Nomor.1
Proses management strategic
merupakan suatu paket komitmen atau janji dan tanggung jawab, keputusan,
kebijakan, langkah dan tindakan yang diharapkan oleh suatu perusahaan untuk
mencapai tingkat daya saing berkesinambungan sedemikian rupa sehingga mampu
menghasilkan pengembalian atau laba di atas rata-rata.
Pertanyaan (Total nilai
adalah 20 point)
- Berdasarkan
pendekatan berbasis organisasi industry (I-O model), maka industry dimana
sebuah perusahaan memilih arena persaingan memiliki pengaruh kuat terhadap
kinerjanya dibandingkan jika manager perusahaan memfokuskan perhatian pada
aspek-aspek internal organisasinya. Jelaskan secara singkat:
a)
Lima sifat dari industry dimana perusahaan
anda bersaing:
b)
Lima komponen dari I-O:
Model
I-O untuk Profitabilitas Tinggi
(1) Lingkungan eksternal
(1) Lingkungan eksternal
- Lingkungan Umum
- Lingkungan industri
- Llingkungan persaingan
(2)
Lingkungan yang menarik:
Industri yang karakterisitik
straukturalnya menyiratkan keuntungan tinggi
(3)
Pemilihan strategi:
Serangkaian tindakan yang berhubungan dengan profitabilitas tinggi dalam
industri
(4)
Aktiva dan Keahlian:
Aktiva dan keahlian yang dibutuhkan untuk menerapkan suatu strategi yang
telah dipilih.
(5)
Penerapan Strategi
Tindakan yang diambil untuk menerapkan
strategi yang dipilih.
c) Enam
dimensi dari lingkungan umum (makro):
(1) Ekonomi
(2) Sosial
(3) Politik/Hukum
(4) Global
(5) Teknologi
(6) Demografi

d)
Lima kekuatan bersaing dalam industry:
LIMA
KEKUATAN PERSAINGAN:
Five Forces Model (Porter, 1985)

COMPETITIVE STRATEGY dari
MICHAEL E.PORTER
- Ancaman masuk pendatang baru
Ada beberapa faktor
penghambat pendatang baru untuk masuk ke dalam suatu industri yang sering
disebut hambatan masuk.
Pendatang
baru (new entrants) dapat membahayakan perusahaan-perusahaan yang telah
ada. Pendatang baru menghasilkan kapasitas produksi tambahan. Kecuali
permintaan terhadap barang meningkat, tambahan kapasitas akan menekan agar
biaya bagi pembeli menjadi rendah yang mengakibatkan turunnya penjualan dan
laba bagi seluruh perusahaan dalam industri tersebut. Seringkali pendatang baru
memiliki sumber daya dalam jumlah besar dan kemauan yang kuat untuk memperoleh
pangsa pasar. Tetapi, hadirnya pesaing baru dapat mendorong
perusahaan-perusahaan yang ada menjadi lebih efektif dan efesien serta belajar
bagaimana bersaing dalam dimensi baru (misalnya saluran distribusi dengan
komputer). Seberapa besar kecendrunganperusahaan akan memasuki suatu industri
tergantung fungsi dari dua faktor-rintangan untuk masuk (barrier to entry)
dan reaksi yang diharapkan dari pelaku industri yang ada. Apabila perusahaan
menganggap untuk masuk ke dalam suatu industri adalah sulit atau apabila
perusahaan mengalami kerugian bersaing dalam memasuki suatu industri maka saat
itulah rintangan untuk masuk timbul.
- Persaingan sesama perusahaan dalam
industri
Menurut Porter,
tingkat persaingan itu dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:
Ø
Jumlah
kompetitor
Jumlah kompetitor
atau pesaing sudah tentu akan mempengaruhi tingkat persaingan. Kompetitor
hendaknya dilihat dari beberapa sisi, seperti jumlah, ukuran dan kekuatannya
Ø Tingkat pertumbuhan
industri
Pertumbuhan industri
yang besar biasanya menyediakan sejumlah peluang bagi perusahaan untuk tumbuh
bersama industrinya. Pertumbuhan industri yang lambat sebaiknya tidak direspons
dengan ekspansi pasar kecuali perusahaan mampu mengambil pangsa pasar pesaing.
Kondisi ini dapat menimbulkan trend penurunan harga atau terjadinya perang
harga.
Ø Karakteristik produk
Produk hendaknya
tidak sekadar menyediakan kebutuhan dasar, tetapi juga memiliki suatu pembedaan
(differentiation) atau nilai tambah.
Ø Biaya tetap yang
besar
Pada jenis industri
yang mempunyai total biaya tetap yang besar, perusahaan hendaknya beroperasi
pada skala ekonomi yang tinggi. Akibatnya adalah perusahaan kadang kala
terpaksa menjual produk di bawah biaya produksi.
Ø Kapasitas
Kapasitas selalu
berkorelasi dengan biaya produksi per unit. Produksi pada kapasitas tinggi
diperlukan untuk menjaga efesiensi biaya per unit. Penambahan fasilitas
produksi dapat dilakukan apabila perusahaan telah mampu berproduksi pada
tingkat yang maksimal.
Ø Hambatan keluar
Hambatan keluar
memaksa perusahaan untuk tidak keluar dari industri. Hambatan ini dapat brupa
aset-aset khusus ataupun kesetian manajemen
pada bisnis tersebut. Contohnya adalah idealisme dalam bisnis. Dalam
kondisi demikian, perusahaan biasanya akan berusaha bertahan dan menghindari
kerugian yang besar sambil menunggu waktu yang tepat untuk keluar.
- Ancaman dari produk pengganti
Perusahaan-perusahaan
yang berada dalam suatu industri tertentu akan bersaing pula dengan produk
pengganti. Walaupun karakteristiknya berbeda, barang substitusi dapat
memberikan fungsi atau jasa yang sama. Ancaman produk substitusi kuat bilamana
konsumen dihadapkan pada switching cost yang sedikit dan jika produk
substitusi itu mempunyai harga yang lebih murah atau kualitasnya sama, bahkan
lebih tinggi dari produk-produk suatu industri.
- Kekuatan tawar-menawar pembeli (Buyers)
Para pembeli, dengan
kekuatan yang mereka miliki, mampu mempengaruhi perusahaan untuk menurunkan
harga produk, meningkatkan mutu dan servis serta mengadu perusahaan dengan
kompetitornya. Dengan demikian, beberapa kondisi yang mungkin dihadapi
perusahaan sehungan dengan adanya kekuatan ini antara lain, adalah:
Ø
Pembeli
mampu memproduksi produk yang diperlukan
Ø
Sifat
produk tidak terdiferensiasi dan banyak pemasok
Ø
Switching
cost pemasok adalah kecil
Ø
Pembeli
mempunyai tingkat profitabilitas yang rendah, sehingga sensitif terhadap harga
dan diferensiasi servis.
Ø
Produk
perusahaan tidak terlalu penting bagi pembeli, sehingga pembeli dengan mudah
mencari substitusinya.
- Kekuatan tawar-menawar pemasok (Supplier)
Pemasok dapat
mempengaruhi industri lewat kemampuan mereka menaikkan harga atau pengurangan
kualitas produk atau servis. Pemasok menjadi kuat apabila beberapa kondisi
berikut terpenuhi:
Ø
Jumlah
pemasok sedikit
Ø
Produk/servis
yang ada adalah unik dan mampu menciptakan switching cost yang besar.
Ø
Tidak
tersedia produk substitusi
Ø
Pemasok
mampu melakukan integrasi ke depan dan mengolah produk yang dihasilkan menjadi
produk yang sama yang dihasilkan perusahaan.
e)
Empat jenis data dan informasi yang
diperlukan dalam analisis pesaing, khususnya competitor intelligence:
f)
Jelaskan berbagai factor penghalang masuk (barries
to entry) bagi pendatang baru dalam sebuah industry:
Faktor-faktor
hambatan masuk yang dimaksud adalah:
Ø
Skala
ekonomi
Apabila pendatang
baru berproduksi dalam skala kecil, mereka akan dipaksa berproduksi pada biaya
perunit yang tinggi, padahal perusahaan yang ada tengah berupaya pada skala
produksi yang terus diperbesar dan proses produksi yang terus menerus
diefisienkan sehingga harga per unit barang menjadi lebih rendah.
Ø Diferensiasi produk
Diferensiasi yang akan
menciptakan hambatan masuk ini memaksa pendatang baru mengeluarkan biaya dan
usaha yang besar untuk merebut para pelanggan yang loyal kepada perusahaan yang
ada/uatam. Usaha besar itu, misalnya melakukan pengiklanan yang gencar dan
memberi servis yang baik. Pada tahap awal, usaha-usaha ini membutuhkan biaya
yang besar dan bahkan akan menciptakan kerugian. Seringkali kondisi ini
berjalan cukup lama.
Ø Kecukupan modal
Jenis industri yang
memerlukan modal besar merupakan hambatan yang besar bagi pemain baru, terutama
pada jenis industri yang memerlukan biaya yang besar untuk riset dan
pengembangan serta eksplorasi.
Ø Biaya peralihan
Hamabatan masuk akan
tercipta dengan adanya peralihan pemasok, yaitu biaya yang harus dikeluarkan
pembeli bilamana berpindah dari produk pemasok tertentu ke produk pemasok
lainnya.
Ø Akses ke saluran
distribusi
Jalur distribusi
sangat menentukan penyebaran produk.
Ø Ketidakunggulan biaya
independen
Keunggulan biaya yang
dipunyai oleh perusahaan yang sudah ada sulit ditiru oleh pendatang baru.
Ø Peraturan pemerintah
Pemerintah biasanya
menerbitkan sejumlah aturan yang mengatur bidang-bidang tertentu.
g) Empat
factor penyebab sebuah industry menjadi kurang menarik untuk dimasuki oleh
perusahaan anda:
- Berdasarkan
pendekatan sumber daya (resource-based model) bahwa sesuangguhnya, setiap
organisasi himpunan dari sumberdaya dan kapabilitas yang unik yang dapat
dijadikan dasar bagi perusahaan untuk merumuskan strateginya dan sebagai
sumber utama perolehan laba.
Pertanyaan:
(Total nilai adalah 20 poin)
a) Jelaskan
secara singkat lima jenis sumberdaya utama perusahaan anda:
(1)
SDM
(2)
Pemasaran
(3)
Keuangan
(4)
Operasional
(5)
R
& D
b)
Enam
komponen dari model berbasis sumberdaya:
(1)
Sumber
daya
(2)
Kemampuan
(kapability)
(3)
Keunggulan
bersaing yang berkesinambungan (competitive advantage)
(4)
Pemilihan
dan penerapan strategi (strategy implementation)
(5)
An
attractive industry
(6)
Superior
returns
c)
Empat kreteria utama dari sumberdaya dan kapabilitas
sumberdaya yang dimiliki perusahaan anda:
d) Jelaskan
hubungan dalam bentuk diagram antara sumberdaya, kapabilitas, kompetensi inti
dan hasil (outcomes):

e) Gambarkan
dalam sebuah diagram komponen-komponen dari analisis internal yang anda dapat
gunakan untuk merumuskan strategic competitiveness:

f)
Apa yang perusahaan anda diharapkan dicapai
melalui analisis rantai nilai (value chain analysis)
VALUE
CHAIN
Rantai nilai (value chain) adalah pola yang
digunakan oleh perusahaan unutk mengidentifikasi cara-cara yang dapat digunakan
untuk memfasilitasi implementasi dari strategi tingkat bisnis. Sebuah rantai
nilai perusahaan dibagi-bagi kedalam aktivitas primer dan pendukung. Aktivitas
primer berkaitan dengan penciptaan fisik produk, penjualan, dan distribusanya
ke para pembeli dan servis setelah penjualan. Aktivitas pendukung menyediakan
dukungan yang diperlukan bagi berlangsungnya aktivitas-aktivitas primer. Rantai
nilai menunjukkan bagaimana sebuah produk
bergerak dari tahap bahan baku sampai pada pelanggan akhir. Untuk
perusahaan-perusahaan individual, gagasan mendasar dari rantai nilai adalah
untuk menambah sebanyak mungkin nilai, semurah mungkin dan yang paling penting,
untuk menangkap nilai tersebut. Dalam perekonomian yang kompetitif secara
global, penghubung yang paling bernilai terhadap
rantai tersebut cenderung terletak pada orang-orang yang memiliki pengetahuan
khususnya tentang pelanggan. Lokus dari peluang-peluang penciptaan nilai ini
berlaku sama kuatnya pada perusahaan ritel dan jasa dengan perusahaan
manufaktur. Jadi untuk organisasi disemua sektor, efek dari ecommerce membuat
perusahaan semakin mengembangkan proses pengetahuan yang menambah nilai untuk
mengkompensasi nilai dan margin yang diambil internet dari proses fisik.
ANALISIS
RANTAI NILAI PORTER


Soal Nomor 2.
Lampiran soal berikut adalah
kasus yang diambil dari Royal Insurance
Italy karya Rita Gunter McGrath dan Ian C Macmillan (2005) Market Buster 40
Strategic Moves That Drive Exception Business Growth. Saudara diharapkan untuk mereview
langkah-langkah strategis yang telah diterapkan mewarnai philosophy bisnis
perusahaan ini dengan menjawab pertanyaan
berikut: (Total nilai adalah 30 point):
a)
Dalam mengamankan dan mengaplikasikan konsep
dalam DRAT table. Saudara diharapkan melakukan formulasi strategic moves dengan
memperhatikan daur hidup jasa layanan asuransi.
b)
Jika Bonston Consultan Group (BCG) concept
memungkinkan digunakan untuk membahas kasus ini, saudara diharapkan melakukan
identifikasi strategic plan untuk memenangkan persaingan.
JAWABAN:
a) Boston
Consulting Group (BCG) dan Strategi Generik versi Porter
Tujuan
Matrik BCG :
1.
Mengembangkan
strategi pangsa pasar atas dasar cash flow
2.
Mengembangkan
fortofolio produk sehingga jelas kekuatan & kelemahan
3.
Memutuskan apakah perlu meneruskan investasi
4.
Mengalokasi anggaran
pemasaran produk guna memaksimalkan cash flow
5.
Mengukur kinerja
manajemen, berdasar kinerka produk di pasaran
MATRIK BCG
MARKET SHARE
High Low
|
STAR (II)
|
QUESTION
MARK (I)
|
|
CASH COW (III)
|
DOGS (IV)
|
a. Question
Marks. SBU-SBU yang berada pada Kuadran I mempunyai pangsa
pasar yang relatif rendah dan bersaing dalam pasar industri yang pertumbuhannya
tinggi. Biasanya, kebutuhan uang kas adalah tinggi. Oleh karena itu, perusahaan
harus memutuskan untuk memperkuat dirinya dengan cara melaksanakan strategi
intensif, yaitu strategi-strategi market penetration, market development
atau product development. Atau, menjual semuanya.
b. Stars.
Bisnis
yang berada pada Kuadran II dikatakan sebagai stars, memperlihatkan bahwa
perusahaan memiliki long-run opportunities terbaik dalam hal pertumbuhan
dan laba. SBU dengan pangsa pasar yang relatif tinggi dan pertumbuhan pasar
industri yang juga relatif tinggi memerlukan investasi untuk memperkuat posisi
mereka yang dominan. Forward integration, backward integration, horizontal
integration, market penetration, market development, produsct development dan
joint venture adalah strategi-strategi yang dapat dipertimbangkan untuk
digunakan bagi SBU yang berada di Kuadran II ini.
c. Cash
Cows. SBU-SBU yang terletak pada Kuadran III memiliki potensi
pangsa pasar yang relatif tinggi, tetapi mereka bersaing dalam pertumbuhan
pasar industri yang lambat. Dikatakan Cash Cows karena SBU ini seringkali
diperas ibarat susu sapi perah. SBU yang kini berada pada posisi Cash Cows
biasanya berada pada posisi stars terlebih dahulu. SBU sebagai cash cows harus
ditangani sebaik-baiknya agar ia berada pada posisi ini selama mungkin. Product
development atau concentric diversification mungkin merupakan strategi yang
menarik untuk diimplementasikan. Bagaimanapun juga, suatu saat posisi cash cows
akan melemah. Untuk kondisi lemah ini, strategi retrenchmnet atau
divestiture dapat digunakan.
d. Dogs.
SBU
yang berada pada Kuadran IV memiliki posisi pangsa pasar relatif rendah; dan
bersaing pada pasar industri yang pertumbuhannya lemah atau bahkan tidak ada
pertumbuhan. SBU seperti ini disebut Dogs. Oleh karena berada pada posisi lemah baik eksternal
maupun internal, maka bisnis ini sering dilikuidasi atau didivestasi melalui strategi
retrenchment.
Manfaat
utama BCG Matrix adalah untuk menggambarkan tentang cash flow,
karakteristik-karakteristik investasi, dan kebutuhan SBU perusahaan. BCG matrix
mempunyai beberapa batasan, misalnya dengan memandang setiap perusahaan hanya
sebagai star, cash cows, dog atau question mark adalah keputusan yang terlalu
sederhana. Selain itu. BCG matrix tidak mencerminkan variasi dari SBU-SBU
termasuk pertumbuhan industrinya.
c) Jika
Saudara adalah direktur utama dari Royal Insurance Italy dan diharapkan
melakukan eksekusi dari strategic concept sebagaimana diformulasikan
dalam taking your next step pada kasus ini, saudara diharapkan untuk
mengevaluasi action plan tersebut dengan memperhatikan strategic Business
unit dan Competence Consideration:
Soal: 3
Strategi tingkat bisnis menekankan tindakan mana yang
harus diambil untuk menyediakan nilai
bagi konsumen dan mendapatkan keunggulan bersaing melalui pendayagunaan kompetensi
inti dalam pasar suatu produk tertentu.
Pertanyaan:
-
a.
Jelaskan tiga isu utama pada perumusan strategi tingkat unit Bisnis
-
b.
Jelaskan enam dasar segmentasi pasar konsumen perusahaan anda
-
c.
Gambarkan dalam sebuah digram limna jenis strategi yang anda dapat terapkan
bagi
keunggulan strategiyang anda pilih berdasarkan kombinasi faktor keunggulan bersaing dan cakupan bersaing dalam
lingkungan industry
-
d.
Jelaskan secara singkat beberapa kegiatan internal bisnis sebagai sumber penciptaan nilai bila perusahaan anda
mengadopsi strategi biaya murah (cost leadership)
Jawaban:
-
a. Isu
perumusan strategi termasuk memutuskan bisnis apa yang akan dimasuki bisnis apa
yang harus dihentikan, bagaimana
mengalokasikan sumber daya, apakah memperluas operasi atau diversifikasi, apakah akan memasuki pasar
internasional, apakah akan melakukan merjer atau membentuk
usaha patungan, dan bagaimana menghindari pengambilalihan perusahaan pesaing.
Keputusan
perumusan strategis mengikat
suatu organisasi pada produk,pasar, sumber daya, dan teknologi
spesifik selama periode waktu tertentu. Strategi
menetapkan keunggulan bersaing jangka panjang.
Apapun
yang akan terjadi, keputusan strategis mempunyai konsekuensi berbagai fungsi
utama dan pengaruh jangka panjang pada suatu organisasi.
Formulasi strategi bisnis
melibatkan pengambilan keputusan pada tingkat divisi atau tingkat unit bisnis.
Strategi ini harus konsisten dengan strategi bisnis keseluruhan yang
dikhususkan untuk lines of business tersebut. Salah satu pendekatan yang
berguna untuk merumuskan strategi bisnis adalah analisis kompetitif dari
Porter. Analisis tersebut didasarkan pada analisis terhadap lima kekuatan
kompetitif yaitu ancaman pesaing baru, kekuatan tawar menawar dari pemasok,
kekuatan tawar menawar dari pembeli, ancaman produk pengganti serta persaingan
antar perusahaan. Gabungan dari kelima kekuatan inilah yang menentukan posisi
laba akhir dalam suatu industri.
Tiga isu utama yang harus dipertimbangkan adalah: (1)
Strategi keunggulan biaya, (2) diferensiasi, (3) Fokus
b. Enam dasar segmentasi pasar konsumen
Segmentasi pasar terdiri dari kelompok besar yang dapat
diidentifikasi dalam sebuah pasar dengan keinginan, daya beli, lokasi
geografis, perilaku pembelian, dan kebiasaan pembelian serupa.
c. Strategi dalam lingkungan industri
(Hill &
Jones p. 213 – 242)
Instructor: Rudy C Tarumingkeng
Ringkasan
Strategi investasi merupakan tahap awal dan krusial dalam rangka
mengembangkan
strategi generik.
Tahap berikutnya adalah memilih taktik awal yang menguntungkan (gambit)
dan manuver2
merupakan tahap kedua dalam memformulasikan strategi
pada business level. Dalam fragmented
industry yg terdiri atas bermacam-macam perush kecil dan sedang, strategi kompetitif adalah: chaining, franchising dan horizontal merger.
Pada industri tahap embrionik dan yg sedang bertumbuh strategi yg
ditempuh walaupun krusial, adalah
technical innovation (inovasi bersifat teknis). Pada fase ini, tiga strategi yg bisa dipilih:
Mengembangkan sendiri pasar dan teknologi, mengembangkannya bersama
perush lain
dan mengambil lisensi teknologi dari perusahaan yang
sudah berkembang.
Industri yg sudah dewasa (mature) terdiri atas industri besar yg tidak
banyak yg saling tergantung
(interdependent), sehingga kesuksesan satu perusahaan tergantung dari respons pesaingnya.
Moves dan taktik sebagai strategi utama dari mature industry di tengah
persaingan adalah
me-manage price signaling dan price leadership, non price competition
dan capacity control.
Untuk mature industry juga perlu mengembangkan supply-and-distribution
strategy untuk
melindungi sumber dan competitive advantage-nya.
Pada declining industry di mana market demand leveling off (mulai/sedang
menurun),
perush harus menempuh price dan non price strategy pada lingkungan
kompetisi yg baru, dan mengendalikan
capacity untuk mencegah terjadinya masalah capacity expansion.
Ada empat strategi utama untuk declining industry jika demand sedang
menurun:
1/ Leadership, 2/ niche, 3/ harvest, dan 4/ strategi divestasi. Pilihan
ditentukan oleh tingkat
parahnya perush dan kekuatan perush dibandingkan terhadap demand yg
tersisa.
Opening case:
Burger wars. Mc Donald vs Taco Bell, Burger King dll., dalam produk
(volume dan
komposisi), kelengkapan (dengan tambahan cheese, bacon, beef dsb),
pengembangan
produk (chicken dishes, pizza) dan globalisasi (McDonald dan Burger
King).
Industri terfragmentasi (fragmented industries) terdiri atas banyak
perusahaan2 kecil dan
sedang seperti video rental, restaurant, legal services. Strategi focus
sebagai pilihan
utama.
1. Strategi pada Fragmented Industry
Pada industri fragmented, karena skalanya kecil maka terdapat sangat
sedikit atau tidak ada
economies of scale, investasi relative kecil, demand/keinginan pasar
sangat special dan biaya transport
tinggi.
Perush memfokus kepada kelompok tertentu, keinginan khas, atau lokasi
spesifik. Contoh:
industri furniture, sepatu, restoran, panti pijat, dll. Untuk memperoleh
penghasilan yang besar dan bersaing
strategi yang ditempuh adalah:
(a) Chaining
Membangun network outlet bisnis yang terkait erat satu sama lain
sehingga merupakan suatu
outlet raksasa, misalnya Wal Mart, Hero Supermarket. Tujuan utama adalah
untuk menurunkan biaya melalui :
- Pembelian besar-besaran untuk discount harga.
- Iklan secara nasional
- Membangun pusat-pusat distribusi mengurangi biaya transportasi.
- Sharing dalam managerial skills.
(b) Franchising
Perusahaan induk memberi hak pada perusahaan lain untuk memakai nama
(“bendera”),
reputasi, dan keterampilan dengan sistem bagi hasil.
Dalam perjanjian disepakati bahwa untuk menjamin
keunikan franchisee harus menjamin mutu dan reputasi perusahaan induk.
Franchising dapat menurunkan biaya melalui iklan nasional, skill
sharing, purchasing, dll.
Contoh: Mc Donalds, KFC.
(c) Merger horizontal
Konsolidasi industri untuk memperoleh economies of scale dan mengamankan
pangsa pasar.
Contoh: Dillard me-merger perusahaan-perusahaan lokal
dan regional, menjadi perusahaan besar,
nasional.
2. Strategy pada fase Embryonic dan Growth Industries
Embryonic industries ditandai oleh adanya inovasi. Inovasi adalah first
mover dan dapat memberikan laba
besar. Perusahaan yang memasuki persaingan umumnya masuk pada fase growth dan dapat berusaha menduduki posisi first mover.
Bagi perusahaan inovator (first mover) ada beragam strategi untuk
mempertahankan
keunggulan kompetitif dalam jangka panjang.
(a) Membuat dan memasarkan sendiri, inovasi
(b) Membuat dan memasarkan inovasi bersama pihak lain melalui aliansi
atau joint
venture.
(c) Memberi lisensi untuk memasarkan.
Strategi mana yang paling cocok tergantung pada 3 faktor :
1. Adanya complementary asset, yaitu sumberdaya yang diperlukan untuk
menggali
inovasi dan memperoleh keunggulan kompetitif. Asset
paling penting ialah fasilitas menufakturing
yang mampu memenuhi demand tinggi dengan mutu baik. Asset utama lainnya ialah marketing know-how, sales force, sistem distribusi. dll.
2. Height of barriers to imitation. Barrier to imitation adalah
faktor-faktor yang menghalangi pesaing meniru
distinctive competencies perusahaan, khususnya inovasi. Barrier to imitation memberi waktu banyak bagi bagi inovator membangun keunggulan
kompetitif
dan membentuk barrier to entry. Misalnya Patent untuk
Xerox. Cara lain untuk memperlambat
imitasi ialah dengan membuat produk baru secara rahasia. Misalnya Coca Cola dapat merahasiakan resepnya puluhan tahun.
3. Capable competitors ialah perusahaan yang mampu meniru cepat.
Kemampuan meniru
tergantung pada 2 faktor :
(a) R&D skills. Kemampuan membuat comperable product dengan
mempelajari
(reverse engineer) produk lama. Eg. GT dengan CAT
Scanner-nya EMI.
(b) Complimentary assets. Bila pesaing tidak memiliki comp. asset, maka
akan lebih
sulit untuk meniru cepat.
3. Strategi Untuk Mature Industries
Karena ketatnya persaingan selama fase shakeout, mature industri
biasanya didominasi oleh
beberapa perusahaan besar. Meskipun banyak perusahaan kecil dan menengah
tetapi sifat dari industri dibentuk
oleh perusahaan dominan.
o Bila satu perusahaan mengubah strateginya maka perusahaan lain
khususnya yang berada di dalam
strategic group yang sama akan bereaksi dengan mengubah strateginya juga.
Dengan
demikian, strategi perusahaan menjadi sangat
interdependent.
o Issue utama yang dihadapi perusahaan di dalam mature industri ialah
bagaimana melindungi keunggulan kompetitif
masing-masing dan sekaligus mempertahankan laba industri.
4. Strategi Mencegah Masuknya Pesaing ke Mature Industry
(a) Product proliferation
Memproduksi banyak variasi produk untuk mengisi banyak segmen; karena
segmen
sudah terisi, pesaing enggan masuk.
(b) Price cutting
Menurunkan harga sehingga meningkatkan pangsa pasar dan membuat
pesaing
berhati-hati untuk masuk.
Perusahaan umumnya menetapkan harga tinggi pada awalnya (fase
embryonic dan
growth) dan bertahap menurunkan untuk menambah pangsa
pasar, meningkatkan reputasi, dan brand
loyalty.
(c) Maintaning excess capacity
Memproduksi melebihi kebutuhan pasar, dimaksudkan sebagai peringatan
bagi
pesaing potensial.
5. Strategi Mengendalikan Rivalitas di Mature Industries
(a) Price signaling
Proses menaikkan / menurunkan harga produk dengan maksud mempengaruhi pesaing dalam pricing policy; price signaling adalah alat untuk
membentuk struktur kompetisi di dalam
industri agar rivalitas terkendali.
Dua 2 bentuk price signaling :
1. Tit-for-tat strategy = perusahaan akan bereaksi keras pada setiap
gerakan
pesaing yang tidak bersahabat atau mengancam
eksistensi perusahaan. Dalam hal ini, tidak
satupun yang menikmati sesuatu.
2. Secara tidak langsung mengkoordinasi harga. Perusahaan tertentu
mungkin
memberi tanda untuk menurunkan harga guna mencegah
kaburnya pelanggan ke industri lain,
bukan untuk memulai perang.
(b) Price leadership
Perusahaan tertentu mengambil inisiatif untuk menetapkan harga industri.
Proses ini
berjalan tersembunyi, mis. Industri otomotif di USA,
perusahaan paling lemah dijadikan
penentu harga mobil.
(c) Non-price competition: diferensiasi produk adalah cara bersaing
utama yang
menghindari perang harga:
1. Market penetration: Meningkatkan pangsa pasar di dalam segmen pasar
yang
tengah digeluti melalui iklan yang gencar dan
diferensiasi produk. Eg. Industri detergent
2. Product development: Menciptakan produk baru atau meningkatkan
penampilan
produk lama. Misal: Industri mobil. Merupakan upaya
penting untuk
mempertahankan diferensiasi produk dan membangun pangsa
pasar.
3. Market development: Mencari dan memasuki segmen pasar yg baru, memanfaatkan brand name yang sudah ada di segmen pasar yang lain.
4. Product proliferation: Perusahaan besar mengisi setiap segmen pasar
dengan satu
jenis produk.
(d) Capacity control
Meski non-price competition membantu mencegah persaingan tidak sehat,
kadangkadang
perang harga terjadi juga. Penyebab utama ialah adanya over-capacity
oleh
banyak perusahaan. Surplus produk hanya dapat dibuang
melalui penurunan harga.
Faktor -faktor penyebab excess capacity :
- Teknologi baru yang diperkenalkan serentak oleh beberapa perusahaan.
- Teknologi yang memproduksi dalam sistem batch.
- Banyak pemain baru masuk.
- Turunnya demand secara drastis.
- Umur perusahaan dan sifat demand.
- Misalnya Industri perhotelan.
Strategi Mengendalikan Kapasitas
Preemp rivals strategy: membangun operasi skala besar untuk memenuhi
semua
kenaikan demand yang diperkirakan. Ini menghindarkan
perusahaan lain menambah kapasitas.
Sangat riskan karena membutuhkan investasi besar untuk demand yang belum tentu ada.
Coordinated capacity. Dapat dilakukan hanya secara diam-diam.
6. Strategy Supply dan Distribusi Untuk Mature Industry
Dalam industri fase mature, perusahan lebih kuat posisinya relatif
terhadap suppliers dan
pelanggan. Untuk melindungi pangsa pasar dan meningkatkan mutu,
perusahaan
cenderung mengambil alih distribusi produk dan dan
sumber inputs yang penting (melakukan
vertical integration). Dengan
mengendalikan distribusi dan sumber inputs, perusahaan dapat menjamin kemampuan menjual produk dan memperoleh inputs secara tepat waktu,
meningkatkan
mutu dan dan menurunkan harga sehingga meningkatkan
keunggulan kompetitif.
Strategi distribusi yang dikembangkan disesuaikan dengan sifat produk
(complexity of a product) dan
banyaknya informasi yang dikuasai. Misalnya, produsen mobil memakai
franchisees untuk distribusi, bukan supermarket mobil karena rumitnya
after-salesservices,
sedangkan industri elektronik memilih jaringan distributor, P&G
memilih
langsung retailers.
7. Strategi Untuk industri yang sedang menurun (declining industries) Sangat tergantung kepada parahnya penurunan (severity of decline.
Tergantung pada 4 faktor utama :
(a) Speed of decline. Makin cepat, kompetisi makin ketat.
(b) Hight of exit barriers. Makin sulit keluar, kompetisi makin hebat.
(c) Level of fixed cost. Makin tinggi, kompetisi makin ketat
(d) Commodity nature of the product. Makin commodity like. kompetisi
makin ketat.
Misal: Produk baja.
Memilih strategy :
(a) Leadership strategy. Bila perusahaan memiliki distinctive strength
dan kecepatan
decline tidak tinggi. Berupaya mengambil pangsa pasar
perusahaan yang meninggalkan
industri. Misalnya: Philip Morris (industri tembakau) melalui agggresive marketing.
(b) Niche strategy. Memfokus pada kantong demand yang menurun lebih
lambat atau
demand masih stabil. Bila perusahaan memiliki
distinctive competencies, misalnya Naval memproduksi harpoon alat penangkap ikan paus, untuk orang Eskimo.
(c) Harvest strategy
Bila perusahaan merasa tidak mampu lagi bertahan dalam industri yang
menurun
cepat,
optimalkan cash inflow sebelum melakukan likuidasi bisnis; pangkas
semua
investment dan pengeluaran, R&D, iklan, dll.
(d) Divestment strategy. Bila perusahaan merasa tidak mampu lagi
bertahan dalam
alam persaingan yang sangat ketat, bisnis dijual pada
pihak lain pada waktu yang tepat, sebelum
decline menukik. Kesulitan adalah menentukan waktu yang tepat (timing) untuk menjual .
d. Kegiatan internal bisnis sebagai
sumber penciptaan nilai bila perusahaan mengadopsi strategi biaya murah
AirAsia pada
awalnya dimiliki oleh Pemerintah Malaysia dibawah nama DRB-HICOM. Namun karena
manajemen dan kegiatan operasional yang tidak efisien dan tidak baik yang di lakukan Pemerintah Malaysia, maka mereka mengalami kerugian yang sangat
besar, sehingga mengalami kebangkrutan.
Hal ini
membuat keinginan Pemerintah Malaysia untuk menutup kegiatan operasionalnya, namun seorang eksekutif ternama dari perusahaan Time Warner, yaitu Datuk
Tony Fernandes melihat ini suatu peluang
untuk menghidupkan dan memperbaiki manajemen AirAsia. Lalu dia membeli Air Asia
dengan harga 1 Ringgit kepada Pemerintah Malaysia pada 2 Desember 2001.
Kemudian
Datuk Tony Fernandes melakukan pembenahan manajemen AirAsia dengan armada
sebanyak 20 unit pesawat Boeing 737-300. Dengan harga yang lebih murah di
bandingkan harga Malaysia Airlines. Konsep AirAsia adalah penerbangan yang
berbiaya rendah ( low cost ) dengan mengurangi hal-hal yang meningkatkan
biaya seperti :
- Tiket
dipesan melalui internet atau dibeli ke counter dengan bentuk tiket
selembar kertas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pemborosan yang selama
ini dilakukan, dimana tiket menggunakan kertas yang bagus dan jumlah
lembarannya hampir 5 lembar. Dengan tiket selembar kertas, maka pemborosan
biaya dapat dilakukan.
- Mengurangi
biaya dengan tidak menyediakan menu makanan atau minuman bagi penerbangan
yang membutuhkan waktu paling lama 2 jam. Dengan pengurangan penyediaan
makanan, diharapkan dapat mengurangi biaya yang di bebankan kepada
penumpang.
- Mengurangi
penerbangan dari satu daerah ke daerah atau dari satu negara ke negara
lain menggunakan transit. Kalau setiap penerbangan transit, maka biaya
pemakaian airport akan di bebankan sangat besar. Untuk itu, mereka berusaha
setiap penerbangan tidak ada transit dan langsung ke tempat tujuan.
- Counter
tiket pesawat sangat sedikit dan biasanya pesanan tiket melalui media
internet. Hal ini dilakukan agar sedikit mempergunakan tenaga kerja
seperti ticketing dan penjaga counter, sehingga pembebanan biaya tenaga
kerja dapat diminimalkan.
Hal ini
berhasil, membuat AirAsia menjadi salah satu penerbangan yang terbesar di
Malaysia dan terbaik di Asia pada saat ini.
AirAsia Indonesia
Indonesia AirAsia (sebelumnya bernama AWAIR; Air Wagon
International) adalah sebuah maskapai
penerbangan berbiaya rendah yang berbasis di Indonesia. Indonesia AirAsia adalah rekan
maskapai AirAsia, maskapai penerbangan berbiaya
rendah dari Malaysia, di Indonesia.
Indonesia
AirAsia didirikan pada September 1999 dengan nama PT. AWAIR
International. Mereka memulai penerbangan berjadwal ke beberapa kota di
Indonesia pada tahun 2000, yang kemudian diikuti pembukaan
penerbangan ke luar negeri (Singapura).
Persaingan yang ketat di sektor penerbangan di Indonesia membuat AWAIR
menghentikan operasinya sekitar setahun kemudian.
Pada tahun 2004,
AWAIR diambil alih AirAsia, dan mengalihkan orientasi pasarnya ke penerbangan
berbiaya rendah. Penerbangan pertamanya dimulai pada Desember tahun itu. Mulai
1 Desember 2005, AWAIR berganti nama menjadi PT. Indonesia AirAsia.
Strategi Harga Murah AirAsia
Kita sering
mendengar iklan di TV atau media lain bahkan jika kita lihat di internet, harga
yang ditawarkan AirAsia adalah sangat murah. Seperti harga dari Medan ke
Jakarta dengan harga Rp. 50.000,- pulang pergi atau ada penawaran dari Medan ke
Penang dengan harga Rp. 45.000,- sekali jalan. Hal ini dapat dipesan jauh-jauh
hari sebelum keberangkatan. Bisa saja pemesanan dapat dilakukan 1 bulan, 3
bulan bahkan ada juga 6 bulan sebelumnya.
Yang menjadi
pertanyaan saya, ” Kenapa AirAsia dapat melakukan penjualan tiket penerbangan
dengan harga yang sangat rendah, apakah mereka tidak rugi..?”
Ternyata hal
tersebut di lakukan AirAsia baik itu Malaysia, Indonesia, Singapura dan
Thailand sebagai berikut :
Biasanya tiket murah yang dikeluarkan AirAsia seperti
di Indonesia adalah penerbangan pada malam hari, bisa saja penerbangan jam 9.00
atau 11.00 malam. Pada saat jam ini adalah penerbangan terakhir mereka pada
hari itu, sehingga dengan ada atau tidak penumpang, mereka harus kembali ke
hangar pusat mereka. Seperti contoh : penerbangan Medan- Jakarta dengan
harga murah, karena bagaimanapun pesawat tersebut harus kembali ke
Jakarta dengan penumpang atau tidak ada penumpang sama sekali, setelah
mengantarkan penumpang ke Medan. Daripada tidak ada penumpang untuk
kembali ke Jakarta, maka mereka menarik minat konsumen dengan penawaran harga
yang murah pada malam hari. Hal ini dilakukan karena, pada malam hari jarang
penumpang berminat untuk menaiki penerbangangan pada malam hari tersebut.
Dengan adanya penawaran tiket murah tersebut, maka penumpang berminat untuk
membeli melalui internet dan dipesan beberapa bulan sebelum penerbangan,
sehingga pesawat kembali dengan memperoleh penghasilan yang walaupun tidak
besar, tetapi paling tidak dapat sedikit menutupi biaya operasional pesawat
tersebut untuk kembali ke hangar Jakarta.
Sejak
strategi low cost AirAsia dikeluarkan, banyak penerbangan terutama di
Indonesia mengikuti jejaknya dengan pengurangan ongkos tikcet penerbangan.
2. Strategi tingkat perusahaan (corporate level strategy)
merupakan serangkaian keputusan dan tindakan yang diambiloleh manajemen puncak
untuk mendapatkan keuanggulan bersaing melalui pemilihan dan pengelolaan
sejumlah bisnis/usaha (strategic business units)yang bersaing dalam beberap industry atau pasar produk.
Pertanyaan:
- Jelaskan 2 motif manajerial yang menjadi alasan
melakukan diversifikasi
Jawab:
Dalam strategi ini perusahaan berusaha: (1) menjadi
unik dalam industrinya pada berbagai dimensi yang secara umum dihargai oleh
pembeli dan (2) untuk menyediakan alternative investasi menguntungkan dengan
mengalihkan perhatian manajeman dari bisnis asli (diversifikasi konglomerasi)
dan dengan akuisisi diharapkan akan memfasilitasi ekspansi yang mulus, sinergis
dan menguntungkan (diversifikasi konsentris)
- Alasan melakukan startegi diversifikasi untuk
meningkatkan daya saing strategik perusahaan
Jawab:
Ekspansi
Dalam Diversifikasi
Pendahuluan
Perusahan besar yang melakukan
diversifikasi dengan menguasai berbagai macam bisnis telah lama
menjadi perhatian banyak pihak. (Gold & Luchs, 1993). Pendapat sinikal terhadap
diversifikasi didasari pada anggapan bahwa perusahaan yang beranjak dari satu type
aktivitas ke multi-aktivitas adalah tidak baik, khususnya jika dikaitkan dengan
proses menjadi
bisnis besar. Tidak disukai karena kecenderungan menjadi sangat powerful, dan dalam hal
tertentu melakukan subsidi silang antar unit bisnis untuk mendesak pesaing keluar dari
industri. Perusahaan yang melakukan diversifikasi dikatakan cenderung anti kompetisi.
Selain anti-kompetisi, perusahaan diversifikasi juga tidak menambah nilai bagi bisnis utama
(Porter, 1987)
Diversifikasi sebagai salah satu
alternatif strategi korporasi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga
jenis: konsentrik, konglomerate, dan horisontal (David, 1997). Ketiga jenis diversifikasi
tersebut termasuk dalam kelompok alternatif strategi dalam membangun Grand
Strategy, yang dimaksudkan untuk memberi arah dan landasan bagi upaya koordinasi
dan pencapaian sasaran jangka panjang (Pearce & Robinson, 2003). Dari pendekatan
lain (Hill & Jones, 1998), diversifikasi dapat pula dibedakan ke dalam dua type:
terkait (related diversification) dan tak terkait (unrelated diversification).
Keterkaitan mengacu pada
hubungannya dengan bisnis utama yang sedang digeluti, atau beberapa bisnis yang
membentuk rantai nilai (value chain) dalam suatu kelompok usaha (Nathanson &
Casanno, 1982 dalam Besanko et all, 1996).
Beberapa persoalan krusial dalam
diversifikasi antara lain kapan sebaiknya perusahaan melakukan
diversifikasi, bagaimana manajer menciptakan value melalui diversifikasi, apa saja pilihan
bisnis yang dapat diambil, dan bagaimana strategi untuk memasuki bisnis baru dalam
konteks diversifikasi.
Alasan Diversifikasi
Sebagian besar perusahaan
mempertimbangkan untuk melakukan diversifikasi ketika menghasilkan
sumber daya keuangan yang melebihi (in excess) dari jumlah yang dibutuhkan
untuk mempertahankan keunggulan daya saing (competitive advantage) bisnis utamanya
(Penrose, 1959). Penrose menunjuk dua alasan diversifikasi, internal dan
eksternal yang merupakan
dorongan (inducement) bagi pertumbuhan. External inducement merupakan dorongan dari yang
memberi peluang bagi dibukanya bisnis baru., seperti munculnya
Internet membuka peluang bagi penerbit koran cetak untuk membua bisnis layanan koran online. Dalam hal lain dorongan luar dapat pula dalam
bentuk ancaman yang kemudian ditanggapi dengan membentuk
usaha baru. Contoh klasik fenomena ini ketika perusahaan
operator telekomunikasi ramai – ramai memasuki bisnis layanan Voice Over IP (VoIP) ketika menyadari bahwa pendapatan mereka cenderung
turun setelah munculnya layanan VoIP yang lebih efisien
dibandingkan dengan teknologi sirkit switch. Internal
inducement, di lain pihak, adalah kondisi di dalam perusahaan yang memberi
sinyal untuk diversifikasi disebabkan oleh kesadaran bahwa
perusahaan tidak lagi mampu melayani pasar yang sedang
digelutinya, atau keinginan untuk mendaya – gunakan resource
base yang ada.
Pada perkembangan lanjut,
alasan diversifikasi berkisar dari upaya tradisional untuk peningkatan efisiensi
seperti eksploitasi lingkup ekonomis (economic of scope), dan mendisiplinkan manajer yang kinerjanya jelek, hingga yang didasari
kebutuhan untuk mengatasi munculnya masalah – masalah
baru seperti penyalah-gunaan kewenangan oleh manajer
puncak (Besanko et all, 1996). Diversifikasi yang dimaksudkan untuk mencapai
skala ekonomis maupun lingkup ekonomis dilakukan dalam dua cara:
menjual produk sejenis (similar products) atau menjual
kepada pasar yang sama (similar market). Perusahaan
dengan tingkat keaneka-ragaman produk dan pasar yang rendah memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menyebarkan kemampuannya dan
mengeksploitasi lingkup ekonomis dibandingkan dengan
perusahaan yang tingkat keaneka-ragaman produk dan
pasarnya tinggi.
Selain alasan untuk
memperoleh economies of scope, ada tiga alasan lain untuk diversifkasi: sinergi
keuangan (financial synergies), economizing on transaction costs, dan memenuhi objektif manajerial. Sinergi keuangan dilandasi pada
pemikiran bahwa untuk mencapai sukses jangka panjang,
suatu perusahaan yang sedang tumbuh memerlukan portofolio
bisnis yang menjamin kecukupan dan kestabilan arus kas agar dapat mendanai
semua aktivitas perusahaan. Strategi portofolio memungkinkan
perusahaan induk memanfaatkan profit yang diperoleh suatu
unit bisnis untuk mensubsidi unit bisnis lainnya.
Namun demikian strategi semacam ini
tidak menciptakan nilai tambah kepada pemilik perusahaan
(share holders). Jika demikian, pemilik perusahaan dapat melakukan diversifikasi
sendiri tanpa keterlibatan manajer perusahaan
Meskipun economies of scope sebagian
besar menjadi alasan utama diversifikasi, permasalahan
biaya transaksi (transaction costs) juga relevan disebut sebagai alasan lain bila
diversifikasi dilakukan melalui merger dan akuisisi (Teece, 1982). Perusahaan multiproduk
merupakan pilihan efisien ketika koordinasi di antara perusahaan yang beroperasi
secara independen sulit dilakukan oleh adanya permasalahan biaya transaksi dan
persoalan – persoalan lain yang tersembunyi. Persoalan biaya transaksi muncul
mana kala proses
produksi melibatkan sejumlah aset khusus seperti Sumber Daya Manusia (SDM),
Standard Operating Procedures (SOP), dan lainnya yang sifatnya proprietary.
Alasan manajerial untuk melakukan
diversifikasi berorientasi pada kepentingan untuk menjaga dan
memperluas posisi eksekutif dalam membuat keputusan dari pada motif peningkatan
efisiensi atau menambah kekayaan pemegang saham. Dalam hal seperti ini, diversifikasi
efisien untuk manajer, tetapi tidak efisien untuk pemegang saham. Untuk mengurangi
resiko kehilangan pekerjaan manajer terpaksa harus mengurangi resiko berkinerja
buruk, salah satu caranya adalah melalui akuisisi tak terkait. Namun demikian masih ada
sisi positif yang didapat dari motif manajer dalam melakukan diversifikasi. Diversifikasi
tak terkait yang dihasilkan dari keputusan manajer dapat meningkatkan insentif
dengan mengurangi biaya motivasi manajer dalam skema pay-for-performance (Debra Aron,
1988 dalam Besanko et all, 1996). Prahalad & Bettis (1986) mengajukan argumen,
lingkup ekonomi dapat dicapai melalui penyebaran ketrampilan manajemen puncak yang
tergolong langka ke dalam bisnis lain yang tidak terkait dengan bisnis utama.
Menciptakan Value Melalui Diversifikasi
Majalah Fortune
melaporkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 33 hingga 50% akuisisi berakhir dengan divestasi (Dess,
Lumpkim, & Taylor, 2004). Hal ini mengindikasikan bahwa peluang sukses strategi diversifikasi hampir sama
dengan resiko kegagalannya.
Pertanyaannya, mengapa ada diversifikasi yang sukses namun mengapa ada pula yang gagal? Jawaban
kunci atas pertanyaan ini adalah sinergi. Menciptakan value bagi shareholder saja tidak cukup. Sinergi antara bisnis utama dan
bisnis baru hasil diversifikasi baik yang terkait
(related) maupun tak terkait (unrelated) diperlukan guna memastikan
tercapainya value yang maksimum dari langkah diversifikasi yang diambil.
Bentuk sinergi diwujudkan dalam hubungan horisontal atau
vertikal. Hubungan horisontal berupa penggunaan bersama
oleh beberapa unit bisnis atas sumber daya tak berwujud (intangible
resources) seperti kompetensi inti dan sumber daya berwujud seperti fasilitas
produksi, saluran distribusi, dan lain sebagainya. Adapun
hubungan vertikal merupakan penciptaan value yang
diturunkan dari induk perusahaan.
Strategi
Diversifikasi
Karakteristik
diversifikasi ditentukan dari keterkaitan dengan bisnis utama yang menjadi
kompetensi inti (Barney, 2001). Dalam menjalankan strategi diversifikasi,
perusahaan dapat memilih tiga alternatif: diversifikasi terbatas (limited
diversification), diversifikasi terkait (related diversification), atau
diversifikasi tak terkait (unrelated diversification). Ada kesamaan dan
perbedaan antara argumen Barney dan David. Dilihat dari esensinya konsentrik
dalam David sama dengan diversifikasi terkait dalam Barney. Demikian halnya,
konglomerat dapat disamakan dengan diversifikasi tak terkait. Sementara
pengertian diversifikasi terbatas tidak persis sama dengan diversifikasi
horisontal. Diversifikasi terbatas terjadi ketika
Mengacu
David, konsentrik merupakan penambahan portofolio bisnis baru yang masih
terkait dengan bisnis utama, sebagai contoh Kelompok Usaha Kompas masuk ke
bisnis penerbitan (Elexmedia Komputindo), toko buku (Gramedia) dan penyiaran
(Radio Sonora dan TV7). Konglomerat, menambah bisnis baru yang tidak terkait
dengan bisnis utama, sebagai contoh, Kelompok Usaha Kompas masuk ke bisnis
Hotel (Santika) atau ritel (Grasera). Sedangkan diversifikasi horisontal
dilakukan dalam wujud menambah bisnis baru yang tidak terkait dengan produk
jasa bisnis utama, yang ditawarkan kepada pelanggan bisnis utama. Contoh
horisontal, Kelompok Usaha Kompas membuka bisnis jasa konsultansi perjalanan
(travel biro) yang khusus ditujukan bagi pelanggan Koran dan Majalah Kelompok
Kompas – Gramedia.
Tentang AJB
Bumiputera
Bumiputera
berdiri atas prakarsa seorang guru sederhana bernama M. Ng. Dwidjosewojo –
Sekretaris Persatuan Guru-guru Hindia Belanda (PGHB) sekaligus Sekretaris I
Pengurus Besar Budi Utomo. Dwidjosewojo menggagas pendirian perusahaan asuransi
karena didorong oleh keprihatinan mendalam terhadap nasib para guru bumiputera
(pribumi). Ia mencetuskan gagasannya pertama kali di Kongres Budi Utomo, tahun
1910. Dan kemudian terealisasi menjadi badan usaha – sebagai salah satu
keputusan Kongres pertama PGHB di Magelang, 12 Februari 1912
(http://www.bumiputera.com).
Tidak
seperti perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) – yang kepemilikannya
hanya oleh pemodal tertentu; sejak awal pendiriannya Bumiputera sudah menganut
sistem kepemilikan dan kepenguasaan yang unik, yakni bentuk badan usaha
“mutual” atau “usaha bersama”. Semua pemegang polis adalah pemilik perusahaan –
yang mempercayakan wakil-wakil mereka di Badan Perwakilan Anggota (BPA) untuk
mengawasi jalannya perusahaan. Asas mutualisme ini, yang kemudian dipadukan
dengan idealisme dan profesionalisme pengelolanya, merupakan kekuatan utama
Bumiputera hingga hari ini.
Hingga
semester pertama 2005 Bumiputera mengkaryakan sekitar 18.000 pekerja,
melindungi lebih dari 9.7 juta jiwa rakyat Indonesia, dengan jaringan kantor
sebanyak 576 di seluruh pelosok Indonesia; tengah berada di tengah capaian baru
industri asuransi Indonesia. Sejumlah perusahaan asing menyerbu dan masuk
menggarap pasar domestik.
FALSAFAH
Sebagai
perusahaan perjuangan, Bumiputera memiliki falsafah sebagai berikut :
•
Idealisme,
Senantiasa memelihara nilai-nilai kejuangan dalam mengangkat
kemartabatan
anak bangsa sesuai sejarah pendirian Bumiputera sebagai perusahaan
perjuangan.
•
Kebersamaan,
mengedepankan sistem kebersamaan dalam pengelolaan
perusahaan
dengan memberdayakan potensi komunitas Bumiputera dari, oleh dan
untuk
komunitas Bumiputera sebagai manifestasi perusahaan rakyat.
•
Profesionalisme,
memiliki komitmen dalam pengelolaan perusahaan dengan
mengedepankan
tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan
senantiasa
berusaha menyesuaikan diri terhadap tuntutan perubahan lingkungan.
VISI
“Bumiputera
ingin menjadi asuransinya bangsa Indonesia”.
MISI
Menjadikan
Bumiputera senantiasa berada di benak dan di hati masyarakat Indonesia,
dengan:
Memelihara
keberadaan Bumiputera sebagai perusahaan perjuangan bangsa
Indonesia.
Mengembangkan
korporasi dan kooperasi yang menerapkan prinsip dasar gotong-
royong.
Menciptakan
berbagai produk dan layanan yang memberikan manfaat optimal bagi
komunitas
Bumiputera.
Mewujudkan
perusahaan yang berhasil baik secara ekonomi dan sosial.
Analisis
Diversifikasi Kelompok Usaha Bumiputera
Kesejarahan
dan Alasan Diversifikasi
Mardi Mulyo
dan Redball, diterima sebagai anak perusahaan karena faktor kesejarahan dengan
keluarga pendiri dan direksi. Bumida, didirikan untuk menambah lini bisnis
melayani asuransi kerugian. Bank Bumiputera, didirikan menyambut pakto 88, dan
meniru asuransi jiwa di Jepang dan Swiss. Wisma Bumiputera, Informatik OASE,
Bumiputera Multimedia, Mitrasarana, dan Hotel Bumi Wiyata pada awalnya
didirikan untuk melayani kebutuhan internal. Bumiputera-BOT Finance dan
Bapindo-Bumi Sekuritas didirikan sebagai strategi aliansi penyaluran excessive
financial. AJJHI merupakan aliansi dengan JH of USA untuk melayani asuransi
kumpulan (group / corporate).
Kinerja
Kelompok Usaha Bumiputera
Perusahaan
induk selalu untung. Sebagian besar unit bisnis yang tidak terkait, tidak
menyumbang keuntungan, ketergantungan kepada induk besar, namun tetap dipertahankan
karena interest manajer. Unit bisnis terkait menghasilkan laba, Bank Bumiputera
dan Bumida sudah go publik.
Kontribusi
Unit Bisnis Dalam Rantai Nilai
Unit bisnis
tidak terkait dianggap sebagai supporting elements sebagaimana konsep rantai
nilai yang dikembangkan Porter. Unit bisnis terkait, menghasilkan sinergi
(horisontal dan vertikal).
Simpulan dan
Saran
Simpulan
Keputusan
melakukan diversifikasi di Kelompok Usaha Bumiputera lebih banyak dipengaruhi
oleh konteks kesejarahan, kelebihan likuiditas, motivasi manajer untuk
menciptakan jabatan, dan membangun sinergi. Ketidak – mampuan unit - unit
bisnis tak terkait secara konsisten menghasilkan laba dipengaruhi oleh faktor
ketergantungan mereka kepada induk, dan rendahnya enterpreneurship para manajer.
Strategi diversifikasi KU Bumiputera mendekati kebenaran pernyataan Porter.
SaranDalam
jangka panjang beberapa unit bisnis tak terkait akan terus membebani induk.
Keputusan melepas (spin off) unit yang terus merugi perlu dipertimbangkan.
Penambahan unit bisnis baru, jika diinginkan, sebaiknya yang terkait dengan
bisnis utama, dengan memperhatikan resource base dan core competency yang
dimiliki, serta mitra sinergi yang memiliki corporate value yang bersesuaian.
Era diversifikasi bermotifkan perluasan jabatan sebaiknya diakhiri.
- Gambrkan
dalam bentuk diagram ringkasan
model yang menjelaskan hubungan antara kinerja perushaan anda
dengan strategi diversifikasi
Jawaban: di Ppt Jawaban manstra
- Diagram alasan mengakuisisi perusahaan lain
Mengapa IBM mengakuisisi MRO
Baru-baru
ini, IBM mengumumkan bahwa akan $ 740.000.000 dalam perolehan tunai sebesar MRO
Software, Inc (penyedia terkenal konsultasi dan perangkat lunak manajemen aset)
untuk terus meningkatkan divisi perangkat lunak - tingkat tertinggi bisnis untuk
memenangkan persaingan pasar. IBM mengatakan laba bersih per saham akan $ 25,80
(premi sebesar 19%) setuju untuk membeli saham MRO, mengharapkan kesepakatan
untuk menunggu sampai kuartal keempat tahun ini untuk menyelesaikan.
Bahkan, MRO dengan asal IBM dalam. Sejak tahun 1996, dan IBM bekerja sama bersama-sama untuk manufaktur, minyak dan gas, energi dan utilitas, industri, pendidikan tinggi dan solusi transportasi selama lebih dari 40 pelanggan. Pada tahun 2002, kedua perusahaan mengumumkan sebuah aliansi strategis yang berfokus pada energi dan sektor publik, untuk menyediakan pelanggan dengan perangkat keras, perangkat lunak dan layanan, termasuk aset manajemen perusahaan solusi lengkap yang membantu pelanggan memperoleh pendapatan ekuitas investasi yang lebih besar , kedua perusahaan bergabung dalam pemasaran global dan penjualan untuk solusi manajemen perusahaan aset, telah mencapai hasil yang sangat baik. Lalu, empat tahun kemudian, IMB Mengapa MRO membeli, daripada terus dan MRO di tingkat strategis, Uni kerjasama?
Ada dua alasan. Pertama, adalah untuk memberikan solusi yang lebih lengkap dan memperhatikan. Setelah akuisisi MRO, IBM akan menerima aset profesional MRO's suite manajemen (MXES) - Maximo. Asset Management Suite dibangun pada platform integrasi teknologi portofolio produk, independen dari masing-masing produk dapat diterapkan, atau pelaksanaan keseluruhan. Tapi MXES MRO termasuk perusahaan manajemen aset yang kuat (titik beratnya) dan manajemen layanan TI (ITSM) solusi, yang meliputi manajemen aset TI (Itam), dan fitur kepatuhan penuh dengan IT Infrastructure Library (ITIL) penerapan terbaik untuk layanan Taiwan. Melalui akuisisi tersebut, para mitra saluran penjualan dua perusahaan melalui produk MRO IBM penjualan, dapat memperluas TI konsultasi manajemen aset dan penjualan.
Kedua, titik beratnya air uji pasar perangkat lunak. Saat ini, aset industri manajemen tradisional, meningkatnya permintaan, terutama dalam pengelolaan aset perusahaan besar kebutuhan menjadi jelas. Sebagai penyedia terkemuka peralatan pabrik manajemen MRO, fasilitas, IT, aset perangkat lunak dan jasa perangkat lunak dan perusahaan konsultan, pelanggan tidak hanya Inggris BP, China National Offshore Oil (CNOOC) seperti pengguna bisnis besar, tetapi juga U. S. Departemen Pertahanan, U. S. Federal Administrasi Penerbangan dan Antariksa (NASA), para U. S. Treasury dan departemen pemerintah lainnya yang besar dan penting. IBM melalui akuisisi MRO, dapat memberikan jasa konsultasi independen titik beratnya solusi ke pasar titik beratnya saat ini. Terhadap IBM, dalam bisnis, adalah pelengkap pertama usaha penurunan pendapatan asli total situasi memang hal yang baik.
Bahkan, MRO dengan asal IBM dalam. Sejak tahun 1996, dan IBM bekerja sama bersama-sama untuk manufaktur, minyak dan gas, energi dan utilitas, industri, pendidikan tinggi dan solusi transportasi selama lebih dari 40 pelanggan. Pada tahun 2002, kedua perusahaan mengumumkan sebuah aliansi strategis yang berfokus pada energi dan sektor publik, untuk menyediakan pelanggan dengan perangkat keras, perangkat lunak dan layanan, termasuk aset manajemen perusahaan solusi lengkap yang membantu pelanggan memperoleh pendapatan ekuitas investasi yang lebih besar , kedua perusahaan bergabung dalam pemasaran global dan penjualan untuk solusi manajemen perusahaan aset, telah mencapai hasil yang sangat baik. Lalu, empat tahun kemudian, IMB Mengapa MRO membeli, daripada terus dan MRO di tingkat strategis, Uni kerjasama?
Ada dua alasan. Pertama, adalah untuk memberikan solusi yang lebih lengkap dan memperhatikan. Setelah akuisisi MRO, IBM akan menerima aset profesional MRO's suite manajemen (MXES) - Maximo. Asset Management Suite dibangun pada platform integrasi teknologi portofolio produk, independen dari masing-masing produk dapat diterapkan, atau pelaksanaan keseluruhan. Tapi MXES MRO termasuk perusahaan manajemen aset yang kuat (titik beratnya) dan manajemen layanan TI (ITSM) solusi, yang meliputi manajemen aset TI (Itam), dan fitur kepatuhan penuh dengan IT Infrastructure Library (ITIL) penerapan terbaik untuk layanan Taiwan. Melalui akuisisi tersebut, para mitra saluran penjualan dua perusahaan melalui produk MRO IBM penjualan, dapat memperluas TI konsultasi manajemen aset dan penjualan.
Kedua, titik beratnya air uji pasar perangkat lunak. Saat ini, aset industri manajemen tradisional, meningkatnya permintaan, terutama dalam pengelolaan aset perusahaan besar kebutuhan menjadi jelas. Sebagai penyedia terkemuka peralatan pabrik manajemen MRO, fasilitas, IT, aset perangkat lunak dan jasa perangkat lunak dan perusahaan konsultan, pelanggan tidak hanya Inggris BP, China National Offshore Oil (CNOOC) seperti pengguna bisnis besar, tetapi juga U. S. Departemen Pertahanan, U. S. Federal Administrasi Penerbangan dan Antariksa (NASA), para U. S. Treasury dan departemen pemerintah lainnya yang besar dan penting. IBM melalui akuisisi MRO, dapat memberikan jasa konsultasi independen titik beratnya solusi ke pasar titik beratnya saat ini. Terhadap IBM, dalam bisnis, adalah pelengkap pertama usaha penurunan pendapatan asli total situasi memang hal yang baik.
- Tiga startegi perusahaan jika melakukan
restrukturisasi bisnis
Suatu
Organisasi/Perusahaan agar tetap eksis dan selalu mengikuti perkembangan
zaman(modern) membutuhkan adanya restrukturisasi organisasi.Sebelum perusahaan
melakukan restrukturisasi organisasi terlebih dahulu harus melakukan analisa
daya saing perusahaan dalam industri. Analisa ini mempunyai tujuan untuk
mengetahui daya saing (competitive advantage) perusahaan relatif dalam industry
serta menetukan langkah strategis berdasarkan keunggulan strategis yang
dimiliki oleh perusahaan.Faktor-faktor yang menjadi dasar pertimbangan dalam
analisa ini adalah faktor-faktor keunggulan strategis yaitu :
a.Pangsapasar
b.Biayaperunit
c.Jenisdanjumlahitem
d.Reputasiperusahaandancitraproduk
eKapasitasproduksi
f.Efisiensi
g.ProfitMargin
h.Pelayanan
i.WaktuPengiriman
j.Kualitasproduk
Pengukuran daya saing perusahaan dilakukan dengan cara yang sama yaitu menentukan rating dari masing-masing elemen terdahulu, kemudian dilakukan pembobotan dan selanjutnya ditentukan nilai dari masing-masing elemen tersebut. Rating dilakukan dengan cara melakukan perbandingan antara perusahaan dengan para pesaingnya. Skala yang digunakan dalam menentukan rating, digunakan kategori sebagai berikut:
b.Biayaperunit
c.Jenisdanjumlahitem
d.Reputasiperusahaandancitraproduk
eKapasitasproduksi
f.Efisiensi
g.ProfitMargin
h.Pelayanan
i.WaktuPengiriman
j.Kualitasproduk
Pengukuran daya saing perusahaan dilakukan dengan cara yang sama yaitu menentukan rating dari masing-masing elemen terdahulu, kemudian dilakukan pembobotan dan selanjutnya ditentukan nilai dari masing-masing elemen tersebut. Rating dilakukan dengan cara melakukan perbandingan antara perusahaan dengan para pesaingnya. Skala yang digunakan dalam menentukan rating, digunakan kategori sebagai berikut:
Rating1Kurangsekali
Rating2Kurang
Rating3Netral
Rating4Kuat
Rating5Kuatsekali
Setelah
kita mengetahui posisi daya saing perusahaan maka dilakukanlah restruturisasi
organisasi berdasarkan peta posisi strategis perusahaan dan industri dimana
perusahaan tumbuh.Hal ini dilakukan karena ada bagian-bagian (unit-unit)
tertentu yang pola kerjanya menjadi tidak relevan, karena tuntutan lingkungan
yang sangat dinamis, telah berkembang menjadi lebih kompleks (menjadi seperti
organisasi tersendiri) sehingga strategi koordinasinya perlu dipikirkan dari
yang bersifat proses menjadi output (lebih terdesentralisasi).Disamping itu ada
bagian yang kurang dinamis sehingga membutuhkan restrukturisasi
kerja,menyangkut perbaikan metode atau system kerja,konsep-konsep baru yang
dapat menciptakan pekerjaan yang lebih menantang dan meningkatkan kualitas
kehidupan kerja.Restrukturisasi Organisasi dilakukan untuk meminimalisasiterjadinya
resiko akibat adanya persaingan dan perubahan selera konsumen seiring dengan
perkembangan zaman dimana resiko-resiko yang diminimalkan meliputi :
1. Technologi Risk, yakni resiko yang ditimbulkan dengan adanya perkembangan dan kemajuan teknologi.
2.
People Risk, yakni adanya SDM yang tidak berkualifaid dan tidak sesuai dengan
tuntutan zaman,dan kelangkaan SDM ekspert dan kualifaid yang menyebabkan
terjadinya pembajakanSDM.
3.
Organizational Risk, yakni terjadinya Overload/kemampuan organisasi tidak
sesuai kapasitasnya
4. Tools Risk, yakni pengembangan tools yang tidak bisa diintegrasikan,tidak dikuasai pengembangatautidakmemenuhikebutuhan
5. Requirement Risk, yakni Adanya informasi yang tidak lengkap,kurang detailnya proses bisnis dan perubahan selera yang begitu cepat.
4. Tools Risk, yakni pengembangan tools yang tidak bisa diintegrasikan,tidak dikuasai pengembangatautidakmemenuhikebutuhan
5. Requirement Risk, yakni Adanya informasi yang tidak lengkap,kurang detailnya proses bisnis dan perubahan selera yang begitu cepat.
6.
Estimate Risk, yakni adanya over budget,akibat kesalahan estimasi,berkaitan
dengan resource,dan asumsi pendapatan yang keliru dalam penetapan anggaran.
Restrukturisasi
Organisasi,biasanya dilakukan dengan pemisahan fungsi dan tanggung jawab yang
jelas dan tegas sebagai upaya mengurangi jalur birokrasi (delayering). Dalam
pelaksanaan program delayering tersebut telah disinergikan dengan penggalian
peta potensi personil, dan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. PELIHARA & OPTIMALKAN (Butuh Ensuring
results).Ini diberikan kepada karyawan yang memiliki motivasi dan potensi yang
tinggi
2. Berikan Training Needs Karyawan Butuh
(Envisioning & Enabling).Ini diberikan kepada karyawan yang memiliki
motivasi yang tinggi tetapi potensi rendah
3. Beri kesempatan mungkin hubu-ngan
interpersonal kurang harmonis. ( Butuh Energizing dan Empowering,biasanya dalam
bentuk insentif dan aktualisasi diri ).Ini diberikan kepada karyawan yang
memiliki potensi yang tinggi tetapi motivasinya rendah.
4. Dead Woods & Trouble Makers,Push them out of organization.Ini diberikan kepada karyawan yang potensi dan motivasinya rendah
4. Dead Woods & Trouble Makers,Push them out of organization.Ini diberikan kepada karyawan yang potensi dan motivasinya rendah
Ada beberapa hipotesis tentang usia dan
besaran organisasi terhadap strukturnya
1. Semakin tua organisasi maka semakin terformalisasi perilakunya.
1. Semakin tua organisasi maka semakin terformalisasi perilakunya.
2. Semakin besar organisasi maka unit-unitnya
makin terspesialisasi
3. Semakin tua organisasi semakin meningkat
jenjang hirarkinya
4. Semakin tua organisasi semakin memerlukan
koordinasi antar unit
Ada lima elemen penting yang harus dilakukan
restrukturisasi organisasi agar suatu perusahaan dapat menjadi perusahaan yang
Modern dan Bermutu.
§ Sumberdaya Manusia, dalam hal mengurangi pegawai (degrading), berorientasi pada pegawai yang pensiun, mengundurkan diri, dan meninggal dunia, diisi kembali melalui seleksi terbuka menggunakan konsep Zero Growth, peningkatan kualitas dan jalinan hubungan antar lini telah dilakukan dengan pelatihan-pelatihan yang teprogram dan outbound untuk semua pegawai tetap.
§ Sumberdaya Manusia, dalam hal mengurangi pegawai (degrading), berorientasi pada pegawai yang pensiun, mengundurkan diri, dan meninggal dunia, diisi kembali melalui seleksi terbuka menggunakan konsep Zero Growth, peningkatan kualitas dan jalinan hubungan antar lini telah dilakukan dengan pelatihan-pelatihan yang teprogram dan outbound untuk semua pegawai tetap.
§
Produksi/Proses Bisnis, Rebuild Tempat Kerja, repair Mesin/alat dan improvement
dalam proses produksi yang bermuara pada peningkatan kualitas produk.
§
Pemasaran, reorientasi manajemen pemasaran, kepedulian dan jalinan hubungan
dengan Pelanggan besar yang didasarkan pada kontrak long term dan berbasis
komunitas.
§
Financial Engineering, penataan kembali manajemen keuangan yang lebih
baik.Dengan berpatokan kepada Perencanaan keuangan dasar yakni mencari
pengendalian operasional yang lebih baik melalui pemenuhan anggaran.Pembiayaan
yang didasarkan aktivitas dan berorientasi pada margin.
§
Investasi (aliansi), investasi diimbangi sinergi sumberdaya yang dimiliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar