Nomor.1
Pada lampiran soal ini terdapat kasusu mengenai
Delemere Pottery limited (case pada chapter 15) yang dibuat pada tahun 2002 di
Inggris. Kasus ini menguraikan profil dari perusahaan yang memproduksi barang
pacah belah yang terbuat dari tembikar, hal ini mencakup pasar, strategi yang
ditempuh oleh perusahaan, manufaktur dan kombinasi produk, kinerja tahun
pertama perdagangan setelah ganti nama dan gambaran MPC proyek. Saudara
diharapkan untuk menggunakan pengetahuan dan pengalaman strategi dalam
mengelola perusahaan terutama berkaitan dengan value chain dan pengembangan
action plan dan grand strategy.
Pertanyaan :
- ISSUE-ISSUE STRATEGY :
- DALAM MEMENANGKAN PERSAINGAN UNTUK MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI DELAMERE
DI STAFFORDSHIRE, BAGAIMANA PENJABARAN STRATEGIC ACTION PLAN UNTUK
MENGHADAPI PRODUK IMPOR
- SAUDARA DIHARAPKAN MENGEVALUASI KONSEKWENSI DARI MPC PROJECT YANG
DITAWARKAN
VALUE CHAIN
Rantai nilai (value chain) adalah pola
yang digunakan oleh perusahaan unutk mengidentifikasi cara-cara yang dapat
digunakan untuk memfasilitasi implementasi dari strategi tingkat bisnis. Sebuah
rantai nilai perusahaan dibagi-bagi kedalam aktivitas primer dan pendukung.
Aktivitas primer berkaitan dengan penciptaan fisik produk, penjualan, dan
distribusanya ke para pembeli dan servis setelah penjualan. Aktivitas pendukung
menyediakan dukungan yang diperlukan bagi berlangsungnya aktivitas-aktivitas
primer. Rantai nilai menunjukkan bagaimana sebuah produk bergerak dari tahap bahan baku sampai pada
pelanggan akhir. Untuk perusahaan-perusahaan individual, gagasan mendasar dari
rantai nilai adalah untuk menambah sebanyak mungkin nilai, semurah mungkin dan
yang paling penting, untuk menangkap nilai tersebut. Dalam perekonomian yang kompetitif
secara global, penghubung yang paling
bernilai terhadap rantai tersebut cenderung terletak pada orang-orang yang
memiliki pengetahuan khususnnya tentang pelanggan. Lokus dari peluang-peluang
penciptaan nilai ini berlaku sama kuatnya pada perusahaan ritel dan jasa dengan
perusahaan manufaktur. Jadi untuk organisasi disemua sektor, efek dari
ecommerce membuat perusahaan semakin mengembangkan proses pengetahuan yang
menambah nilai untuk mengkompensasi nilai dan margin yang diambil internet dari
proses fisik.
Analisis rantai nilai adalah serangkaian aktivitas
perusahaan yang dilakukan untuk mencapai tujuan pada setiap tahap proses
produksi; setiap aktivitas menambah nilai pada produk atau jasa, yang akan
memberikan kontribusi bagi profit, dan meningkatkan posisi persaingan di
market. Rantai nilai menunjukkan aktivitas yang dilakukan oleh organisasi dan
nilai ditambahkan pada setiap aktivitas. Analisis rantai nilai merupakan salah
satu tema kunci konsep manajemen biaya strategik yang dapat digunakan untuk
melakukan analisis biaya pada aktivitas internal dan eksternal perusahaan.
Analisis rantai nilai juga memberikan kerangka untuk identifikasi dan
inventarisasi fungsi bisnis dengan mengelompokkan area fungsional ke dalam
aktivitas utama dan aktivitas pendukung.
ANALISIS RANTAI NILAI PORTER

GRAND STRATEGI
Strategi utama
(grand strategies) merupakan strategi yang lebih operasional yang
merupakan tindak lanjut dari strategi generik. Jabaran strategi generik menjadi
strategi utama dari ketiga pendekatan, yaitu Wheelen-Hunger, Fred R.David dan
Michael R. Porter adalah sbb:
1). Wheelen-Hunger
Jabaran strategi utama dari strategi
Generik versi Wheelen dan Hunger menggunakan konsep dari General Electric (GE)
adalah sbb:
|
Strategi Generik
|
Strategi Utama
|
|
Strategi Pertumbuhan (Growth Strategy)
|
a.
Strategi Pertumbuhan Konsentrasi:
-
Horizontal
-
Vertikal
b.
Strategi Pertumbuhan Diversifikasi:
-
Terpusat
-
Konglomerasi
|
|
Strategi Stabilitas (Stability Strategy)
|
a.
Strategi Istirahat (Pause Strategy) / Strategi
Terus dengan Hati-hati (Proceed with Caution Strategy)
b.
Strategi Tanpa Perubahan (No Change Staretgy)
c.
Strategi Laba (Profit Staretgy)
|
|
Strategi Penciutan (Retrenchment
Staretgy)
|
a.
Strategi Perubahan Haluan (Turnaround Strategy)
b.
Strategi Memikat Perusahaan Lain (Captive Company Strategy)
c.
Staretgi Jual / Ditutup (Sell Out / Divestment
Strategy)
d.
Strategy Pelepasan (Bankruptcy Strategy) /
Strategi Likuidasi (Liquidation Strategy)
|
2). Fred R.David
|
Strategi Generik
|
Strategi Utama
|
|
Strategi Integrasi Vertikal (Vertical
Integration Strategy)
|
-
- Strategi Integrasi ke Depan (Forward Integration
Strategy)
- Strategi Integrasi ke Belakang (Backward
Integration Strategy)
- Strategi Integrasi Horizontal (Horizontal
Integration Strategy)
|
|
Strategi Intensif
(Intensive Strategy)
|
- Strategi
Pengembangan Pasar (Market Development Strategy)
- Strategi
Pengembangan Produk (Product Development Strategy)
- Strategi
Penetrasi Pasar (Market Penetration Strategy)
|
|
Strategi Diversifikasi (Diversification
Strategy)
|
-
Strategi Diversifikasi Konsentrik (Concentric Diversification
Strategy)
- Strategi Diversifikasi Konglomerat (Conglomerate
Diversification Strategy)
- Strategi Diversifikasi Horizontal (Horizontal
Diversification Strategy)
|
|
Strategi Bertahan
(Devensive Strategy)
|
-
Strategi Usaha Patungan (Joint Venture Strategy)
-
Strategi Penciutan Biaya (Retrenchment Strategy)
-
Strategi Penciutan Usaha (Divestiture Strategy)
-
Strategi Likuidasi (Liquidation Strategy)
|
3). Michael R. Porter
Strategi
perusahaan untuk bersaing dalam suatu industri dapat berbeda-beda dalam
berbagai macam dimensi. Di antara berbagai macam dimensi itu, Porter mengajukan
tiga belas macam dimensi sebagai berikut:
(1)
Spesialisasi
Bagaimana upaya yang
dilakukan perusahaan dalam menspesialisasi produk (produk yang spesifik) dalam
lini produknya, juga pada segmen dan target pelanggannya.
(2) Identifikasi merek
Bagaimana upaya yang
telah dilakukan sehubungan dengan peningkatan kualitas merek produk atau nama
perusahaan, misalnya melalui periklanan, tenaga penjual dan lain-lain.
(3)
Dorong
versus tarik
Bagaiman upaya
meningkatkan kualitas merek produk dan/atau nama perusahaan secara langsung
pada konsumen akhir versus dukungan saluran distribusi dalam menjual produknya.
(4) Seleksi saluran
Bagaiman kualitas
pemilihan saluran distribusi dari saluran distribusi milik perusahaan sampai
pada penyalur lain.
(5) Mutu produk
Bagaiman tingkatan
mutu produk, misalnya melalui bahan baku, spesifikasi, bentuk dan lainnya.
(6) Kepeloporan
teknologis
Bagaiman tingkatan
pengupayaan untuk mencapai kepeloporan teknologis versus meniru.
(7) Integrasi vertikal
Bagaimana tingkatan
nilai tambah yang tercermin dalam tingkat integrasi ke depan dan kebelakang
yang dilakukan.
(8) Posisi biaya
Bagaimana tingkatan
pengupayaan untuk memperoleh posisi biaya rendah dalam proses produksi dan distribusi
melalui investasi dalam fasilitas dan peralatan yang memperkecil biaya.
(9) Layanan
Bagaiman tingkatan
layanan tambahan yang dilakukan perusahaan, seperti bantuan teknik, jaringan
pelayanan, pemberian kredit dan seterusnya.
(10) Kebijakan harga
Bagaimana tingkatan
posisi harga produk relatif pada pasarnya.
(11) Leverage
Bagaimana tingkatan
kemampuan financial dan operasional yang dimiliki.
(12) Hubungan dengan
perusahaan induk
Bagaimana tingkatan
kekuatan hubungan antara perusahaan induk dan perusahaan anak.
(13) Hubungan dengan
pemerintah
Merupakan tingkatan hubungan antara
perusahaan dan pemerintah sendiri atau asing. Bahwa, pemerintah sendiri dapat
memberikan regulasi maupun deregulasi pada perusahaan, demikian pula dengan
pemerintah asing di mana perusahaan bergerak.
STRATEGIC
ACTION
1. Tindakan rencana menentukan
tindakan yang diperlukan untuk mengatasi setiap masalah organisasi atas dan
untuk mencapai setiap tujuan yang terkait, yang akan menyelesaikan setiap
tindakan dan sesuai dengan apa timeline.
2. Mengembangkan-, rencana aksi tingkat atas
keseluruhan yang menggambarkan bagaimana setiap tujuan strategis akan tercapai.
3. Mengembangkan rencana aksi untuk
setiap fungsi utama dalam organisasi, misalnya, pemasaran, pengembangan,
keuangan, personalia, dan untuk masing-masing program / jasa, dll rencana ini,
secara total, harus menggambarkan bagaimana rencana aksi secara keseluruhan
akan dilaksanakan.. Dalam setiap rencana aksi, menentukan hubungan antara
rencana aksi untuk secara keseluruhan, tingkat atas rencana aksi-organisasi.
4. Pastikan setiap manajer (dan,
idealnya setiap karyawan) memiliki rencana aksi yang memberikan kontribusi
untuk keseluruhan.
Rencana ini, secara total, harus menggambarkan
bagaimana rencana aksi fungsi utama akan dilaksanakan.. Sekali lagi, menentukan
hubungan dari rencana aksi untuk secara keseluruhan, tingkat atas rencana
aksi-organisasi.
5.. Format rencana aksi tergantung
pada sifat dan kebutuhan organisasi. Rencana organisasi, setiap fungsi utama,
setiap manajer dan setiap karyawan, mungkin tentukan:
a) Tujuan (s) yang akan dicapai
b) Bagaimana setiap tujuan memberikan kontribusi secara keseluruhan tujuan strategis organisasi
c) Apa hasil spesifik (atau tujuan) banyak yang dicapai, secara keseluruhan, mencapai tujuan organisasi
d) Bagaimana hasil yang akan dicapai
e) Bila hasil akan dicapai (atau batas waktu untuk masing-masing tujuan)
a) Tujuan (s) yang akan dicapai
b) Bagaimana setiap tujuan memberikan kontribusi secara keseluruhan tujuan strategis organisasi
c) Apa hasil spesifik (atau tujuan) banyak yang dicapai, secara keseluruhan, mencapai tujuan organisasi
d) Bagaimana hasil yang akan dicapai
e) Bila hasil akan dicapai (atau batas waktu untuk masing-masing tujuan)
Mengembangkan Tujuan dan Timelines
1. Tujuan
yang spesifik, hasil yang terukur diproduksi sementara strategi pelaksanaannya.
2. Sementara
mengidentifikasi tujuan, terus bertanya "Apakah Anda yakin Anda bisa
melakukan ini?"
3. Mengintegrasikan saat itu tahun
tujuan sebagai kriteria kinerja dalam tugas "deskripsi setiap
pelaksana" dan review kinerja.
4. Ingat bahwa tujuan dan jadwal
waktu mereka hanya panduan, bukan aturan di atas batu.. Mereka bisa menyimpang
dari, tapi penyimpangan harus dipahami dan dijelaskan.
5.
Perhatikan contoh format berikut untuk rencana aksi Anda.
|
Strategic Goal Tujuan Strategis
|
Strategy Strategi
|
Objective Tujuan
|
Responsibility Tanggung jawab
|
Timeline Timeline
|
|
1. (Tujuan
# 1)
|
1.1
(strategi pertama untuk mencapai Tujuan)
|
1.1.1
(Tujuan pertama untuk mencapai sementara menerapkan Strategi )
|
(Siapa yang akan mencapai tujuan itu)
|
(Ketika pelaksana tersebut akan mencapai
tujuan itu)
|
Nomor 2. (KASUS ANALISIS LINGKUNGAN INDUSTRI
DALAM BISNIS OTOMOTIF DI SULSEL)
ANALISIS
STRUKTUR KEKUATAN PERSAINGAN: Five Forces Model (Porter, 1985)

COMPETITIVE STRATEGY dari MICHAEL E.PORTER
- Ancaman masuk pendatang baru
Ada beberapa faktor
penghambat pendatang baru untuk masuk ke dalam suatu industri yang sering
disebut hambatan masuk. Faktor-faktor hambatan masuk yang dimaksud adalah:
Ø
Skala
ekonomi
Apabila pendatang
baru berproduksi dalam skala kecil, mereka akan dipaksa berproduksi pada biaya
perunit yang tinggi, padahal perusahaan yang ada tengah berupaya pada skala
produksi yang terus diperbesar dan proses produksi yang terus menerus
diefisienkan sehingga harga per unit barang menjadi lebih rendah.
Ø
Diferensiasi
produk
Diferensiasi yang
akan menciptakan hambatan masuk ini memaksa pendatang baru mengeluarkan biaya
dan usaha yang besar untuk merebut para pelanggan yang loyal kepada perusahaan
yang ada/uatam. Usaha besar itu, misalnya melakukan pengiklanan yang gencar dan
memberi servis yang baik. Pada tahap awal, usaha-usaha ini membutuhkan biaya
yang besar dan bahkan akan menciptakan kerugian. Seringkali kondisi ini
berjalan cukup lama.
Ø
Kecukupan
modal
Jenis industri yang
memerlukan modal besar merupakan hambatan yang besar bagi pemain baru, terutama
pada jenis industri yang memerlukan biaya yang besar untuk riset dan
pengembangan serta eksplorasi.
Ø
Biaya
peralihan
Hamabatan masuk akan
tercipta dengan adanya peralihan pemasok, yaitu biaya yang harus dikeluarkan
pembeli bilamana berpindah dari produk pemasok tertentu ke produk pemasok
lainnya.
Ø
Akses
ke saluran distribusi
Jalur distribusi
sangat menentukan penyebaran produk.
Ø
Ketidakunggulan
biaya independen
Keunggulan biaya yang
dipunyai oleh perusahaan yang sudah ada sulit ditiru oleh pendatang baru.
Ø
Peraturan
pemerintah
Pemerintah biasanya
menerbitkan sejumlah aturan yang mengatur bidang-bidang tertentu.
- Persaingan sesama perusahaan dalam
industri
Menurut Porter,
tingkat persaingan itu dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:
Ø
Jumlah
kompetitor
Jumlah kompetitor
atau pesaing sudah tentu akan mempengaruhi tingkat persaingan. Kompetitor
hendaknya dilihat dari beberapa sisi, seperti jumlah, ukuran dan kekuatannya
Ø Tingkat pertumbuhan
industri
Pertumbuhan industri
yang besar biasanya menyediakan sejumlah peluang bagi perusahaan untuk tumbuh
bersama industrinya. Pertumbuhan industri yang lambat sebaiknya tidak direspons
dengan ekspansi pasar kecuali perusahaan mampu mengambil pangsa pasar pesaing.
Kondisi ini dapat menimbulkan trend penurunan harga atau terjadinya perang
harga.
Ø Karakteristik produk
Produk hendaknya
tidak sekadar menyediakan kebutuhan dasar, tetapi juga memiliki suatu pembedaan
(differentiation) atau nilai tambah.
Ø Biaya tetap yang
besar
Pada jenis industri
yang mempunyai total biaya tetap yang besar, perusahaan hendaknya beroperasi
pada skala ekonomi yang tinggi. Akibatnya adalah perusahaan kadang kala
terpaksa menjual produk di bawah biaya produksi.
Ø Kapasitas
Kapasitas selalu
berkorelasi dengan biaya produksi per unit. Produksi pada kapasitas tinggi
diperlukan untuk menjaga efesiensi biaya per unit. Penambahan fasilitas
produksi dapat dilakukan apabila perusahaan telah mampu berproduksi pada
tingkat yang maksimal.
Ø Hambatan keluar
Hambatan keluar
memaksa perusahaan untuk tidak keluar dari industri. Hambatan ini dapat brupa
aset-aset khusus ataupun kesetian manajemen
pada bisnis tersebut. Contohnya adalah idealisme dalam bisnis. Dalam
kondisi demikian, perusahaan biasanya akan berusaha bertahan dan menghindari
kerugian yang besar sambil menunggu waktu yang tepat untuk keluar.
- Ancaman dari produk pengganti
Perusahaan-perusahaan
yang berada dalam suatu industri tertentu akan bersaing pula dengan produk
pengganti. Walaupun karakteristiknya berbeda, barang substitusi dapat memberikan
fungsi atau jasa yang sama. Ancaman produk substitusi kuat bilamana konsumen
dihadapkan pada switching cost yang sedikit dan jika produk substitusi
itu mempunyai harga yang lebih murah atau kualitasnya sama, bahkan lebih tinggi
dari produk-produk suatu industri.
- Kekuatan tawar-menawar pembeli (Buyers)
Para pembeli, dengan
kekuatan yang mereka miliki, mampu mempengaruhi perusahaan untuk menurunkan
harga produk, meningkatkan mutu dan servis serta mengadu perusahaan dengan
kompetitornya. Dengan demikian, beberapa kondisi yang mungkin dihadapi
perusahaan sehungan dengan adanya kekuatan ini antara lain, adalah:
Ø
Pembeli
mampu memproduksi produk yang diperlukan
Ø
Sifat
produk tidak terdiferensiasi dan banyak pemasok
Ø
Switching
cost pemasok adalah kecil
Ø
Pembeli
mempunyai tingkat profitabilitas yang rendah, sehingga sensitif terhadap harga
dan diferensiasi servis.
Ø
Produk
perusahaan tidak terlalu penting bagi pembeli, sehingga pembeli dengan mudah
mencari substitusinya.
- Kekuatan tawar-menawar pemasok (Supplier)
Pemasok dapat
mempengaruhi industri lewat kemampuan mereka menaikkan harga atau pengurangan
kualitas produk atau servis. Pemasok menjadi kuat apabila beberapa kondisi
berikut terpenuhi:
Ø
Jumlah
pemasok sedikit
Ø
Produk/servis
yang ada adalah unik dan mampu menciptakan switching cost yang besar.
Ø
Tidak
tersedia produk substitusi
Ø
Pemasok
mampu melakukan integrasi ke depan dan mengolah produk yang dihasilkan menjadi
produk yang sama yang dihasilkan perusahaan.
Pendatang
baru (new entrants) dapat membahayakan perusahaan-perusahaan yang telah
ada. Pendatang baru menghasilkan kapasitas produksi tambahan. Kecuali
permintaan terhadap barang meningkat, tambahan kapasitas akan menekan agar
biaya bagi pembeli menjadi rendah yang mengakibatkan turunnya penjualan dan
laba bagi seluruh perusahaan dalam industri tersebut. Seringkali pendatang baru
memiliki sumber daya dalam jumlah besar dan kemauan yang kuat untuk memperoleh
pangsa pasar. Tetapi, hadirnya pesaing baru dapat mendorong
perusahaan-perusahaan yang ada menjadi lebih efektif dan efesien serta belajar
bagaimana bersaing dalam dimensi baru (misalnya saluran distribusi dengan
komputer). Seberapa besar kecendrunganperusahaan akan memasuki suatu industri
tergantung fungsi dari dua faktor-rintangan untuk masuk (barrier to entry)
dan reaksi yang diharapkan dari pelaku industri yang ada. Apabila perusahaan
menganggap untuk masuk ke dalam suatu industri adalah sulit atau apabila
perusahaan mengalami kerugian bersaing dalam memasuki suatu industri maka saat
itulah rintangan untuk masuk timbul.
JAWABAN MENGACU PENJELASAN DI ATAS:
a)
Faktor-faktor yang perlu dilakukan oleh PT HK
untuk menghambat masuknya perusahaan pendatang baru adalah:
-
Skala ekonomi dari produk yang dijual PT
HK harus terus ditingkatkan, sehingga
harga pokok produk yang dijual bisa lebih kecil dibanding produk lain.
-
Diferensiasi produk yang dilakukan selama ini
yaitu periklanan dan pelayanan kepada pelanggan harus terus ditingkatkan,
supaya loyalitas pelanggan bisa ditingkatkan (sekarang 55%)
-
Akses ke saluran distribusi, dimana PT HK
merupakan perusahaan dealer otomotif merek Toyota di Makassar dan mempunyai
cabang-cabang yang mudah diakses oleh konsumen.
b)
PT HK berada dalam lingkungan industri untuk
pasar otomotif dan dalam struktur pasar monopolistic competition, maka faktor-faktor yang harus dilakukan
perusahaan untuk meningkatkan posisi
daya saingnya terhadap perusahaan-perusahaan yang ada di SULSEL, adalah:
-
Harga jual harus kompetitif
-
Iklan harus menjangkau lapisan menengah dan
atas
-
Pelayanan purna jual
-
Sistem garansi
c)
Untuk menetralisir ancaman produk pengganti,
perusahaan harus melakukan:
-
Kualitas Produk harus dijaga
-
Harga jual untuk produk yang sama dengan
produk pengganti, jangan terlalu jauh.
d)
Kebijakan untuk menetralisir kekuatan
tawar-menawar pembeli dari pasar organisasional seperti instansi pemerintah,
perusahaan swasta dan BUMN:
-
Kualitas produk lebih tinggi
-
Harga antara pabrikan dan PT HK jangan
terlaku banyak selisih, sehingga pembeli tidak beralih ke pabrikan atau dealer
lain yang menjual Toyota Kijang.
-
Pelayanan harus lebih baik dibanding dealer
lain.
e)
Kebijakan yang perlu ditempuh dalam rangka
menetralisir dampak negatif dari instruksi Mendagri tentang batasan kepemilikan
mobil dinas bagai para aparat pemerintah (Gubernur, Bupati, Walikota dan lain)
di SULSEL:
-
Mobil dinas aparat pemerintah diusahakan
menggunakan mobil toyota kijang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar