluaran pemerintah juga meningkat. Peningkatan pengeluaran ini akan mempengaruhi kurva IS. Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa kurva IS bergeser bila terjadi perubahan pengeluaran agregat yang disebabkan oleh tiga faktor yaitu pengeluaran investasi swasta, pengeluaran pemerintah dan pajak.
EFEKTIFITAS KEBIJAKAN FISKAL DAN CROWDING OUT
Crowding out’ adalah menurunnya dampak dari pengeluaran autonomous (kebijakan fiskal) karena mengakibatkan tingkat bunga naik sehingga pengeluaran invesasi swasta menurun. Perhatikan gambar 7.2, dengan kenaikan pengeluaran pemerintah seharusnya output naik sebesar αG ∆G sampai mencapai titik E2, tetapi kenyataan hanya sampai pada titik E1. Hal ini disebabkan karena kenaikan tingkat bunga telah menyebabkan invesatasi swasta turun sehingga kenaikan output tidak sebesar yang seharusnya (bila bunga tidak naik).
Dari Gambar diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat crowding out tergantung dengan kemiringan kurva LM, semakin tegak kurva LM maka semakin tinggi tingkat crowding out, dan sebaliknya bila semakin miring maka crowding out semakin kecil. Full crowding out akan terjadi bila kurva LM vertikal, artinya peningkatan investasi tidak memberikan dampak sedikitpun terhadap output kecuali hanya menaikan tingkat bunga.
Seperti terlihat pada persamaan (6.2), kemiringan kurva LM ini tergantung dengan koefisien tingkat bunga (b), semakin kecil b maka semakin tidak respon permintaan uang terhadap perubahan bunga, artinya kurva LM semakin tegak (vertikal). Bila b sama dengan nol maka kurva LM vertikal. Dalam keadaan ini maka kebijakan fiskal menjadi tidak efektif sama sekali, karena hanya akan menaikan tingkat bunga tetapi tidak berpengaruh terhadap income dan output. Terkait dengan tidak responsifnya bunga terhadap permintaan uang ini ada tiga analisis yang dapat dikemukakan sebagai berikut.
  1. Pertama, bila ekonomi dalam keadaan full employment maka kenaikan pengeluaran (agregat spending) tidak akan menaikan output karena semua faktor produksi sudah berkerja penuh. Menaikan pengeluaran pemerintah, misalnya, hanya akan mendorong kenaikan harga. Dalam jangka pendek mungkin dapat menaikan income, tetapi kenaikan income akan menaikan permintaan uang; sementara supply uang ketat, yang terjadi adalah kenaikan tingkat bunga, dan selanjutnya akan menurunkan pengeluaran agregat sehingga income dan output turun kembali. Ini berarti pengeluaran pemerintah telah menggantikan pengeluaran investasi (crowding out).
  2. Kedua, dalam keadaan ekonomi full employment, ekspansi fiskal (menaikan pengeluaran pemerintah) tidak menaikan income tetapi justru mendorong naiknya defisit anggaran pemerintah (budget deficit) karena pemerintah harus meminjam kepada masyarakat untuk membiayai deficit tersebut. Karena income tidak naik saving juga tidak naik, akibatnya dana masyarakat yang tersedia untuk investasi swasta menjadi berkurang sehingga investasi menurun, artinya terjadi crowding out. Tetapi bila bila kenaikan pengeluaran pemerintah tersebut mengakibatkan income naik sehingga saving masyarakat juga naik maka dana yang tersedia untuk investasi swasta meningkat sehingga crowding out tidak akan terjadi secara penuh.
  3. Ketiga, ekspansi fiskal dalam keadaan ekonomi full employment yang mengakibatkan tingkat bunga naik sementara income dan output tidak naik dapat dicegah bila ekspansi fiskal tersebut diiringi oleh ekspansi moneter. Kenaikan supply uang akan menurunkan tingkat bunga sehingga crowding out tidak terjadi. Hasilnya adalah output dan income naik tetapi tingkat bunga relatif tetap. Kebijakan ini disebut dengan kebijakan akomodatif (accommodating policy).

B. FAKTOR YG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN MONETER
Kebijakan moneter adalah tindakan pemerintah mempengaruhi situasi ekonomi makro yang dilaksanakan dengan mempengaruhi pasar uang atau kebijakan moneter bisa juga diartikan sebagai tindakan pemerintah dalam mempengaruhi proses penciptaan dan supply uang. Dengan mempengaruhi penciptaan uang berarti pemerintah juga mempengaruhi jumlah uang yang beredar. Dengan mempengaruhi jumlah uang yang berdar berarti pemerintah juga mempengaruhi tingkat bunga yang berlaku dan selanjutnya akan berdampak pada agregat demand dan income.

Kurva LM bergeser bila supply uang ril mengalami perobahan. Misalnya pemerintah menambah supply uang, sesuai dengan pertimbangan kebutuhan ekonomi dan politik, maka kurva LM akan bergeser ke kanan. Dampak penambahan supply uang ini dapat dilihat pada Gambar 7.1. Pada awalnya titik keseimbangan berada pada E0 dengan uang yang disupply pemerintah sejumlah tertentu dan dengan tingkat bunga pada i0 dan income Y0. Pemerintah kemudian menaikan supply uang sehingga kurva LM0 bergeser ke kanan menjadi LM1 sehingga tingkat bunga turun menjadi i1. Penurunan tingkat bunga, akibat penambahan supply uang, menyebabkan investasi naik sehingga income juga naik. Kenaikan investasi juga menaikan AD dan kenaikan AD berarti kenaikan income dan output. Besarnya kenaikan income adalah akibat penambahan supply uang adalah:

Gambar  Kebijakan Moneter. Kenaikan supply uang menggeser kurva LM ke kanan. Pasar uang menyesuaikan dengan cepat sehingga bunga turun ke titik E2. Bunga yang rendah mendorong investasi naik sehingga pengeluaran dan dan income naik ke Y1. Kenaikan income menyebabkan bunga naik ke E1.
Sebelum keseimbangan mencapai titik E1 maka lebih dulu keseimbangan adalah pada titik E2, hal ini karena proses penyesuaian di pasar uang dapat terjadi dengan sangat cepat. Kelebihan supply uang yang terjadi segera diserap oleh publik. Akibatnya harga obligasi naik dan tingkat bunga turun (ingat permintaan uang berbanding terbalik dengan tingkat bunga). Karena tingkat bunga turun maka permintaan uang segera naik sehingga pasar uang segera seimbang pada titik E1. Turunnya bunga mengakibatkan income naik ke Y1. Besarnya kenaikan income adalah Y0Y1 lebih kecil dari 1/k ∆ M/P, hal ini disebabkan karena kurva LM tidak tegak sehingga kebijakan moneter kurang efektif. Bila kurva LM tegak maka penambahan income akan sama dengan 1/k ∆ M/P.
Argumen lain adalah pada titik E2 tersebut terjadi kelebihan permintaan barang (Excess Demand of Goods) dimana income tinggi tetapi tingkat bunga rendah sehingga permintaan investasi naik dan permintaan barang juga tinggi. Sebagai respon produsen menaikan output sehingga income naik. Naiknya income menyebabkan permintaan uang naik sehingga tingkat bunga kembali naik. Akhirnya titik keseimbangan dicapai pada titik E1. Secara ringkas proses yang terjadi adalah sebagai berikut, MS ↑ → i ↓ → AD (I atau C)↑ → Y↑. Keadaan sebaliknya akan terjadi bila terjadi penurunan supply uang, yaitu tingkat bunga akan naik, agregat demand turun, dan income juga akan turun.
EFEKTIFITAS KEBIJAKAN MONETER
Efektifitas kebijakan moneter tergantung ;
1.    Pertama, dari tingkat kemiringan kurva LM. Bila kurva LM vertical maka semakin besar dampak dari kebijakan moneter terhadap perubahan income dan sebaliknya bila kurva LM semakin miring maka semakin kurang efektif kebijakan moneter tersebut karena sangat kecil dampaknya terhadap penambahan income. Berarti efektifitas kebijakan moneter akan dipengaruhi oleh factor yang menentukan kemiringan kurva LM. Kemiringan kurva LM tergantung dengan tingkat sensitifitas permintaan uang terhadap tingkat bunga (koefisien b pada persamaan 6.5). Bila permintaan uang sangat sensitive terhadap perubahan bunga (b besar) maka kurva LM akan miring. Ini berarti bahwa sedikit perubahan tingkat bunga mengakibatkan.
Bila kurva LM tegak maka kebijakan fiscal menjadi tidak efektif karena hanya akan  menyebabkan naiknya tingkat bunga sementara income tetap. Peristiwa ini disebut dengan crowding out.

Perubahan permintaan terhadap uang relative besar atau penambahan stok uang hanya sedikit menurunkan tingkat bunga sehingga kelebihan uang akan lebih banyak diserap oleh masyarakat. Akibatnya pengeluaran investasi tidak banyak meningkat karena penurunan bunga yang relative rendah. Sebaliknya bila permintaan uang tidak sensitive terhadap bunga maka penambahan jumlah stok uang hanya sedikit mempengaruhi permintaan uang dan akan lebih banyak mengakibatkan penurunan tingkat bunga sehingga pengeluaran investasi akan semakin besar.

  1. Faktor kedua yang mempengaruhi efektifitas kebijakan moneter adalah kemiringan kurva IS; semakin tegak kurva IS maka semakin tidak efektif kebijakan moneter, sebaliknya bila kurva IS semakin datar maka kebijakan moneter akan semakin efektif. Kemiringan kurva IS tergantung dengan tingkat sensifitas investasi terhadap perubahan tingkat bunga. Bila pengeluaran investasi sangat sensitif terhadap perubahan bunga maka sedikit perubahan tingkat bunga akan mengakibatkan perubahan investasi yang relative lebih besar. Dalam keadaan seperti ini maka bentuk kurva IS akan semakin mendatar. Pengeluaran investasi yang sensitive terhadap bunga merupakan indikasi bahwa ekonomi berada dalam keadaan tidak full employment, artinya masih banyak factor produksi yang belum dipakai penuh. Bila ekonomi berada dalam keadaan full employment maka pengeluaran investasi menjadi tidak sensitive terhadap perubahan bunga dan bentuk kurva IS adalah vertical. Dalam keadaan seperti ini maka bila stok uang ditambah (kebijakan moneter) maka income tidak akan naik walupun tingkat bunga turun. Keadaan ini disebabkan karena investasi tidak respon terhadap penurunan bunga.

KEBIJAKAN CAMPURAN FISCAL DAN MONETER (AKOMODATIF)
            Kebijakan moneter dan kebijakan fiskal akan menghasilkan dampak yang sama dari sisi income, yaitu kenaikan income, tetapi dari sisi tingkat bunga hasilnya berbeda. Seperti dilihat pada Gambar 7.3, kebijakan fiskal melalui kenaikan pengeluaran agregat akan menghasilkan income dan bunga naik pada titik E1. Sedangkan kebijakan moneter mengahasilkan income naik tetapi bunga turun, yaitu pada titik E2.
Gambar Perbedaan dampak dari kebijakan moneter dan fiskal. Kedua kebijakan, bila sama-sama naik, akan menghasilkan kenaikan income dan output. Tetapi dari sisi bunga, kebijakan fiskal menaikan bunga dan kebijakan moneter menurunkan bunga.
            Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari suatu kebijakan maka dilakukan kebijakan akomodatif, yaitu gabungan kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan fiscal dapat menaikan income tetapi tingkat bunga menjadi naik sehingga mengurangi dampak kebijakan fiscal. Dengan asumsi bahwa kurva LM tidak horizontal atau vertical maka gabungan kebijakan fiscal dan moneter akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap income tetapi tingkat bunga relatif tetap. Kebijakan apa yang akan diambil oleh pemerintah, apakah fiscal atau moneter, teragantung dengan tingkat fleksibilitas, dampak dari kebijakan tersebut terhadap output, kecepatan timbulnya dampak dan siapa yang lebih banyak diuntungkan dan dirugikan. Berarti keputusan ini juga akan dipengaruhi oleh pertimbangan politik yang diinginkan pemerintah. Proses accommodating policy ini dapat dilihat pada Gambar 7.4.
Gambar Kebijakan Akomodatif. Kebijakan fiscal menggeser kurva IS ke kanan sehingga income dan bunga naik masing-masing ke Y1 dan i1. Naiknya bunga mengurangi potensi dampak kenaikan income karena turunnya investasi swasta akibat crowding out (seharusnya income naik ke Y2). Dengan kebijakan moneter kurva LM bergeser ke kanan sehingga bunga turun dan pengeluaran investasi kembali naik sehingga income naik ke Y2 dan bunga kembali turun ke i0.
Kebijakan moneter disebut akomodatif bila supply uang dinaikan untuk mencegah naiknya tingkat bunga akibat adanya kebijakan fiscal. Pada Gambar 7.4 diatas supply uang dinaikan untuk menurunkan tingkat bunga kembali ke titik semula i0 sehingga investasi tidak turun dan income naik lebih tinggi menjadi Y2. Proses kebijakan akomodatif tersebut dapat diringkas sebagai berikut.
∆Ms ↑ → i ↓ → AD (I atau C)↑ → Y↑
Kebijakan moneter (pemerintah menaikan supply uang) menyebabkan tingkat bunga turun. Turunnya bunga mendorong investasi swasta atau konsumsi rumah tangga naik atau dengan kata lain penurunan bunga menyebabkan aggregate demand (AD) mengalami kenaikan. Naiknya AD mendorong produsen untuk menaikan output sehingga income juga naik

C. MENGUKUR KEBIJAKAN FISCAL DAN MONETER
Tingkat efektivitas kebijakan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu supply dan demand.

Pertama: dari sisi supply atau peningkatan produksi. Apabila stimulus fiskal diberikan kepada pengusaha dalam bentuk perpajakan, kita bisa melihat seberapa besar peningkatan produksi (supply) di sektor ini. Tentu saja ini terkait penyerapan tenaga kerja atau setidak-tidaknya laju penurunan pemutusan hubungan kerja. Sekiranya kedua variabel ini tercapai, stimulus fiskal dari sisi perpajakan dapat dikatakan berhasil.

Kedua, dari sisi demand, kita dapat mengukur peningkatan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat akan naik apabila terjadi pertumbuhan ekonomi.

Dampak positif
            Kedua tolok ukur stimulus fiskal di atas sangat penting. Peningkatan produksi tanpa diimbangi peningkatan daya beli masyarakat tidak akan ada artinya Perusahaan malah akan merugi dan pemutusan hubungan kerja akan terjadi. Sebaliknya, peningkatan dayabeli tanpa dibarengi dengan peningkatan produksi justru berpotensi meningkatkan inflasi.

            Tentunya, kila belum dapat mengukur efektivitas dampak stimulus fiskal karena dampak kebijakan baru akan dapat kita rasakan setidak-tidaknya bulan Maret. Diperkirakan di bulan itu puncak gelombang pemutusan hubungan kerja akan terjadi.

            Untuk memaksimalkan dampak positif dari paket stimulus fiskal dalam masa krisis, khususnya dari sisi supply, bukan hanya kebijak-an fiskal saja yang dibutuhkan pengusaha. Kebijakan moneter pun diperlukan. Untuk mendorong industri, otoritas moneter perlu menurunkan suku bunga kredit. Kita laliu, Bank Indonesia terus berusaha menurunkan BI mir, tapi faktanya penurunan BI rale ini belum diikuti dengan penurunan suku bunga kredit.


            Aspek lainnya yang tak kalah penting adalah aspek pembiayaan anggaran. Untuk memaksimalkan dampak stimulus fiskal sebagai motor dan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi, pola pengeluaran anggaran tahun 2009 harus dipercepat dan tidak boleh menumpuk di akhir tahun. Penumpukan pada akhir tahun biasanya tidak mencapai sasaran dan rawan penyalahgunaan. Akibatnya kebijakan fiskal akan gagal menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar